
Happy reading
Sampailah Alex, Ariana, dan Baby Bian di rumah Bi Erni. Alex membukakan pintu mobil untuk istri dan baby.
"Makasih papa," ucap Ariana.
"Sama-sama kesayangan papa," balas Alex mengambil alih sang putra yang sudah tertidur itu.
Mereka berjalan menuju pintu rumah itu dan masuk. Tiba-tiba Ariana terhenti di ruang tamu.
"Kenapa berhenti sayang?" tanya Alex yang masih menggending Baby Bian.
"Anda yang namanya Alex?" tanya seorang pria yang seumuran papi Arthur menatap Alex.
"Ya."
"Bagus!! Kau warga baru di sinikan?" tanya pak tua itu lagi.
"Hmm."
"Kamu belum resmi menjadi warga desa ini, tapi kamu sudah berani untuk tidur di sini. Apalagi Nona Ariana sedang hamil besar," ujar pak tua itu tak mendasar.
"Pak kades, Nak Alex ini suami Non Ria dan mereka juga tamu saya. Pak kades tentu tahu saya pernah merantau ke kota untuk bekerja. Dan orang tua Non Ria adalah majikan saya dulu," sela Bi Erni.
Di sini Ariana dan Alex tak paham akan apa semua ini. Memang kenapa kalau Alex tinggal di rumah ini toh dia suami Ariana dan ia juga sudah laporan kepada pak RT setempat. Buku nikah ada mereka tidak kumpul kebo.
"Ada apa ya pak ini?" tanya Ariana yang tak bisa memendam rasa penasarannya.
"Saya mau kalau Nak Alex menikah dengan putri saya si Sinta, atau nak Alex mau saya masukkan ke kantor polisi atas ke tidak nyamanan di desa ini," jelas Pak Kades dengan ketidak tahuannya.
Ariana dan Alex tentu terkejut dengan ucapan Pak Kades, kenapa jadi menikah dengan Sinta. Yang namanya Sinta saja mereka tidak tahu. Dan apa katanya tadi ketidak nyamanan di desa.
"Maaf ya pak siapa?"
"Saya kades di sini," jawabnya dengan sombong.
"Apa maksud bapak untuk saya menikah dengan Sinta. Dan Sinta itu siapa?" tanya Alex tidak tahu.
"Sinta adalah anak saya, dengan menikah dengan anak saya otomatis Anda juga bisa lebih kaya daripada bersama Riana," ujar Pak Kades dengan sombong.
"Oh jadi bapak atau siapa yang merasa tidak nyaman dengan keadaan saya di sini? Apa hak bapak untuk menyuruh saya menikah dengan putri bapak. Bapak tahu saya dan Ariana adalah pasangan suami istri dan kami sudah menjadi orang tua sekarang. Kedatangan saya di sini juga sudah di ketahui oleh orang-orang desa. Saya juga sudah laporan dengan pak RT dan beliau fine fine saja."
Panjang lebar Alex menjelaskan keadaan ini, pak kades hanya terdiam mencermati ucapan Alex tadi. Apalagi di sana sudah ada berberapa warga dan pak RT yang tujuannya tadi ingin melihat Baby Bian.
"Sial, aku tak tahu kalau dia sudah laporan dengan RT," batin pak kades malu.
Sedangkan Ariana masih bersikap tenang, ia yakin jika Sinta menyukai suaminya. Ariana pernah beberapa kali di rumorkan berkencan dengan laki-laki lain saat ia berada di desa ini padahal saat itu ia sedang kerja.
Sinta adalah seorang yang sangat iri dengan punya orang lain. Sinta akan mencari gara-gara dan terus mencari kesalahan pada orang itu. Dan satu yang sangat buruk dari sifatnya yaitu hanya mengandalkan sang ayah yang notabenya adalah Kades.
"Maaf sebelumnya ini ada apa ya?" tanya Pak RT yang sudah mendengarkan apa yang mereka bicarakan tadi.
"Ini pak RT, pak kades tiba-tiba datang dan menyuruh suami saya untuk menikah dengan anaknya. Pak RT tahu kan kalau Alex adalah suami saya, buku nikah kami dan yang datang kemarin itu adalah orang tua kami," jelas Ariana pada pak RT yang mengangguk.
"Benar Pak Kades Non Ariana dan Nak Alex sudah laporan kepada saya dan surat suratnya juga sudah saya antarkan pada Pak Kades waktu itu," ujar Pak RT yang mendapat seruan dari warga yang ada di sana.
"Huuuuu kades kok koyo ngunu huuuu," seru mereka yang membuat Pak Kades malu bukan main. Citranya sebagai Kepala Desa hancur gara-gara ini. Jika bukan karena putrinya yang menyuruhnya ia juga tak mau.
Akibat seruan warga itu Baby Bian yang sedari tadi terlelap terganggu dan menangis digendingan Alex.
"Cup cup sayang, ini mama nak," Ariana mengambil alih Baby Bian yang ada di gendongan suaminya.
Cups
"Kamu bawa Bian ke kamar dulu, ada yang harus aku urus di sini. Nanti aku susul ya," ujar Alex yang diangguki oleh Ariana.
"Bi tolong antar istriku ya," pinta Alex pada Bi Erni.
"Iya nak Alex, ayo non."
Bi Erni mengantar Ariana yang masih jalan tertatih seraya menenangkan bayinya itu. Hingga kini tinggallah Alex, Pak Kades, Pak RT dan 10 ibu ibu yang ingin menjenguk Baby Bian tadi.
"Jadi Bapak Kades yang terhormat, bagaimana apa Anda masih ingin menikahkan saya dengan putri bapak?" tanya Alex.
"Jika kau berkenan iya saja, kamu gak akan bahagia dengan Ariana. Kalian itu miskin dan kamu lihat saya, saya Kades seorang yang derajatnya paling tinggi di desa ini. perlu kamu tahu rumah saya besar, mobil saya 2, banyak lahan di mana-mana jika kamu menikah dengan anak saya kamu akan mendapat semuanya," sombong Pak Kades.
"Boleh saya tertawa pak?"
"Uang yang bapak dapat itu hasil dari bantuan sosial yang di berikan pemerintah untuk para orang kurang mampu kan? Tapi bapak tumpuk dan tak memberikannya pada yang berhak menerima."
Mendengar ucapan Alex membuat Pak Kades kaget, begitupun dengan para warga.
"Benar begitu Pak Kades?" tanya mereka bersama.
"Jadi bapak memakan uang kami pak. Pantas saja sudah dua tahun ini kami tidak mendapat sembako atau bantuan lain ternyata bapak dalangnya," seru salah satu wanita dengan badan gempal.
"KALIAN INI PERCAYA SAJA DENGAN ORANG BARU INI, DIA BERBOHONG," teriak Pak Kades.
"Hahaha masih mau menelak pak?" tanya Alex yang mengambil ponsel yang ada disakunya.
"Tunggulah sebentar, kalian akan menemukan kebenarannya," ujar Alex mendudukkan bokongnya di sofa itu.
Merekapun menunggu seperti yang di katakan Alex, tak sampai 10 menit pintu di ketuk oleh seseorang. Ibu berbadan besar itu membukakan pintu.
"Maaf sedikit terlambat," ujar sekretaris Vito yang datang membawa satu map dan diberikan kepada Alex.
"Ini Pak RT, tentu Anda bisa tahu apa maksud dari ini kan?" Alex memberikan map berwarna merah itu pada Pak RT. Pak RT yang melihat isi dari map itu membulatkan matanya dan menatap Pak Kepala Desa dengan kecewa.
"Apa isinya pak RT?" tanya ibu-ibu itu.
"Kita selesaikan ini di kantor desa, terima kasih nak Alex atas bantuannya," ucap Pak RT membawa Pak Kades keluar dari rumah Bi Erni diikuti oleh
"Sama-sama pak," jawab Alex. Untung saat Alex mendapat kabar dari pengawalnya ada yang ingin berbuat macam-macam pada istrinya kemarin di rumah sakit. Alex langsung menugaskan pengawalnya untuk mengetahui siapa siapa saja yang terlibat dan yah lagi lagi sekretaris Vito yang sedang disibukkan oleh pekerjaan kantor itu menyelidiki apa uang diinginkan atasan. Sungguh orang yang bisa diandalkan sekali sekretaris Vito ini.
Bersambung
Hai-hai kakak kakak ayah bunda semua kalau berkenan mampir ke novel uthor yang satu ini ya. Judulnya Nafsu atau Cinta, Novel ini kisah dari orang tua Alex dan orang tua Ariana.
Baca yuk⤵⤵⤵
___________________
Jangan lupa Like + Komen + Vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏