
Happy reading
"Oh cucuku sudah besar ternyata, kau sudah menjadi ayah. Dan yah istrimu sangat cantik," goda opa Emanuel pada cucunya.
"Opa jangan memuji istriku," tegas Alex yang tak suka istrinya dipuji otang lain hanya ia yang boleh dan itu mutlak.
"Hei anak muda, dia sudah jadi cucuku sekarang," ucap Opa Emanuel.
"Tapi tetap saja, aku tidak mengizinkan siapapun memuji istriku. Termasuk papa dan papi," titahnya dengan nada tak bisa di bantah.
"Dia anak papa! Wajar-wajar saja papa memuji anak papa itu cantik, karena itu kenyataannya," ujar Papa Zain.
"Ternyata begini sifat asli seorang Alex Bara, lucu juga tak jauh beda dengan papinya," batin Papa Zain.
"Sudah-sudah, kenapa malah ribut sih? Kamu tahu sendiri istri kamu memang cantik, gak salah kalau opa dan papa kamu muji Ariana. Mami mengakui itu walau di mata papi mami yang paling cantik! Ya kan pi?" Mami Gloria menatap Papi Arthur yang mengangguk.
Yah di mata Papi Arthur cuma Mami Glorialah yang paling cantik tidak ada yang lain. Benar begitu pak?
Mereka terus mengobrol hingga tak terasa hari sudah malam, Alex lupa jika istrinya sediri di kamar ralat berdua dengan Baby.
Tak! Tak! Tak!
Suara langkah kaki yang turun dari tangga, ya dia adalah Ariana yang lapar karena ia hanya sarapan tadi di rumah Bi Erni dan tadi setelah menyusui Baby Bian ia terlelap seraya memeluk tubuh sang putra.
Tatapan mereka mengarah ke arah Ariana yang sudah cantik dengan daster kebanggaan, karena sekarang hanya dasterlah yang dapat membuatnya nyaman jika di rumah.
"Pah, itu anak kita kan?" tanya Mama Mariana.
"Iya mah, itu anak kita. Anak yang baru pulang berberapa jam yang lalu," jawab Papa Zain.
"Cucuku kenapa dengan pakaianmu nak?" tanya Oma Kiran menatap heran cucu mantunya.
"Kamu cantik," puji Oma Riska menatap cucu mantunya.
"Makasih oma."
"Kamu paling cantik," Alex memeluk tubuh istrinya. Mengabaikan semua orang yang menatap mereka.
"Malu," lirih Ariana melepas pelukan itu.
"Gak usah malu sayang, kita kita juga pernah muda, pasti Alex tak mau jauh-jauh dari kamu," ujar Opa Emanuel.
"Tuh denger kata opa," ujar Alex menatap istrinya.
"Sejak kapan kamu berpakaian seperti ini nak?" tanya Oma Kiran.
Bukannya marah atau kesal, oma Kiran bangga dengan Ariana yang tak malu memakai daster. Karena ia juga sering memakai daster jika malam hari itu semua karena suaminya yang selalu menerkamnya walau mereka sudah tua.
"Sejak keluar dari sini oma," jawab Ariana. Mereka semua mengangguk.
"Kamu mau kemana sayang? Bian dimana?" tanya Mama Mariana pada sang anak.
"Bian masih tidur mah, aku cuma mau ngambil makanan aja gak apa-apa kan?" tanya Ariana.
"Kayak dimana aja sih sayang. Ini rumah kamu, lagian ibu menyusui juga harus banyak makan kan!"
"Iya pah. Maaf ya semuanya Ria belum bisa ikut kumpul," ujar Ariana tak enak.
"Kami paham nanti kalau kami kangen sama kamu, sama Bian kan bisa ke kamar kamu," ujar Mami Gloria.
"Kenapa diusir?" tanya Ariana mengambil nampan dan meletakkan sedikit makanan di sana.
"Aku gak mau mereka lihat tubuhmu," ujar Alex memeluk Ariana dari belakang dengan posesif.
"Tubuhku juga gak nampak jelas kan aku pakai daster," ucap Ariana yang pastah akan pelukan sang suami.
"Tetap aja, kamu cuma pakai daster sebatas lutut sayang kakimu tetap bisa menjadi santapan mereka," ujar Alex mengecup leher Ariana. Di kira ikan apa ya, santapan pula.
"Terserah kamu aja deh mas, aku iya aja. Kamu masih mau di bawah atau ikut aku ke kamar?" tanya Ariana pada suaminya.
"Ikut," jawabnya.
Arian mengambil dua susu putih dan menambah nasi dan lauk yang ada dipiring. Tak lupa buah buahan segar.
"Yuk, aku gak mau baby nangis gara-gara aku gak ada saat dia bangun," ujar Ariana dan diangguki oleh Alex. Mereka melewati ruang keluarga yang tersisa Mama Mariana dan Papa Zain yang sedang berciuman dengan begitu panasnya.
"Ingat mah... pah... masih di luar. Lanjutin di kamar aja," ujar Ariana pada kedua orang tuanya yang masih kaget karenanya itu.
"Dih kamu ganggu aja sih sayang, lagi enak enaknya juga," ujar Papa Zain yang sudah menggendong sang istri menuju kamar. Terlihat Mama Mariana malu karena terpergok oleh anak dan menantunya sendiri.
"Lain kali jangan gitu ya sayang, gak sopan walaupun niat kamu mengingatkan mereka," ucap Alex dan diangguki oleh Ariana yang menyengir kuda.
"Mau di gendong juga?" tanya Alex dan diangguki malu oleh sang istri.
"Tapi aku berat mas, apalagi harus naik tangga," ujar Ariana yang tak percaya diri akan berat badannya sekarang, jika dulu ia masih iya iya saja karena masih langsing.
"Kamu masih seperti dulu kok," ucap Alex mengambil nampan itu dan menggendong tubuh Ariana.
"Kamu bawa oke."
Cups
"Hmm."
Dengan perlahan Alex melangkahkan kakinya kearah kamar yang ditunjukkan Ariana. Hingga sampailah mereka di kamar Ariana.
Ceklek
Ariana membuka pintu itu dan ia masih melihat sang putra masih terlelap di sana.
"Dia masih anteng, sekarang kamu makan aja. Biar aku yang nyuapin," ujar Alex mendudukkan sang istri di kasur empuk itu.
"Makasih buat semuanya," ucap tulus Ariana pada Alex.
"Kenapa mesti makasih? Harusnya aku yang bilang begitu, karena kamu sudah mau mengandung dan melahirkan anakku," ucap Alex mengambil nasi itu dan menyuapkannya ke Ariana.
"Kamu juga makan dong, aku gak mau makan sendiri."
Alex mengangguk, ia juga lapar sama seperti istrinya. Akhirnya mereka makan dalam satu piring yang sama dengan sedikit candaan hingga mewarnai makan mereka.
Bersambung
Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏