
Happy reading
Jam 3 pagi, Nico sudah sampai dirumah sakit kembali. Tanpa basa basi pria itu langsung pergi keruang Luna dirawat.
Ceklek.
"Aku datang," ucapnya seraya berjalan menuju ranjang Luna. Terlihat wanita itu masih memejamkan matanya.
"Kamu belum bangun juga? Kamu gak kangen mau lihat aku gitu? Kamu gak ngidam apa gitu? Ayolah Lun, bangun ya," ujarnya dengan lelah.
Nico naik menjatuhkan kepalanya disini ranjang itu dengan menggenggam tangan putih Luna. Luna uang sebenarnya sudah sadar itu mulai membuka mata dan melihat Nico dengan wajah lelahnya memejamkan matanya disamping Luna.
Tangannya terulur menyentuh wajah Nico, ada rasa senang dihatinya kala Nico sudah kembali.
"Maaf membuatmu lelah begini!" ucapnya dengan lirih.
Nico yang belum sepenuhnya tertidur itu langsung membuka matanya kala mendengar ucapan lirih itu.
"Luna."
"Kamu udah sadar?"
"Udaah tadi malam," jawabnya dengan senyum.
"Kamu lelah ya, tidur aja gih," ujar Luna pada Nico.
Nicola menggeleng, "Aku senang kamu udah sadar, sekarang gimana keadaan kamu? Ada yang sakit atau kamu butuh apa?"
"Aku gak apa-apa cuma lemes aja," jawabnya dengan lembut tak lupa senyum manisnya.
"Kata dokter kamu harus bed rest dan hari ini kita akan menikah!"
"APA!!! Kenapa sekarang? Aku belum siap!'
"Siap atau tidak itu gak pentung, pikirkan kandunganmu yang makin besar. Dan yah siapa yang akan merawatmu jika aku lari dari tanggung jawab!"
Walau ucapan terdengar kasar tapi itu ia lakukan untuk Luna yang saat ini sedang mengandung darah dagingnya.
Luna yang mendengar kata-kata itu entah kenapa merasa sesak di dadanya. Rasa panas dimatanya tak bisa ditahan akhirnya Luna menjatuhkan air matanya disertai isakan halus.
"Maaf jika aku egois tapi ini semua demi kamu dan anak kita, aku tak mau dia tak menemukan figur ayah dimasa kecilnya," ujarnya menghapus air mata Luna.
"Tapi kau tak mencintai aku, bagaimana kita menjalani kehidupan rumah tangga tanpa cinta?"
"Itu lain lagi, memang kamu sudah cinta sama aku?" tanyanya dengan sedikit godaan yang membuat Luna termakan omongannya sendiri.
"Entah."
"Aku akan berusaha mencintai kamu dan anak kita, jadi kamu juga harus belajar mencintaiku," ucapnya seraya mengelus perut Luna yang terlihat menonjol itu.
"Aku sudah mencintaimu Nic, tapi aku takut kau hanya mempermainkanku saja," batinnya menatap lekat wajah Nico.
Tak terasa hari sudah siang, Luna yang memakai kebaya sederhana itu hanya bisa diam. Hatinya campir aduk sekarang, rasa senang, tapi juga bersalah.
Ariana dan Alex juga sudah datang setelah berdebatan dirumah tadi. Membutuhkan waktu 5 jam untuk sampai ke desa.
Pernikahan sederhana yang dilaksanakan di rumah sakit itu membuat perhatian para perawat dan berberapa dokter disana.
'SAH'
Mereka semua tersenyum melihat bersatunya dua anak manusia ini. Walau dengan kondisi sedikit lemah Luna memberanikan untuk meraih punggung tangan suaminya.
Mereka memberi selamat tak terkecuali Ariana yang sudah ingin memeluk Luna itu.
Ariana yang tak tahan untuk tidak menangis itu langsung menumpahkan air matanya dipelukan Luna.
"Kenapa kamu gak bilang kalau laki-laki brjat itu perkos* kamu Lun. Kamu udah gak anggap aku sahabat kamu haa?"
Ariana menangis didekapam Luna.
"Aku hanya gak mau kamu sama Alex kepikiran, sekarang aku gak apa-apa kan!! Nico juga mau tanggung jawab, kamu gak usah ngerasa bersalah gitu."
"Huaaaa kamu gak anggap aku sahabat."
"Gak gitu Ariana sayang. Saat itu adalah hari pengantin kamu dan aku tak mau mengganggu kalian hanya karena ini," ujarnya lembut menghapus air mata sahabatnya.
"Hm."
"Awas ya Nic, sampai lu sakitin sahabat gue mati lu ditangan gue," ancam Ariana pada Nico yang hanya mengangguk paham karena ia sekuat tenaga untuk tak sakitin siapa pun. Walau ia harus meninggalkan lobang demi lobang smyang sidah menjadi makanannya sehari hari.
Baby Bian yang ada digendong sang papanya itu berontak ingin turun tapi langsung ditahan oleh Alex.
"Mau kasih selamat hmm?" tanya Ariana mengambil Bian dan meletakkannya dipaha Luna
"Paaaaa....eeeee akkk," girang Bian menggerakkan tangannya kesegala arah.
"Anak tante idah gede banget ya, senang gak tinggal di kota? Pasti seneng dong pasti," gemas Luna mengecup pipi gembul Bian.
"Aku harap kau bahagia disana Ca, relakan Nicola bersama kembaranmu," batin Alex.
Setelah semua selesai Alex dan Ariana memutuskan untuk mencari penginapan yang sesuai dengan keadaan mereka. Apalagi melihat Bian yang sudah tidur setelah menyusu jika kerumah Bi Erni itu tak mungkin karena kuncinya dibawa Bi Erni.
"Nginap dimana mas?" tanya Ariana menatap suaminya.
"Ditempat Nicola nginap sayang," jawabnya mengecup tangan Ariana.
"Cepet ya mas, aku juga mau istirahat. Apalagi Baby yang sudah kegerahan karena pakai baju ini," ujar Ariana dan diangguki oleh Alex.
Tak sampai 15 menit, mobil Alex sudah sampai dipenginapan. Alex memesan kamar untuk dua malam karena rencananya ia masih akan menginap disini. Sekalian refreshing dari pekerjaan.
Bersambung
📌Nafsu Atau Cinta (On going) Cerita Mami Gloria dan Papi Arthur
Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏