
Happy reading
Sakit! Sesak! Dan rasa yang terus membuat Ariana menangis. Ia duduk di sebuah bangku di sebuah danau, gemericik air seolah tahu apa isi hati Ariana.
"ALEX BRENGSEK," teriak Ariana melempar batu yang ada di tangannya.
"Alex brengsek," lirihnya terus menangis. Mata indahnya memerah karena air mata yang terus mengalir.
"Kenapa kamu se-brengsek ini. Aku hamil, aku berharap nanti malam adalah malam terbaik karena aku akan memberitahukan kehamilanku, tapi sekarang apa yang aku dapatkan?"
"Kamu duain aku Alex, kamu jahat."
Ariana mengeluarkan apa yang ada di hatinya, kekecewaannya terhadap sang suami, hingga kemarahannya karena perselingkuhan sang suami, cih bahkan Ariana enggan menganggap Alex suaminya sekarang.
"Tenang saja nak, mama akan selalu ada buat kamu, mama akan berjuang demi kamu, demi kita. Kita lupakan papa mulai sekarang," gumamnya seraya mengelus perutnya.
Ariana adalah tipe wanita yang cengeng tapi ia berusaha tegar di depan seseorang, sisi lemahnya itu hanya ia yang tahu.
Setelah mendengar kedua wanita di lift tadi ternyata Claudia juga ingin ke lantai 17, tentu itu hanya siasat wanita ular itu Ariana yang sudah terlanjur sakit itu memutuskan untuk keluar dari perusahaan besar itu.
Ariana bangkit dari duduknya dan berjalan menelusuri jalan trotoar itu dengan mata sembab, Ariana seperti tak ada gairah hidup jika di lihat.
Ceklek
"Kontrakan ini," gumamnya tersenyum saat mengingat pertama kali ia di sini.
"Dan kebohongan ini." Ariana mengepalkan tangannya menahan marah. Senyum yang tadinya merekah kini menjadi amarah.
Ariana menelusuri kontrakan itu mulai dari ruang tamu hingga kamar tidur. Ariana membuka lemari yang ada di kamar itu dan melihat dress biru yang ia pakai dulu saat dikejar musuh keluarganya. Tanpa Ariana tahu jika musuh keluarganya sudah habis di basmi oleh anggota Alex.
"Maafin Ria yang sudah kabur dari rumah ma, pa, oma, opa."
Ia mengambil tas ransel kecilnya dan mengambil kemeja hitam Alex, mungkin ini kemauan anaknya. Sebenci-bencinya Ariana pada Alex, ia tak bisa menahan ikatan batin Alex dan anaknya.
"Kamu mau bawa kemeja papa nak?" tanya Ariana seraya mengelus perutnya.
Ariana memasukkan kemeja Alex, dan tas kecilnya ke dalam tas ransel kecilnya.
"Aku akan menjaga anak kita Lex, walau nanti kamu tak akan bisa bertemu dengannya," batin Ariana.
Ariana tetap menjalankan kewajibannya sekarang, tapi entah besok , atau lusa.
Saat membersihkan laci meja Ariana tak sengaja melihat dokumen penting perusahaan yang ada di sana.
"Kenapa aku sangat bodoh? Bahkan aku tidak tahu siapa suamiku sendiri? Aku istri yang bodoh. Saking bodohnya aku mengandung anak si brengsek itu," ucapnya dengan senyum getir ia membuka lembar demi lembar kertas itu hingga keyakinannya untuk pergi adalah hal yang tepat.
"Dia bukan orang miskin!! Dia orang yang berkuasa di negara ini," gumamnya melihat isi kertas itu.
"Berarti yang ngikuti aku selama ini adalah suruhan Alex?"
Ariana melihat isi kertas terakhir yang berisi penyewaan bodyguard di sebuah perusahaan sebanyak 10 orang.
Tak terasa hari sudah mulai siang, semua pekerjaan Ariana sudah selesai. Baju kotor Alex dan dirinya sudah bersih, makanan untuk Alex juga sudah disiapkan. Kontrakan itu tampak bersih sekarang.
Sekarang Ariana sudah tampak seperti Ariana yang pertama kali bertemu dengan Alex, ia memakai dress biru miliknya dengan rambut panjang terurai membuat Ariana nampak cantik dan lebih muda dari usianya.
"Maaf aku harus melepas apa yang kamu berikan Alex, aku terlanjur kecewa. Apa susahnya kamu jujur kenapa kamu membohingi aku selama ini."
Tes
Tes
Tes
Air mata Ariana jatuh lagi untuk kesekian kalinya, saat ingin melapas cincin nikahnya itu ia sedikit kesusahan.
"Hiks kenapa susah sekali," tangisnya makin kencang saat cincin itu erat di jarinya.
Ariana hanya bisa pasrah dan membiarkan cincin bermata satu itu tetap di jarinya, Ariana melepaskan kalung yang harganya ratusan juta itu dan meletakkannya di nakas dekat dengan surat yang ia tinggal.
Ariana tak mau terus menerus dibohongi, apalagi di selingkuhi. Ia bukan wanita yang kuat saat suaminya terus membohinginya akan tetap setia di sisi sang suami.
Mungkin suatu saat mereka akan bertemu entah itu satu tahun, dua tahun, tiga tahun atau bahkan saat anak mereka sudah besar.
***
Ceklek
"Sayang aku pulang," seru Alex yang sudah sampai di kontrakannya.
"Sayang," panggilnya. Tapi tak ada sahutan dari dalam.
"Mungkin dia sudah tidur," gumamnya. Alex menatap jam di dindingnya sudah menujukan pukul 10 malam. Wajar jika Ariana sudah tidur.
"Sebaiknya aku langsung mandi," gumamnya melangkah ke arah kamar mandi. Tak sampai 20 menit Alex sudah kembali segar dengan memakai celana pendeknya itu ia keluar dari kamar mandi.
Matanya tertuju kearah meja makan di sana sudah ada makanan yang kelihatannya sudah dingin.
"Dia sempat menyiapkan makanan untukku?" tanyanya dengan senyum.
Ceklek
"Sayang," panggil Alex saat melihat kamar itu masih gelap, ia menghidupkan lampu kamar itu dan betapa terkejutnya Alex saat melihat Ariana tidak ada di kamar.
"Sayang kamu di mana!!!" seru Alex keluar mencari sang istri. Ia takut sang istri di culik oleh musuhnya atau orang tang menerornya kala itu.
Alex yang kalang kabut langsung menelepon sang istri berulang kali. Pikirannya tak bisa berfikir jernih ia harus menghubungi siapa.
"Vito," gumamnya. Ia laangsung menghubungi sekretarisnya.
"Halo tuan?"
"Kemana saja istriku hari ini?"
"Nyonya tadi pagi keluar tuan, sepertinya mengikuti taksi yang tuan tumpangi."
"Sial, apa Ariana tahu siapa aku sebenarnya?" batin Alex.
"Kenapa kau tidak bilang padaku?" seru Alex pada sekretaris.
"Maaf tuan."
"Cari istriku sampai dapat," titahnya pada Vito.
"Baik tuan," jawabnya patuh.
Alex mematikan sambungan telepon itu secara sepihak, Alex kembali ke dalam kamar dan menuju lemari pakaian mereka.
"Bajunya masih lengkap dia tak mungkin meninggalkan aku kan?" tanyanya dengan mata yang sudah memerah.
"Dress biru yang di pakainya dulu kemana?" tayanya saat menyadari dress biru yang di pakai Ariana dulu tidak ada di gantungan lemari itu.
"Sayang kamu di mana?"
Alex tak tahu harus bagaimana sekarang, hingga pandangannya tertuju pada selembar kertas di atas nakas dengan tertindih ponsel yang tak lain adalah ponsel sang istri.
Ponsel, surat, kalung, dan amplop yang berisi uang bulanan. Semua ada di sana Alex melihat tulisan diatas surat itu.
Deg
Untuk Alex Bara
Bersambung
Jangan lupa Like + Komen + Vote dan difavorit kalian. Share juga novel ini ya😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏