
Happy reading
Tak terasa hari sudah mulai pagi, Keyra yang dasarnya anak rajin sudah terbangun setengah jam yang lalu tapi saat ia melihat wajah tampan pacarnya yang ada di depannya membuat Keyra terlebih dahulu mengamatinya.
"Ya Tuhan aku tak menyangka jika pria yang aku cintai dalam diam telah mengutarakan keseriusannya."
"Terima kasih sudah memberikan jodoh terbaik buatku, aku tak mau kehilangannya ya Tuhan," batinnya kembali memeluk tubuh Albian.
Tanpa tahu jika pintu kamar itu dibuka oleh Mama Ariana yang menggendong Ella yang tampak ingin bertemu Albian.
"Astaga anak itu," geramnya.
"Emang gak jauh dari papanya," batin Mama Ariana saat melihat sang putra tidur di kamar yang biasa ditempati Keyra dengan tangan memeluk erat tubuh Keyra dengan posesif.
"Al, Keyra... Bangun," teriaknya yang membuat Keyra langsung terbangun.
"Mama ini gak seperti yang Mama lihat kok," ujar Keyra mencoba melepaskan pelukannya tapi hal itu malah ditahan oleh Albian yang memeluknya erat.
"Masih pagi Key kenapa teriak? Tidur lagi yuk, peluk aku," gumam Al tanpa membuka mata.
"Ck kalian ini, cepat bangun dan mandi. Mama tunggu di bawah buat sarapan," ujar Mama Ariana membawa kembali Ella yang tampak bingung.
"Al bangun ih, mama kesini tadi. Pasti dia mikir yang enggak enggak saat kita tidur bareng," ujar Keyra membangunkan Al yang sangat pulas tertidur.
"Emm."
Albian yang pagi-pagi mendapat ceramah dari tunangannya ini. Sungguh pagi yang beda, biasanya dia akan langsung bangun dan mandi tapi pagi ini ia harus mendengarkan omel anda sang tunangan.
"Jangan ngomel-ngomel. Kamu makin cantik buat aku gemes aja," ujarnya mengecup pipi Keyra hingga membuat gadis itu melotot dibuatnya.
"Bangun dan mandi, nanti Mama sama Papa mikir yang enggak enggak lagi."
"Gak apa-apa biar cepat di nikah kan," jawab Albian santai.
"Dih."
Mereka pun mandi di kamar masing-masing, setelah selesai mandi Keyra memakai baju formalnya dengan make up tipis agar lebih cerah saja.
"Jangan cantik - cantik nanti banyak yang suka," ujarnya Al yang sudah ada dibelakang Keyra.
"Cuma bedak doang tipis lagi."
Keyra mengambil dasi yang belum terpasang itu dan memakaikan nya ke kerah sang tunangan. Hal ini kerap terjadi entah saat di kantor atau mobil.
Setelah siap mereka turun dari kamar bersama, tiba-tiba Keyra takut dan malu untuk bertemu Mama Ariana dan juga Ella yang melihat kejadian tadi pagi.
"Sakit."
"Kamu nunduk terus sih."
"Malu."
"Kenapa nak?" tanya Papa Alex.
"Tadi Mama sama Ella lihat, Kak Al sama Kakak cantik tidur bareng pah. Pelukan lagi, tapi mama langsung bawa El pergi."
Papa Alex menatap keduanya meminta penjelasan, Al yang pada dasarnya gak bisa bohong pun hanya bisa mengangguk.
"Gak bisa tidur jadi ikut Keyra aja biar bisa peluk," jawabnya tanpa filter yang membuat Keyra malu bukan main.
"Huh secepatnya kalian harus menikah, Papa gak mau kalian kelewat batas," ujar Papa Alex yang membuat keduanya terkejut tapi tentu saja Al yang paling senang
"Yah Mama rasa juga gitu, umur kalian sudah pas untuk menikah. Kalian sudah lulus kuliah juga," ujar Mama Ariana menyuapi sang putri yang masih saja manja padanya ataupun kakak-kakaknya.
"Tapi kita tak melakukan apa-apa Ma, Pa... Cuma tidur aja kok," jawab Keyra.
"Tak ada salahnya kita menikah Key, kita sudah lama pacaran dan aku juga sudah melamarmu tadi malam. Masalah kerja, kamu masih bisa jadi sekretaris aku kok."
"Key gak tahu, tapi Key juga harus rundingin ini sama Papa," ujarnya dengan pasrah.
Ia tak Apa engkau hanya saja ia takut nanti papanya akan sendiri di rumah jika ia menikah dan mengikuti suaminya.
"Aku juga akan meminta izin dengannya sayang."
Keyra mengangguk dengan senyum begitupun dengan kedua orang tuanya yang tampak bahagia.
Setelah sarapan Keyra dan Albian pamit ke kehotel, karena ini sudah pukul setengah enam. Dan meeting dimulai jam 6 pagi.
"Kenapa dari tadi kamu diam saja? Apa yang kamu pikirkan hmm?"
"Aku takut nanti Papa sendiri jika kita menikah," ujarnya dengan sendu.
"Oh jdi itu yang menganggu pikiranmu hmm? Kita bisa bagi waktu sayang. Bisa 4 hari di rumahku dan 3 hari di rumahmu atau sebaliknya. Lagipula jaraknya gak jauh sayang," ujarnya mengelus rambut sang tunangan.
"Bener ya?" tanya Keyra dengan mata berbinar. Ak mengangguk dengan senyum manisnya.
Perjalanan mereka menuju hotel dilalui dengan canda ria dari keduanya yang tak pernah habis.
Bersambung