Stuck Marriage (Season 1 & 2)

Stuck Marriage (Season 1 & 2)
Telepon



Happy reading


Saking asiknya berbincang dengan Keyra di taman tadi membuat Mama Ariana dan sikembar baru pulang sekitar pukul 5 sore hingga membuat Papa Alex dan Albian yang sudah pulang sedari menatap keempatnya tajam.


"Dari mana aja jam segini baru pulang?" tanya Papa Alex pada istri dan anak anaknya.


"Jalan jalan pa," jawab mereka jujur.


Mereka ber enam masuk ke dalam mansion karena angin sudah terlalu kencang disore ini.


"Kakak," panggil Ella.


"Ya dek ada apa?"


"Tadi kita ketemu kakak cantik lagi di taman," ceritanya dengan senang.


"Iya kak, telnyata kakak cantik itu memang sangat cantik," timpal Idan dan diangguki oleh Riel.


Al menatap ibunya yang mengangguk dan tersenyum pertanda ia juga melihat yang dimaksud kakak cantik itu.


"Sudah ceritanya nanti lagi, sekarang mandi habis itu kita makan malam," ajak Albian.


"Ini masih sole kok mau makan malam?" tanya Riel polos.


"Kalian mandinya lama jadi selesainya kalian mandi juga selesai bibi masak," ujar Albian dan diikuti oleh dua baby sister anak anak sedangkan Mama Ariana dan Papa Alex ikut berlalu menuju kamar.


"Aku rasa Al sudah pantas menjadi ayah," ujar Mama Ariana pada suaminya.


"Dia masih muda, umurnya masih 20 tahun. Biarkan dia menjadi orang dan menentukan masa depannya sendiri," jawab Papa Alex yang seakan tahu apa yang ada dipikirkan istrinya.


"Tapi aku menemukan wanita yang cocok untuk putra sulung kita itu Mas, dia orang yang nolongin Ella saat dipasar malam kemarin."


"Dia cantik, baik, dan ramah. Dan aku menyukainya Mas," ujarnya dengan senyum mengingat pertemuannya dengan Keyra tadi sore.


"Sudah jangan mengomongkan orang lain, mandi dan makan malam," suruh Papa Alex.


Cups


Mama Ariana mengecup pipi suaminya dan berlalu menuju kamar mandi.


"Istriku sangat manis," gumamnya dengan senyum.


Sedangkan di kamar sebelah, kamar si kembar mereka semua sudah selesai mandi. Walau ada drama ngambek Idan yang katanya airnya dingin.


"Ella dak mau sama bibi," rengek Ella berlari saat salah satu baby sister itu ingin memakaikannya bedak.


Ella berlari dengan keadaan polos, hingga membuat Idan dan Riel tertawa akan sikap Ella.


"Ella sayang, gak boleh gitu. Kasihan bibi," ujar Al menghentikan lari Ella yang dikejar oleh sang bibi.


Akhirnya Ella menurut apa yang dikatakan Albian untuk berhenti, gadis kecil itu mulai menurut saat bibi memakaikan bedak da ne baju untuknya.


Setelah semua selesai, keempatnya keluar dari kamar menuju ruang makan. Benar apa yang diucapkan Al tadi sore jika mandinya tiga bocah ini sana memakan waktu banyak jika dengannya.


Sampai di ruang makan ia sudah melihat Mama dan Papa nya yang sepertinya menunggu mereka.


"Anak Mama udah bersih, wangi, juga mandi sama kakak hmm?"


"Iya dong Ma, dah cantik ni," jawab Ella dengan senyum.


"Iya Ella cantik dan Kak Riel sama Kak Idan juga udah tampan."


Mereka memakan makan malamnya dengan nikmat, mansion yang dulu sepi tak berpenghuni karena Nenek dan Kakeknya sering berlibur kini mulai tergantikan dengan tawa renyah anak-anak ini.


"Rumah ini hidup Nek, semoga nenek tenang disana," batin Mama Ariana.


"Mama hari ini kita tidur di kamal Mama sama Papa ya," ujar Idan pada orang tuanya.


"Kenapa gak di kamar kalian sendiri?" tanya Papa Alex.


Bisa bisa anakonda miliknya tak bisa masuk sarang nanti malam jika sang anak-anak mereka tidur bersama.


"Mas," tegur sang Mama.


"Ya sudah boleh, Mama juga kangen mau peluk kalian," jawan Mama Ariana dengan senyum mengiyakan apa yang diminta anak anaknya.


"Holeee tidul sama Mama Papa," girang mereka.


"Riel... Idan... Ella.... Makan!!"


"Ya kak," patuh mereka.


Setelan makan malam mereka tidak langsung tidur melainkan berkumpul di ruang keluarga.


"Oh ya yank, katanya kamu tadi ketemu orang yang nolongin Ella gimana?" tanya Papa Alex yang sedang memainkan rambut istrinya.


"Oh itu, iya tadi kita bincang bincang sedikit sore tadi makanya lama sampai rumah," jawab Mama Ariana.


"Mama tahu siapa namanya?" tanya Albian pada sang ibu.


"Tahu dong, namanya..."


"Boneka El, balikin!!" garang Ella berusaha merebut boneka panda itu.


"Gak boleh, kita main monopoli baleng. Kamu mah gak asik El," ujar Idan.


"Tapi Ella dak paham main itu," tunjukkan dengan lucu.


"Sini biar kakak ajarin kamu main."


Albian mengajari Ella untuk bermain monopoli, bukan monopoli perdagangan ya.


Sedari kecil anak-anak sudah di ajari tentang permainan seperti ini dan anehnya lagi mereka langsung paham kecuali Ella yang sangat malas akan permainan ini lebih baik main boneka.


Tak terasa hari sudah malam, semua sudah masuk ke kamar masing-masing tak terkecuali Albian.


Pria itu membaringkannya tubuhnya diranjang dan tiba-tiba senyum manis Keyra terlintas di kepalanya.


"Senyumnya bikin candu," ujarnya mengambil ponselnya dan menatap nomor yang baru tadi siang ia dapatkan.


"Telepon gak ya?" gumamnya bimbang antara ingin menelepon atau tidak. Telepon aja bimbang gimana kalau vidcall?


Akhirnya Albian memutuskan untuk menelepon Keyra, ia bukan cowok yang gampang nyerah gitu aja hanya karena tak berani menelepon seorang cewek.


[Halo]


[Halo Key]


[Siapa ya?]


[Ini gue, masa gak hafal sama suara cowok paling populer dikampus?]


[Al? Maaf soalnya aku gak tahu nomor kamu]


Terdengar nada kekehan dari seberang.


[Udah tidur?]


[Belum, masih ngasih nih. Besok di kumpulin]


[Mau gue temenin nugasnya?]


[Gak usah ngerepotin, aku bisa sendiri!]


[Gak ngerepotin kok Key, mau ya gue temenin?]


[Kok kamu maksa?]


[Harus maksa biar kamu mau!]


[Kalau gak ngerepotin kamu ya silahkan aja]


[Emm ganti vidcall ya?]


Belum ada jawaban dari seberang Albian masih stay menunggu.


[Keyra]


[Hah apa?]


[Ganti vidcall ya!!]


[Terserah kamu aja]


Bagai mendapat undian berhadiah Albian langsung mengganti panggilan telepon itu menjadi panggilan Video. Al bisa melihat wajah wanita yang mengisi pikirannya kini.


Keyra yang ditatap itu malu dan mengalihkan wajahnya.


"Jangan malu gitu Key, kayak gak pernah vidcall aja?" tanya Albian yang gemas akan sikap malu malu Keyra.


"Emang gak pernah," jawab Keyra meletakkan ponselnya disana hingga ia dapat belajar dan Albian bisa puas menikmati wajah ayu wanita ini.


"Cantik banget kalau lagi fokus gini!!" batin Albian menatap wajah Keyra.


Albian tetap menemani Keyra mengerjakan tugas kampusnya dengan baringan.


"Key."


"Hmm."


"Lu masuk jurusan apa sih kok gue gak tahu?"


"Administrasi perkantoran," jawab Keyra jujur dan diangguki oleh Albian.


Keyra memang memiliki cita cita untuk menjadi sekretaris. Hal itu berawal dari ia menonton drakor yang saat itu tokoh utamanya bekerja sebagai sekretaris.


Akhirnya setelah satu jam kemudian Keyra selesai mengerjakan tugas setelah itu mematikan panggilan video itu dan bersiap untuk tidur.


Bersambung