Stuck Marriage (Season 1 & 2)

Stuck Marriage (Season 1 & 2)
Flashback part 1 (Perculikan)



Happy reading


"Apa yang Ria belum tahu Ma... Pa?" tanya Ariana tiba tiba.


Mama Ariana dan Papa Zain saling pandang, ia lupa jika sang putri tak tahu apa-apa tentang masa kecilnya.


"Anu sayang, cuma masa lalu. Gak usah dipikirin oke," ujar Mama mengelus lengan sang putri.


"Mama sama papa sembunyiin sesuatu dari Ria?" tanya Ariana lagi. Ia masuh belum puas akan jawaban mamanya.


"Tentang masa lalu kamu sayang, bukan hal yang harus di kenang," ujarnya Papa Zain.


"Cerita sama Ria tentang masa lalu itu, kenapa Ria di culik dan siapa yang selamatin Ria?" tanya Ariana pada kedua orang tuanya.


"Apa ini waktu yang tepat untuk memeberi tahu yang sebenarnya?" batin Papa Zain menatap putri kesayangannya.


"Kalau papa cerita apa kamu janji tidak akan menyalahkan diri kamu sendiri?" tanya Papa Zain.


"Papa.." tegur sang istri. Sedangkan yang lain hanya menatap interaski orang tua dan anak itu.


"Sepertinya akan ada dongeng," ujar Nicola yang masih di dengar oleh Alex.


"Ini cerita bukan dongeng, kalau kau bosan pulang saja dulu."


"Eitss aku ke sini juga mau minta maaf saam binik lu, emang lu mau kalau Ria gak percaya sama lu?" tanya Nicola.


"Enggak," ucapnya.


Mereka tak menghiraukan perdebatan dua orang ini, Mami Gloria dan Papi Arthur beserta Bi Erni pun ikut memperhatikan Ariana dan kedua orang tuanya. Sebenarnya ada apa dengan masa kecil Ariana.


Flashback on


20 tahun lalu.


"Sayang mama mau ke kamar mandi dulu ya, kamu di sini sama bibi-bibi ya. Jangan kemana-mana gak lama papa balik ke sini bawa makanan untuk kamu," ucap Mama Mariana yang sudah tak bisa menahan untuk ke kamar mandi.


"Iya mam, jangan lama-lama ya. Lia takut," jawab Ria kecil pada mamanya.


"Iya sayang, gak lama kok," ucap Mama Mariana.


Hari itu adalah hari minggu dimana Papa Zain libur dari kerjanya dan menikmati waktunya bersama anak dan istri. Papa Zain yang ingin mengambil makanan itu meninggalkan sang istri dan anak di tempat mereka berlibur. Tentu saja Papa Zain membawa baby siter dan para pengawal untuk anak dan istrinya.


"Aman bos, hanya tinggal dua pelayan dan empat bodyguard yang ada di sana," ucap seseorang menelepon seseorang.


"Bagus terus awasi bocah itu," ucap seorang laki-laki dari balik telepon.


"Baik bos."


"Bibi mama sama papa mana ya kok lama?" tanya Ria pada pengasuhnya.


"Bentar lagi sampai sini kok," jawab salah satu pelayan itu tanpa ada yang tahu jika akan ada bahaya bagi putri cantik keluarga Delta.


Bugh


Bugh


Bugh


Suara pukulan terdengar jelas ditelinga mereka. Setelah mengalahkan empat bodyguard itu seseorang membius dua pelayan itu hingga dan menculik Ariana kecil.


"Cepat masuk mobil sebelum orang orang lihat," ujar salah satu dari mereka.


Laki-laki berbadan besar dan berbaju hitam yang jumlahnya 7 orang itu masuk ke dalam mobil. Ariana yang ketakutan itu menangis.


"Mama... Papa... tolong Lia, Mama....." tangis Ariana memukul apa yang ada disekitarnya tak terkecuali kepala pria botak itu.


"Cepat, kita harus serahin bocah ini pada bos besar," perintahnya pada temannya yang sedang menyetir.


"Siap."


Mama Mariana yang baru selesai membuang hajat itu terkejut saat melihat pengawal dan pelayan sudah tumbah tak sadarkan diri itu.


"RIA," teriak Mama Mariana yang mulai panik. Wanita yang saat itu masih berusia 27 tahun itu mencari keberadaan sang putri dengan cepat.


Papa Zain yang melihat pengawal dan pelayan tumbang itu khawatir dengan keadaan anak dan istrinya.


"RIA," teriak Papa Zain, entah ini memanggil anaknya atau istrinya uthor juga bingung.


"Papa," Mariana berlari menuju suaminya setelah mencari sang putri kesegala arah.


"Mah, Ria mana mah?" tanya Papa Zain pada sang istri yang terlihat kacau itu.


"Ria hilang pa, ta-tadi saat mam-ma kembali dari kamar mandi semua sudah begini dan Ria udah gak ada," ucap Mama Ariana sedikit tersengal.


"Tenang mah, Ria pati gak kenapa-napa," ujar Papa Zain menenangkan sang istri.


"Tapi Ria pa, Ria diculik," ujarnya menangis di dalam pelukan sang suami. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika sang putri benar hilang dan tak di temukan.


Papa Zain yang mengingat di kalung sang putri dipasang GPS itu langsung cepat membuka ponselnya.


"Ayo mah," Papa Zain menarik tangan sang istri menuju mobil.


Mama Mariana masih menangis walau sudah beberapa kali ia seka, ia tak ingin membuang waktu dengan tangisan tak bergunanya.


"Ayo pa, cepat," desak Mama Mariana yang melihat GPS itu menjauh dari mobil mereka.


"Iya mah."


Hingga sampailah mereka di sebuah gedung yang tak layak pakai. Rumput liar mulai memenuhi bangunan itu. Tak menunggu lama Papa Zain dan Mama Mariana berjalan menuju tempat yang putri.


"Bentar mah," Papa Zain menghentikan langkahnya saat merasa ponselnya bergetar.


"Kau menginginkan anakmu ha?"


"Siapa kau?" tanya Papa Alex.


"Hahaha naiklah ke lantai paling atas gedung ini, kau akan menemukan anakmu di sini."


"Sepertinya aku kenal suara tadi," batin Papa Zain.


Tuttt


"Siapa pa?" tanya Mama Mariana pada sang suami.


"Gak tahu mah, tapi orang itu bilang Ria ada di lantai paking atas," jawab Papa Zain.


"Tunggu apalagi, ayo pah," Mama Mariana berlari mendahului sang suami.


Keduanya menuju tempat yang diucapkan orang dalam telepon tadi tanpa mereka sadari bahwa ada seseorang yang mengikuti mereka sejak tadi.


Sampailah mereka di lantai paling atas, dan benar saja di sana ada sang putri yang diikat dengan mulut tersumpal kain dan yang lebih kagetnya Papa Zain dan Mama Mariana melihat siapa yang duduk disamping putrinya seraya menggoyangkan gelas wine berwarna merah itu.


"Kau..."


Bersambung


Jangan lupa Like + Komen + Vote dan masukkan ke daftar favorit kalian. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊


Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏