Stuck Marriage (Season 1 & 2)

Stuck Marriage (Season 1 & 2)
Mempertahankan



Happy reading


Keesokan harinya Luna yang sudah bangun itu langsung mengambil tespeck yang kemarin ia beli. Luna membaca petunjuk pemakaiannya yang ada dibelakang kemasan itu.


"Oh jadi harus nunggu 15 menit," gumamnya.


Luna mencelupkan tespeck itu ke urirnya dan sembari menunggu hasilnya keluar wanita itu melanjutkan untuk mandi.


Tak terasa 15 menit berlalu, hasil yang ditunggu-tunggu Luna akhirnya keluar.


Jeder


Air matanya luruh saat melihat hasil tespeck itu. Garis dua merah berarti ia sedang mengandung anak pria yang sangat dicintai saudarinya.


"Clara maafkan aku, maaf.."


Luna terduduk seraya memegang benda pipih itu dengan tangan yang bergetar.


"Bagaimana sekarang apa aku harus menggugurkannya?" tanya Luna dalam hati.


Ia merasa bersalah kepada Clara dengan mempertahankan anak ini. Tapi apa ia tega membunuh anak kandungnya sendiri.


"Aaaaaa," teriaknya.


Luna bangkit dan membuang tespeck itu ke tempat sampah lalu keluar dari kamar mandi. Keputusannya sudah bulat sekarang.


"Maafkan aku jika harus membunuhmu," gumamnya.


Luna memegang perutnya dan tiba-tiba Luna merasakan gejolak diperutnya. Dengan cepat Luna berlalu menuju kamar mandi dan memuntahkan cairan itu.


"Belum lahir saja kau sudah menyusahkanku."


Hoekk hoekk hoek


Setelah dirasa tenang, Luna keluar dari kamar mandi dan mengambil pakaiannya.


Setelah selesai berpakaian wanita itu mengambil tasnya dan berlalu meninggalkan kamar ini.


Luna mengunci pintu rumahnya, dan tujuannya saat ini adalah rumah sakit. Dengan mengendarai motirnya Luna sedikit terbayang saat Nicola mengambil kesuciannya dulu. Sungguh ia merutuki kebodohannya dulu karena sempat menikmati saat-saat pilu itu.


Sampailah Luna di rumah sakit, ia mengambil kartu antrian itu.


"Atas nama ibu Luna, silahkan masuk."


Luna bangkit dari duduknya dan masuk kedalam ruangan itu.


"Silahkan duduk bu, ada keluhan apa?" tanya sang dokter pada Luna.


"Emm aborsi dok," jawabnya gugup.


"Kenapa ibu mau aborsi? Bukankah Ibu tahu jika aborsi adalah perbuatan dosa?" tanya dokter yang sudah tak kaget lagi kenapa akhir-akhir ini banyak yang mau melakukan hal gila itu.


"Saya gak kuat untuk menanggung malu dok. Ayah bayi ini tak lahu dimana," jawabnya dengan sedih.


"Apa mbaknya yakin mau mengaborsi kandungannya?" tanya dokter itu lagi.


"Iya dok," jawab Luna mantap.


"Apa mbaknya kecewa jika embrio yang sedang berkembang menjadi janin itu harus meninggal?" tanya dokter itu lagi.


"Kita cek dulu ya mbak, silahkan berbaring disana," dokter itu menunjuk ranjang yang kosong itu.


Luna berbaring diranjang itu sedangkan sang dokter mengolesi perut Luna dengan gel.


"Lihat mbak itu adalah embrio yang sedang berkembang, ukurannya masih kecil."


Luna menatap layar itu dengan senyum tapi juga air mata yang mengalir.


"Anakku," batinnya.


"Apa mbak yakin ingin membunuh anak tak bersalah ini?" tanya sang dokter lagi.


"Tapi saya takut dok, bagaimana dengan anggapab orang-orang dan rekan kerja saya jika tahu daya hamil di luar nikah?" tanya Luna.


"Jangan pikirkan anggapan orang lain mbak, fokus saja dengan bayi yang mbak kandung," jawabnya pada Luna.


"Tapi dok.."


"Boleh saya bercerita mbak?" tanya dokter itu yang sudah membersihkan sisa gel itu diperut Luna dan kembali ketempat duduknya.


"Saya juga tidak memiliki seorang ayah, saya hanya dibesarkan oleh ibu saya seorang diri. Ayah saya menikah dengan wanita lain setelah menghamili ibu saya. Saya pernah bertanya kenapa ibu saya tidak menggugurkan saya saja waktu itu dan jawaban ibu saya sangat membuat saya bersyukur karena dilahirkan oleh beliau. Ibu saya menjawab ia tak mau menambah dosa dengan membunuh saya, ibu saya akan sekuat tenaga membesarkan dan merawat saya sebagai penebus dosanya saat itu. Kadang saya juga iri dengan orang lsin yang hidup lengkap dengan ayah dan ibunya. Sedangkan ibu saya harus bekerja siang dan malam untuk makan saya hingga saya dapat mengapai cita-cita saja, ibu selalu mensupport saya walau banyak yang meragukan kemampuan saya," cerita dokter itu terjeda karena dokter itu menghapus air matanya.


"Saya bersyukur sekarang saya menemukan figur ayah dalam suami saya. Oleh sebab itu juga saya selalu melarang para wanita untuk menggugurkan anaknya walaupun harus menerima celaan dari orang lain. Percayalah mbak anak kita akan menjadi penyemangat kita saat tua nanti," lanjutnya dengan senyum.


Luna mencerna semua cerita dokter itu, reflek saja ia mengekus perutnya yang masih datar itu.


"Masih mau mengaborsi mbak?" tanya dokter itu lagi.


"Gak jadi dok, makasih atas pencerahannya. Saya akan mempertahankan anak ini," jawabnya yang membuat dokter itu mengulas senyumnya.


"Pilihan yang tepat mbak. Kalau butuh teman atau sesuatu mbak boleh hubungi saya," dokter itu memberikan kartu namanya pada Luna yang mengangguk.


"Dan ini ada vitamin dan obat pereda mualnya mbak."


Dokter itu memberikan vitamin dan obat pereda mual itu pada Luna. Dan diterima oleh Luna.


"Terima kasih dok, kalau begitu saya pamit dulu dok," ucap Luna.


"Semangat ya mbak Luna," ujar dokter itu dan dianggukkan oleh Luna.


Wanita itu memasukkan vitamin dan obat pereda mual itu ditasnya. Lalu keluar dari ruangan itu.


Luna berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan mempertahankan kandungannya apapun yang terjadi.


Dalam perjalanan Luna mampir ke supermarket untuk membeli susu hamil dan berberapa makanan sehat lainnya. Tentu semua itu Luna lakukan untuk bayinya. Setelah selesai berbelanja Luna kembali ke rumahnya.


"Maafkan ibu jika kamu juga tak bisa merasakan kasih sayang ayahmu nak," gumam Luna menelus perutnya.


Untuk saat ini Luna harus lebih siap menghadapisemua cobaan yang akan ia lalui bersama bayinya kini.


Bersambung


📌Nafsu Atau Cinta (On going) Kisah Mami Gloria dan Papi Arthur.


Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊


Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏