
Happy reading
Setelah empat hari dirawat dirumah sakit akhirnya Luna sudah boleh pulang. Nico yang selalu menemani Luna itu tak pernah meninggalkannya. Nico selalu membantu jika Luna kesusahan entah itu mau ke kamar mandi, sampai makan.
"Nic maaf ya jika selama ini aku ngerepotin kamu," ujar Luna bersalah. Saat ini Nico sedang mengecek email yang masuk itu seraya menemani Luna.
"Berapa kali kamu bilang maaf hmm? Aku gak suka kamu ngomong maaf lagi," ucap Nico mengelus pipi cubby Luna.
"Tapi gara-gara aku kamu harus terjebak disini. Kamu boleh ke kota kok Nic, aku gak apa-apa disini sendiri," ujar Luna.
"Aku gak akan ke kota tanpa kamu," ujarnya dengan santai.
"Emang gak apa-apa aku ikut ke kota, nanti jika keluargamu tak merestui kita gimana?"
Nico menghentikan ketikannya. Pria itu menatap istri ya dan menggeleng.
"Orang tua aku udah gak ada Luna, dan aku tinggal sendiri dikota. Paman dan bibiku juga diluar negeri semua."
"Nenek kakek?" tanya Luna.
"Mereka semua sudah meninggal," jawabnya.
"Maaf."
"Its oke, gak masalah. Lagian kamu harus tahu juga keluargaku kan."
"Kamu siap jika kamu sudah sehat kita ke kota?" tanya Nicola dan diangguki olrh Luna.
"Bukankan seorang istri harus mengikuti kemanapun suami pergi. Aku rela meninggalkan desa kok."
Nicola mengelus rambut lurus sang istri.
"Ada satu hal yang belum kamu tahu dari aku Lun, apa kamu siap jika aku beritahu kenyataan ini?" tanya Nicola yang membuat Luna sedikit takut.
"Apa Nic? Jangan buat aku takut."
"Aku seorang casanova Lun, aku hanya takut masa laluku membiatmu tak nyaman dan pergi meninggalkan aku," ujarnya serius. Nicola meletakkan laptopnya dan menatap istrinya.
"Tapi itu dulu, sebelum aku melakukannya lagi denganmu. Maafkan aku kamu harus mendapat bekasku," ucap Nico uang membuat Luna tersenyum geli karena ia sudah tahu jika Nicola casanova tentu dari Ariana.
Jujur Nicola merasa rendah, Luna mendapat bekas tapi dirinya mendapat yang pertama.
"Aku tahu, gak usah dibahas. Aku gak apa-apa tapi jangan ulangi lagi ya. Aku gak mau suamiku celap celup lubang cewek lain," ujarnya tanpa sadar menyebut Nico suami.
"Kalau sama kamu boleh?" tanya Nicola bagai mendapat angin segar.
"Boleh tapi gak sekarang, kata dokter kita gak boleh ituan sampai kandunganku kembali kuat," ujarnya malu.
"Aku akan menunggu itu," ucapnya dengan senyum.
Nicola memeluk istrinya dari samping, perlahan ia akan mencoba menganggantikan nama Clara dihatinya.
"Anak Ayah yang kuat didalam sana, Ayah janji bakal jenguk kamu kalau Bunda sudah sehat," bisiknya sedikit menyingkap baju yang dipakai Luna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari demi hari terlewat begitu saja, usia baby Bian juga sudah memasuki 10 bulan. Bayi gembul itu sudah tampak aktif dengan berjalan sendiri bahkan ia berani menolak jika ia tak suka.
"Baby sini nak," Ariana merentangkan tangannya tak jauh dari Bian bermain.
Alex sengaja membuat ruang bermain sendiri di mansion itu. Jika dipikir lagi Alex lebih memilik tinggal di mansion karena selain rumah itu besar mereka juga bisa memantau orang tua mereka yang tak lagi muda.
Dengan riang Bian berjalan dengan tawa menuju mamanya.
Hap
"Baby tertangkap," Ariana menangkap Bian dan mengecupi wajah bayi itu.
"Kita tunggu oma sama opa di luar ya nak."
Ariana menggendong Bian keluar dari ruang bermain menuju teras mansion itu. Tak lama Alex keluar dari kamar dan mencari istri dan anaknya.
"Sayang kamu dimana?" teriak.
Plup
"Anakmu Mi kayak kehilangan induknya aja," ucap Papi Arthur mengusap bibir istrinya yang basah.
"Kayak kamu enggak aja," cebik Mami Gloria.
"Kita juga, hari ini kita kumpul sama besan kenapa masih disini?" tanya Mami Gloria yang lupa jika hari mereka kumpul.
"Gara-gara papi sih, ahhh" desah Mami saat tiba-tiba Papi Arthur meremas kuat dadanya.
"Papi," geram Mami Gloria menepuk keras lengan suaminya dan berlalu begitu saja menuju kamar mandi.
"Mami ini gimana?" teriak Papi Arthur menatap istrinya yang sudah berlalu menuju walk closed.
"Tidurin sendiri," balasnya menutup pintu itu.
"Akhh Mami," frustasi Papi Arthur saat terongnya tak mau tidur. Hingga mau tak mau Papi Arthur harus menyelesaikannya dikamar mandi.
Kembali ke Alex yang bagai kehilangan induk, akhirnya ia menemukan istrinya dan sang anak di teras.
"Ngapain disini?" tanya Alex memeluk perut Ariana yang sedang duduk memperhatiakan apa yang dilakukan sang putra.
"Nunggu Mama sama Papa," jawabnya.
"Bian jangan jauh jauh nak," teriak Ariana saat Bayi itu sudah menuju gerbang.
Baby sister dan bodyguard yang bertugas menjaga Baby Bian itu mengikuti tuan mudanya.
"Anak kita aktif banget Mas, gak kebayang dia sudah 10 bulan aja," ucap Ariana menatap suaminya.
"Dia seperti kamu sayang, aktif dan lincah. Apalagi suka kabur-kaburan," ucapnya seraya mengecup pipi istrinya.
"Haiss jangan mengingat itu, karena kalau aku gak kabur. Belum tentu aku jadi istri kamu," ujarnya cemberut.
"Ih bibirnya pingin dicium ya," godanya.
Cup
"Dah sebelum kamu cium aku cium dulu," ucapnya dengan senyum.
"Mamaaaaaaaa," teriak Bian digendongan baby sisternya.
Deg
"Itu suara Bian mas?" tanya Ariana bangkit darid duduknya.
Baby sister itu menyerahkan Bian kepada Ariana. Ariana nampak berkaca-kaca.
"Ulangin lagi nak, mama pingin dengar kamu panggil mama," ucap Ariana pada bayinya.
"Mama.... pa brrrrr," ocehnya dengan tangan seakan mencakar papanya.
Hati ibu mana saat kta pertama yang diucapkan putranya adalah mama. Dirinya sangat bahagia.
"Mama dan papa," ujar Alex mengecup pipi Bian.
"Mama, Papa.... Brrr aaaa eeeee."
Ocehnya dengan kaki yang sudah mancal-mancal ingin turun dari gendongan mamanya.
Bagai mrndapat durian runtuh. Alex memeluk putranya dengan senang. Harapannya ingin honeymoon dengan istrinya bisa tercapai sekarang.
"Papa sayang kamu," ucapnya memeluk erat putranya.
Bersambung
📌Nafsu Atau Cinta (On going) Cerita Mami Gloria dan Papi Arthur
Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏