
Happy reading
"Kalian..." kaget Alex saat melihat Mami, Papi, Mama, Papa, Nicola, Claudia, dan sekretaris Vito berada di depan pintu rumah itu.
Ariana yang melihat banyak orang yang datang itu langsung mengancing kemeja suaminya dengan cepat.
"Ouhh anak-anak mami, baru selesai ehem ehem ya? Ya ampun jangan bikin mami pingin deh," serbu Mami Gloria menatap suaminya.
"Apa? Mau lagi? Nanti malam aja mih!!" Papi Arthur mengedipkan matanya genit.
"Gesrek semua besan kita pa," bisik Mama Mariana pada sang suami.
"Kayak kamu gak pernah aja ma!!" balas Papa Zain mengecup kening istrinya dengan cinta. Sedangkan dua jomblo yang ada di belakang para tetua itu hanya melingo ternyata dua padangan sultan ini punya sifat yang sangat menarik bahkan para rekan bisnis tak tahu.
"Masuk sayang, di sini gak aman," ujar Mami Gloria mendorong anak dan dan menantunya yang sedang hamil itu ke dalam rumah.
"Ishh mami, yang punya rumah belum juga ngizinin," ujar Papi Arthur yang ikut masuk.
Sekretaris Vito yang pas terakhir menutup pintu tak lupa menguncinya dan juga menutup jendela.
"Nyonya.. Tuan," salam Bi Erni yang sudah menyiapkan minuman dan kue kering yang sempat di belinya tadi pagi.
"Bi Erni," Mama Mariana memeluk pelayan pribadi mertuanya yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri ini.
"Nyonya sehat, nyonya besar dan tuan besar juga sehatkan nyonya?" tanya Bi Erni yang tak bisa menahan air matanya untuk keluar.
"Mama, sama papa alhamdulillah sehat kok bi. Bibi sendiri apa kabar?" tanya Mama Mariana melupakan segalanya.
"Alhamdulillah baik nya," jawabnya dengan senyum.
"Ehem." Dehem sang papa Zain menyadarkan dua paruh baya itu.
Mama Mariana tersenyum, sedangkan Ariana hanya menunduk disamping Alex yang menenangkan istrinya.
"Semua akan baik-baik aja," bisiknya tepar di telinga Ariana.
"Kamu mantu mami kan nak, astaga cantik banget persis kayak mami waktu muda," ujar Mami Gloria yang ada disamping Ariana. Tangan Mami Gloria menyentuh wajah ayu alami milik Ariana.
"Iya tante, maaf," lirih Ariana.
"No tante, tapi mami dan ini papi," jawab Mami Gloria.
"Iya mam i," gugup Ariana menatap mata yang notabenya adalah mertuanya.
"Ria," suara berat Papa Zain memanggil anak kesayangannya.
Ariana menatap sang papa yang duduk di samping mamanya.
"Sini nak."
Ariana menatap suaminya seakan meminta persetujuan, Alex hanya mengangguk dengan senyum. Ariana bangkit dan berjalan menuju kearah mama dan papanya.
"Maafin Ria," lirih Ariana saat ia sudah tepat di depan kedua orang tuanya.
"Gak mau peluk mama hmm?" tanya Mama Mariana merentangkan tangannya.
"Mama.." Ariana memeluk tubuh mamanya yang masih bugar di usiannya, rasa rindunya tak bisa terelakkan begitu saja. Air matanya sudah jatuh saat kembali mencium aroma khas mamanya.
"Anak mama sudah besar hmm?" tanya Mama Mariana meneliti penampilan sang putri yang berubah 190° dengan perut besar itu.
"Iya anak papa sudah besar!! Udah mau jadi ibu aja, padahal belum lama papa timang kamu, papa cium kamu. Dan sekarang anak papa sudah menjadi seorang istri dan ibu." Papa Zain mengelus rambut sang putri.
"Maafin Ria, karena kabur dari rumah. Ria hanya gak mau terkurung terus menerus di mansion sebesar itu, Ria butuh teman. Dan di luar Ariana mulai mendapat teman mah pah, Ariana juga sudah menikah," ujar Ariana lirih diakhir kalimat.
"Mama dan papa tahu sayang, kamu sudah menikah. Tapi kenapa kamu tidak pulang? Apa kamu tidak rindu pada kami?" tanya Papa Zain dan diangguki sang istri.
"Ariana kangen kalian tapi Ariana takut terkurung lagi, Ariana harus banyak musuh. Bahkan Ariana harus dijaga 24 jam oleh pengawal papa," ujar Ariana yang sudah duduk di tengah-tengah orang tuanya.
"Cucu kami boy or girl sayang?" tanya Mami Gloria yang masih menatap besan dan menantunya.
"Ria gak tahu mih, karena ria gak pernah USG jenis kelamin anak kami apa," jawab Ariana jujur.
"Laki-laki atau perempuan kita harus bahagia karena ini cucu pertama kita," ujar Papi Arthur yang memang ingin memiliki cucu.
"Benar banget, mami juga gak sabar ingin gendong cucu mami."
"Apalagi kita, ya kan sayang," timpal Papa Zain pada sang istri dan diangguki oleh Mama Mariana.
Alex yang Ariana masih sibuk dengan orang tua dan mertuanya itu hanya mengulas senyum tipisnya.
"Woy, dapet jatah banyak lu hari ini sampai leher, dada, dan perut lu penuh dengan tutul," goda Nico yang sudah berpindah tempat.
"Iya bos, dan kelihatannya muka bos lebih berseri dari sebelumnya," tambah sekretaris Vito yang tak bisa menahan untuk mrnggoda bosnya ini.
"Pakaianku mana?" tanya Alex tanpa membalas pertanyaan keduanya.
"Itu bos," Alex menoleh kearah yang ditunjuk Vito.
"Kadang aku bingun kau itu panggil aku tuan atau bos sih?" tanya Alex.
"Dua-duanya bos," jawabnya santai.
"Jawab bro, gimana rasanya ituan sama istri saat hamil tua?" tanya Nicola yang tak bisa menahan pertanyaannya. Melihat cupan* di dada Alex tadi saja sudah membuat ia mupeng, maklum Nicola pecinta se*s.
"Kalian pingin tahu rasanya?" tanya Alex jahil dan diangguki oleh keduanya.
"Makanya nikah," ujar Alex tanpa dosa.
"Alex/bos," teriak keduanya yang membuat semua orang menatap tiga orang ini.
"Kalian kenapa?" tanya Papi Arthur pada kedua manusia itu.
"Gak apa apa om/ tuan," jawab kompak keduanya. Papi Arthur hanya mengangguk dan kembali menatal
"Oh ya nak, kamu kapan mau pulang?" tanya Papi Arthur pada sang menantu.
"Rencananya kalau anak kami sudah lahir, kita bakal kembali ke kota," jawab Ariana yang mulai terbiasa dengan suasana ini.
"Yakin sayang mau lahiran di sini?" tanya Mami Gloria.
"Apa kamu gak mau lahiran di rumah sakit keluarga kita aja?" tanya Papa Zain pada putrinya.
"Aku mau anakku lahir di tempat yang sederhana. Bukan aku menyuruh anakku menjadi miskin, hanya saja aku mau anakku nanti bila besar bisa bersikap sederhana. Aku tak mau dia terlalu terbuai akan kemewahan dan kekayaan. Gak apa-apa kan?" tanya Ariana menatap semua orang yang ada di sana.
Para orang tua tersenyum dan mengangguk, mereka tak menyangkan Ariana bisa berfikir seperti itu.
"Kami sih oke-oke aja, ya kan Mih?" tanya Papi Arthur pada sang istri.
"Iya, mami juga terserah kamu aja. Gimana baiknya."
"Hmm papa setuju, ada banyak resiko untuk cucu pertama kali jika kita lengah," ujar Papa Zain yang terlalu memperhatikan keselamatan sang cucu.
"Iya, aku tak mau kejadian dulu terulang lagi," sedih Mama Mariana mengingat jika dulu Ariana yang baru berumur 4 tahun hampir saja di bunuh oleh orang yang tak di kenal. Untung ada anak laki laki yang menyelamatkannya walau harus menanggung luka yang tak bisa di sembuhkan.
"Jangan ingat masa lalu, lagi ya mah. Anak kita sudah besar dia tak selemah dulu apalagi ada Alex yang selalu menjaganya," ujar Papa Zain memeluk Mama Mariana.
"Apa yang Ria belum tahu Ma... Pa?" tanya Ariana tiba tiba.
Bersambung
Jangan lupa Like + Komen + Vote dan masukkan ke daftar favorit kalian. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏