Stuck Marriage (Season 1 & 2)

Stuck Marriage (Season 1 & 2)
Basket



Happy reading


"Pagi semua," teriak Ella yang kini berada digendongan sang kakak. Gadis cilik itu sudah cantik dengan pakaiannya apalagi bedak dipahanya yang belum merata.


"Yang pagi-pagi sudah ngapain sugar daddynya," goda sang papa.


Sontak saja Mama Ariana yang mendengar itu langsung menyikut perut suaminya hingga sang empu meringis kesakitan.


"Sakit yank, KDRT ini namanya," ujar Papa Alex mengelus perutnya.


"Ngomong itu di saring, anak anak masih kecil," ujar Mama Ariana tak suka.


"Benar kata mama, adik adik Al masih kecil ya pah. Diajari tuh yang bener," timpal Albian mendudukkan bokongnya di kursi yang biasa ia tempati.


"Iya."


"Tapi kan kakak itu sugal daddynya Ella, ya kan pah?" tanya Ella pada Papa Alex yang hanya mengangguk.


"Tuh."


"Mas..."


"Maaf sayang dianya aja yang pintarnya kelewatan," ujarnya dengan senyum tanpa dosa.


Idan dan Riel yang masih fokus dengan makannya itu tak menghiraukan percakapan diatas meja.


"Mama Riel mau disuapin," celetuk Riel tiba tiba.


"Idan juga mau," tambah Idan.


"Sini sayang," ujarnya dengan lembut. Keduanyapun duduk disebelah Mama Ariana.


"Idan di suapin sama Papa mau?" tanya Papa Alex yang melihat istrinya kesusahan untuk menyuapi dua putranya.


Akhirnya sarapan itu berlangsung dengan nikmat, tak ayal mereka sangat mendapatkan kasih sayang lebih dari keluarganya sejak kecil. Walau untuk Idan dan Riel, Ella lebih dimanjakan baginya itu wajar karena Ella adalah putri bungsu dalam keluarga ini.


"Nanti jangan lupa nonton Al ya mah pasti," ujarnya dan diangguki oleh Mama Ariana.


"Nanti kalau kerjaan Papa sudah selesai Papa akan langsung meluncur kesana," jawab Papa Alex.


"Siap."


Papa Alex sebenarnya lebih mengutamakan keluarganya daripada pekerjaan, tapi mengingat kata-kata sang istri beberapa tahun lalu membuat Papa Alex mengimbanginya.


Setelah sarapan selesai Albian pamit pada keluarganya untuk berangkat, karena turnamen dimulai pukul 9 pagi ini, jadi Al harus berangkat lebih pagi.


"Kakak Ella ikut," ucapnya dengan manja. Ella bahkan tak mau melepaskan pelukannya pada Albian.


"Nanti Ella juga bakal lihat kakak kok, jam 8 Ella sama Mama dan kakak kakak kamu bisa langsung berangkat tapi kalau sekarang belum bisa," ujarnya dengan senyum ia mengelus pipi sang adik.


"Gak mau mau sama kakak."


"Ella sayang nanti kita juga bakal lihat kakak kok nak, bahkan nanti El bisa lihat kakak main bola," ujar Mama Ariana pada putri cantiknya.


"Benel?"


"Bener dong, atau Ella mau sama Papa ke kantor. Nanti kita juga bakal lihat kakak main," ujar Papa Alex yang masih memeluk istrinya itu.


Sepertinya Ella terlihat memikirkan tawaran sang papa dan akhirnya Ella tetap ingin bersama sang kakak.


"Gini aja, Ella sama Mama dulu dan nanti malam tidur bareng kakak lagi. Atau kamu ikut kakak sekarang anda nanti malam kamu tidur di gudang?" tanya Albian.


"Gudang? No."


Albian tersenyum dan mengecup pipi ketiga adiknya. Kemudian menyalami sang ubuntu dan ayah bergantian.


"Jangan lupa datang."


"Iya, hati hati hmm."


Mama Ariana mengecup kening putranya hingga membuat Papa Alex yang masih berdiri disamping istrinya itu meradang.


"Sayang gak boleh cium cium sembarangan," ujar Papa Alex posesif.


"Cih papa cemburuan gak pantes udah tua," sindir Al.


"Kamu belum merasakan yang namanya jatuh cinta sih gitu. Coba nanti saat kamu nikah," ujarnya dengan kesal.


"Apa iya, tapi jika aku cemburu kan gak banget. Malu dong sama Keyra," batin Albian seraya membayangkan nanti dia dan Keyra.


Tak mau semakin telat, Albian langsung menaiki motornya dan berangkat menuju kampus.


"Sepertinya anak kita sedang jatuh cinta," ujar Mama Ariana yang membuat Papa Alex menatap istrinya.


"Aku rasa juga begitu."


"Sudah jangan bahas anak itu, sekarang aku butuh ciuman," pintanya dengan manja. Bahkan ia belum melepas pelukan di perut istrinya.


Cups


"Nanti kamu harus datang, aku gak mau Albian sedih karena kamu gak ada," ujarnya dengan senyum manis.


"Iya aku usahain walau sedikit telat," jawabnya dengan senyum.


Setelah berpamitan dengan istrinya, Papa Alex juga meninggalkan rumah besar itu menuju kantornya.


Diperjalanan Albian tampak berfikir bagaimana nanti ia menembak Keyra dengan romantis.


"Gimana ya?" tanyanya.


Hingga Albian sampai di kampusnya ia melihat banyak temannya sudah bersiap dengan pakaian basket kebanggaan mereka. Turnamen digelar di kampus Albian karena hanya kampus ini yang memiliki tempat basket besar.


"Ganti baju dulu bro," ujar Putra memberikan baju basket milik Albian.


Albian berlalu menuju ruang ganti dan berganti pakaian. Setelah selesai ganti baju Albian belum keluar tapi ia terlebih dulu mengirim pesan untuk Keyra.


^^^Anda^^^


^^^Jangan sampai lupa nonton.^^^


Setelah meng-nonakhtifkan ponselnya, Albian berlalu lapangan.


Yang akan menjadi lawan basket mereka datang, begitu juga penonton yang mulai berdatangan.


Setelah pemanasan beberapa menit kini kedua tim berkumpul dilapangan karena pertandingan bola basket antara Universitas Nusa Bangsa dan Universitas Harapan Bangsa akan segera dimulai.


"Aku harap kita bisa sportif ya Lele," ujar Albian menepuk punggung Leo yang tak lain adalah putra Nicola dan Luna yang kini sepantaran dengan Albian.


"Lela lele, nama gue Leo. Bukan Lele," geram Leo pada sahabatnya ini.


"Enakan Lele," ujarnya tak peduli akan kekesalan Leo.


Leo dan Al memang bersahabat hanya saja mereka jarang ketemu karena kampus mereka juga berbeda.


Bersambung