
Happy reading
Drtttt
"Ponselmu bunyi yank," ucap Al yang masih fokus pada game di ponselnya.
Yah saat ini mereka sedang ada di kamar pribadi yang ada di ruangan Albian. Mereka baru saja selesai meeting online dengan rekan kerjanya di Singapura. Walau kerjaan lainnya masih banyak tapi Al masih bisa mengatasinya yaitu di malam hari jangan lupakan Keyra yang selalu menemaninya dengan video call.
"Kenapamu ini loh, minggu dikit."
"PW yank!"
Keyra mengangkat sedikit kepala Al yang ada di pahanya, dan mengambil ponselnya yang ada meja samping itu.
"Siapa yank?" tanya Al pada Keyra.
"Polisi."
"Ha kamu gak lakuin apa-apa kan? Kok polisi hubungi kamu!"
"Dih aku gak ada buat kriminal ya. Aku sendiri juga gak tahu kenapa ni polisi telepon aku," ujarnya mencubit hidung Al. Bisa bisanya dia dituduh yang tidak tidak.
"Kamu diam."
[Halo]
[Halo dengan Ibu Keyra?]
[Iya benar ada apa ya?]
[Kami dari pihak kepolisian ingin memberitahukan jika, saudari Anda meninggal dunia]
[Saudari? Sisil? Kenapa bisa meninggal ya pak?]
[Beliau mencoba bunuh diri Bu, sudah berberapa kali ia mencoba meminum racun tikus di sini. Dan hari ini ia berhasil memotong nadinya dengan pisau dapur.]
Keyra yang mendengar itu entah sedih atau senang tapi yang pasti ia ikut prihatin.
[Jadi bagaimana Bu? Jasad Ibu Sisil dimakamkan disini atau dibawa pulang?]
Keyra tampak ragu, ia menatap tunangannya seraya meminta pendapat.
[Sebentar ya pak]
"Kenapa yank?" tanya Albian meletakkan ponselnya di kasur itu.
"Sisil meninggal Al," jawabnya.
"Innalilahi."
"Terus."
"Polisi tanya jasadnya dibawa pulang atau dimakamkan sana? Kami tahu sendiri aku udah gak punya hubungan apa-apa dengan Sisil, Tante Age juga gak tahu sekarang ada dimana."
"Kita bawa pulang saja Yank, walau bagaimanapun dia pernah menjadi keluarga kamu kan?"
Keyra mengangguk dan menjawab pertanyaan polisi tadi.
[Boleh pak jasadnya dibawa pulang, nanti saya kirimi alamat rumah saya]
[Baik bu.]
Setelah itu panggilan terputus, Keyra menatap Albian yang tampak senyum.
"Jangan menyimpan dendam gak baik, dan membuat orang cepat tua."
"Aku gak dendam kok, cuma agak kecewa saja."
Keyra yang melihat senyum itu, langsung memalingkan wajahnya. Kenapa sih ia bisa suka sama makhluk tampan yang satu ini.
"Sekarang gimana?"
"Ya, kita pulang dan urus makam Sisil."
"Tapi masih jam kerja loh."
"Aku bosnya," jawabnya santai.
"Ya kau bosnya," cibir Keyra yang membuat pria itu tak tahan untuk mengecup bibir yang sengaja dibuat buat itu.
Cups
Tangan Al menekan tengkuk leher Keyra hingga membuat wanita itu pasrah jika sudah begini.
"Jangan menggodaku dengan bibir seksimu ini sayang, aku buka pria alim yang kuat akan godaan," ucap Albian dengan senyumnya hingga membuat Keyra cemberut.
Cups
"Sudah aku bilang jangan buat aku khilaf."
"Iya ih, dasar mesum."
Al hanya tersenyum, tak apa dikata mesum oleh Keyra yang penting ia bisa menikmati bibir manis itu.
Setelah perdebatan kecil yang menyangkut pautkan kemesuman Al. Mereka keluar dari ruangan itu dengan tenang. Tapi aroma parfum Keyra sedikit berpindah ke baju Albian.
Dalam perjalanan tangan mereka tak terlepas, dan Al terus mengecupi punggung tangan Keyra.
"Aku takut Papa tak setuju jika jasad Sisil dibawa pulang," ucap Keyra.
"Biarin aku yang ngomong kalau begitu!"
Keyra hanya mengangguk ia tahu jika Al yang berbicara Papa Arga pasti mau mendengarkan. Entah apa yang dikatakan Al hingga papanya selalu nurut.
Sampainya di rumah, mereka dikejutkan dengan papa Arga yang ada didepan rumah melarang para polisi untuk membawa jasad Sisil masuk.
"PAPA."
Keyra berlari menuju Papanya yang ada disana, Papa Arga yang melihat putrinya itu langsung menatapnya tajam.
"Kenapa kau menyuruh polisi untuk mengantar anak sialan ini kesini hah? Kau tahu apa yang sudah ia dan ibunya lakukan Key?" tanya Papa Arga pada putrinya.
"Tapi Pah..."
Albian yang baru sampai itu langsung mencium tangan Papa Arga hingga menghentikan ucapan Keyra.
"Sisil juga anak Papa, dulu Papa sangat membanggakan Sisil daripada Keyra. Jadi tak apa jika jasadnya dibawa ke rumah ini. Dia sudah gak ada jadi gak perlu dipermasalahkan ya pah," ucap Keyra memeluk lengan Papanya.
"Tapi sayang, dia..."
"Key gak apa-apa kok pah, semua udah berlalu. Sekarang kita fokus sama masa depan aja."
Al tersenyum senang melihat tunangannya yang sangat mengesankan ini. Walau ada kata katanya yang diambil darinya tadi.
Akhirnya setelah berberapa lama, Papa Arga mau menerima jasad Sisil di rumahnya.
Proses pemakaman berjalan dengan lancar, tanpa adanya Mama Age yang notabene adalah ibu kandung Sisil.
Bersambung
Makin lama kok view di sini makin dikit ya, mau cepet di end aja ya lagi biar bisa fokus sama novel yang lain.