Stuck Marriage (Season 1 & 2)

Stuck Marriage (Season 1 & 2)
SEMANGAT AL



Happy reading


Masih ada waktu 20 menit untuk mereka bersiap sebelum pertandingan dimulai, Albian menatap ribuan orang yang menjadi penonton disana.


Di kursi VIP ia melihat Mamanya dan ketiga adiknya disana, ia juga melihat Om Nicola dan Tante Luna disana. Albian tak heran karena mereka bersahabat dari dulu.


"Untung anak om dan tante cowok, kalau cewek mungkin gue udah dijodohin sama anaknya," batin Albian.


Albian kemudian mencari gadis yang sudah ia anggap sebagai gadisnya itu tapi tak kunjung ketemu.


Di kursi VIP Ariana dan Luna saling berbincang hangat dengan Ella dan Riel dipangkuannya mereka.


"Gak nyangka kamu bisa memiliki anak seimut mereka," ujar Luna mengelus pipi halus Ella yang sudah merah karena sedari tadi ia elus dan cubit.


"Gak tahu juga, padahal niatnya cuma mau punya anak satu. Tapi mau gimana lagi benih bapaknya bocor saat kita begituan. Gak nyangka juga bakal ada tiga."


Luna terlihat sendu saat ini, ia juga berharap bisa memiliki anak lagi tapi takdir berkata lain. Ia sudah tak dapat memiliki anak lagi sejak kelahirannya dulu.


Nicola yang melihat tatapan sendi istrinya itu memeluk tubuh Luna dari belakang. Ariana yang menyadari ucapannya itu mulai merutuki dirinya sendiri.


"Lun maaf gue gak sengaja," ujarnya dengan wajah bersalah.


"Gak apa-apa, gue juga udah ikhlas."


"Tante Luna kenapa dak seneng? Sugal daddynya Ella mau main tuh," ujar Ella menujuk Albian dan Leo.


"Anak lu ajaib deh Ri," ujar Nicola yang masih mengelus punggung istrinya.


"Aku gak apa-apa mas," ujarnya dengan senyum.


"Anak Mas Alex juga dia yang nanam," jawabnya.


"Boleh gue bawa pulang gak nih satu?" tanya Luna mengecupi pipi Ella.


"Tante," kesal Ella.


"Hahaha maafin tante ya cantik," ujarnya dengan senyum manis semanis madu.


Ella turun dari pangkuan Luna dan berdiri didepan mereka.


"KAKAK, MANGAT."


Teriakan Ella cukup membuat para penonton menoleh kearah gadis cilik itu tak terkecuali Albian dan Leo yang ada dibawah.


"Adik lu gemesin, gue bawa pulang satu boleh?" tanya Leo yang saat ini ada ditempat Albian.


"Boleh, bawa Ariel kalau seminggu lu bisa buat dia betah sama lu gue bisa titip dia sama lu," jawabnya dengan santai.


"Ogah gue sama si es, bukannya manut dia malah ngancam nyawa gue tahu gak. Muka kek triplek gitu, gue mau si cantik."


"Untuk Ella gue gak bisa," jawabnya.


"Lagian lu masih bisa main sama adik adik gue kok tiap hari malah."


Jawab Albian yang masih mencari keberadaan Keyra diantara penonton.


"Apa dia ingkar ya, jam segini belum juga sampai. Padahal dia sudah janji," batinnya dengan


"Lu cari siapa dah?" tanyanya.


"Cewek gue," jawabnya.


"What!! Lu udah punya cewek? Kok gue gak tahu?" tanyanya kaget


"Dih emang gue siapa lu?"


Priiiitttttt


Bunyi peluit itu membuat mereka kembali berkumpul dan membentuk fotmasi basket mereka.


Sorakan dari penonton yang mendukung dua tim ini mulai bergemuruh di lapangan.


Pertandingan bola basket pun dimulai, kedua tim beradu untuk memasukkan bola dalam ring tapi tak semudah itu di lewati.


"NUSA BANGSA."


"HARAPAN BANGSA."


"AL I LOVE YOU. ... SEMANGAT NUSA BANGSA."


"SEMANGAT UUUUUUUUUU."


"NUSA BANGSA."


"HARAPAN BANGSA."


Suara itu terdengar jelas dilapangan, mereka seperti tak mau kalah satu sama lain.


Tapi sekarang pikiran Al tak bisa konsen saat tak mendapati Keyra disana. Entah kenapa ia menjadi tak semangat seperti ini.


Sedangkan disisi lain, Keyra yang masih berada di kantor polisi untuk memberi keterangan tentang pencobaan pelecehan yang untungnya tak sampai terjadi karena Al menolongnya kemarin.


"Terima kasih atas waktunya," ujar salah satu polisi.


"Iya pak sama-sama saya juga terima kasih."


Setelah mengucapkan itu Keyra berlalu keluar dari kantor polisi dengan tergesa gesa. Hari ini adalah pertandingan Albian dan ia sudah janji akan datang.


"Ya Tuhan semoga pertandingannya belum selesai," ujarnya dengan mata mengembun.


Keyra memanggil ojek untuk mempercepat waktu menuju kampusnya. Untung saja ada ojek didekat sana daripada harus berjalan kaki.


"Kenapa Universitas Nusa Bangsa ya Pak," ujar Keyra dengan tergesa gesa.


"Iya non."


Keyra naik ke atas motor itu dan memakai helmnya. Motor itu melaju dengan cepat menuju kampus yang dikatakan Keyra tadi.


Dalam hati Keyra berdo'a agar tim kampusnya tidak kalah dengan kampus sebelah. Dalam perjalanan mereka harus berhenti karena macet.


"Kenapa ya pak?" tanya Keyra menatap segerombolan orang di depan sana.


"Kayaknya kecelakaan deh Non," jawabnya.


"Duh gimana ya Pak, saya buru buru soalnya," ujar Keyra dengan gusar.


"Mungkin setengah jam lagi baru lancar non," jawabnya tukang ojek itu.


"Hah setengah jam!!"


"Kita cari jalan lain aja gimana pak?" tanya Keyra.


"Gak bisa nonton, kalaupun lewat jalan tikus makin lama nyampenya."


"Ya sudah kalau gitu saya turun sini aja ya Pak, ini uang ongkosnya terima kasih," ujar Keyra memberikan uang seratus ribu untuk pak ojek, sekaligus helm yang tadi ia pakai.


"Non kembaliannya," ujar ojek itu. Tapi Keyra sudah terlanjur berlari dan menghilang ari pandangannya.


"Semoga mbak tadi gak apa-apa."


Keyra yang merasa kampus itu sudah dekat berlari dengan sekuat tenaga, ia tak memperhatikan kakinya yang tergores karena berlari.


Akhirnya setelah beberapa menit, Keyra sampai di kampus dengan nafas terengah ia masuk kedalam kampus.


"Huh Ya Tuhan, untung belum terlambat," gumamnya.


Pertandingan masih berlangsung tapi yang membuat Keyra kaget adalah poin Universitas Nusa Bangsa ada dibawah Universitas Harapan Bangsa.


"SEMANGAT AL," teriak Keyra dari sana.


"SEMANGAT NUSA BANGSA," teriak Keyra lagi. Ia tak enak jika hanya menyemangati Albian saja.


Bersambung