
Happy reading
Alex tak menjawab ia masih sibuk mengelus perut besar Ariana.
"Jawab Alex, jawab," desak Ariana menarik tangan Alex dari perutnya.
"Aku jawab nanti agar kamu puas dengan jawaban aku," jawabnya dengan senyum. Tak ada rasa gelisah atau apapun itu di wajah pria itu, hanya tatapan tenang yang ditunjukkan.
Tak terasa hari sudah siang, Bi Erni yang sudah menyiapkan makan siang untuk para tamu itu mulai memanggil untuk makan siang.
Interaksi Alex yang membujuk Ariana agar tidak merajuk lagi itu tak luput dari pandangan para orang tua bahkan Nicola yang sudah bertahun tahun dengan Alex itu sempat tertegun melihatnya. Pria yang rela menolak ratusan anak hanya untuk satu wanita saja. Iri? Tentu saja Nicola iri. Tetapi wanita yang sedari dulu ingin ia nikahi malah lebih dulu meninggalkannnya.
Selesai makan siang dengan makanan seadanya, para orang tua yang sebenarnya ingin tinggal di sana itu pamit. Tak mungkin mereka semua tinggal di rumah sederhana itu.
Dan kini tinggallah Alex, Ariana, Nicola dan Vito di sana.
"Ria," panggil Nicola. Ariana yang tengah menikmati puding mangga muda itu menoleh kearah lelaki yang memanggilnya.
"Siapa ya?" tanya Ariana menatap Nico dan Vito bergantian.
"Yang rambutnya pirang itu namanya Nicola sayang orang yang udah buat kamu pergi dari aku. Dan yang sebelahnya dan pakaiannya rapi itu Vito, dia sekretaris aku di kantor," jawab Alex mengusap sudit bibir Ariana yang terkena sisa puding itu.
"Ohh."
Seolah tak perduli Ariana terus memakan puding buatan Bi Erni itu. Tadi juga para orang tua banyak yang membawa oleh-oleh dan juga makanan ringan.
"Sebelumnya gue mau minta maaf, gue yang udah kirim foto Claudia dan Alex dulu. Maaf karena udah buat lu salah paham sampai kabur dari kontrakan," ujar Nicola dengan sedih. Jujur ia bersalah dengan pasturi yang akan menjadi orang tua ini.
"Gak papa, aku udah maafin kamu. Aku juga sadar gak seharusnya aku pergi tanpa mendengarkan jawaban suami aku dulu," ujarnya menatap suaminya dan menyuapi Alex dengan puding itu.
"Aaa Al," desak Ariana saat Alex menutup mulutnya rapat.
"Aku kenyang sayang kamu aja ya," bisa Alex bayangkan betapa asamnya puding itu.
"Jadi kamu gak mau nurutin kemauan anak kamu, kamu mau anak kita ileran?" tanya Ariana dengan mata berkaca. Alex yang melihat mata istrinya sudah mengembun.
Akhirnya Alex mau membuka mukutnya dan menerima suapan puding dari sang istri, awalnya Alex kira rasanya asam tadi semakin lama dikunya rasa asam itu memudar dan berganti menjadi manis walau adamnya masih terasa.
"Enak," ujar Alex berganti menyuapi sang istri yang dengan senang hati Ariana menerimanya.
Kedua manusia ini asik dengan dunianya sendiri hingga tak sadar bahwa ada dua orang yang sedang memperhatikan keuwuan mereka.
"Gue mau pulang, di sini cuma jadi obat nyamuk aja," ujar Nicola keki melihat pasangan yang baru ketemu ini.
"Tuan... nyonya kami pamit," ujar Vito yang sudah tak tahan dengan keuwuan tuannya itu.
"Hmm, kalian memang ganggu."
"Lu ya, sahabat mau balik bukannya dicegah," ujar Nicola.
"Gak ada gunanya cegah kalian, lebih baik cegah istri gue biar gak kabur lagi," ujar Alex mengecup bibir Ariana sekilas.
"Manis," gumamnya yang membuat Ariana malu.
"Dah gue pamit, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, tumben salam biasanya enggak!!"
"Aku kenyang Al, mau tidur."
"Daripada tidur, kita main yuk yank," ajak Alex pada Ariana.
"Aku lagi hamil Al, gampang capek. Kamu malah mau ngajak aku main. Aku mau tiduran aja di kamar," ujarnya bangkit dari duduknya.
"Asshh," ringis Ariana mengelus perut buncitnya.
"Kenapa yank, mau lahiran?" tanya Alex panik.
"Cuma keram kok Al, kelamaan duduk."
Alex yang memperhatikan sang istri kesakitan itu prihatin, ternyata orang hamil itu gak enak ya. Alex membantu sang istri untuk masuk ke kamar.
"Anak papa jangan susahin mama ya di dalam, sebelum kamu lihat dunia yang fana ini anteng-anteng dulu oke kalau udah keluar kamu boleh kacauin mama," ujar Alex yang sedang berjongkok menyamakan perut sang istri yang sedang duduk dikasur itu.
"Kalaupun adek udah keluar dari perut mama nanti jadi anak yang baik ya, jangan nyusahin orang lain oke," ujar Ariana mengelus perutnya.
Alex yang mendengar itu hanya tersenyum sepertinya sang istri sudah siap untuk menjadi seorang ibu yang sesungguhnya.
Alex naik ke kasur itu dan menyuruh sang istri untuk bersandar di headboard ranjang itu. Ariana menurut dan meletakkan kepalanya di pundak Alex.
"Yang tadi gimana?" tanya Ariana yang memainkan kancing kemeja yang sudah terlepas semua itu.
"Yang mana? Yang mau main kuda kudaan? Ayo lah gas!!" semangat Alex membuka kemejanya hingga membuatnya telanjang dada.
"Bukan yang ini Al, masalah kamu yang nolongin aku saat kecil sampai pundak kamu dioperasi," ujar Ariana melirik sedikit bekas operasi Alex.
"Yakin mau tahu alasannya hmm?" tanya Alex menggoda sang istri.
"Yakin Al," jawabnya.
"Kalau aku ceritain semuanya apa kamu kuat mendengarkannya?" tanya Alex mendekap sang istri.
"Iya Alex, gak apa-apa bahkan walau sampai besok juga gak apa-apa," ujarnya tanpa sadar.
"Iya sih kalau aku ceritain semua gak habis sampai besok kalau aku cerita sampai main." Alex mengelus pipi putih itu.
"Janji habis kamu cerita aku yang bakal mimpin, ayo Al aku udah kelo banget," ujar Ariana yang membuat senyum Alex mengembang.
Cups
"Janji?"
"Iya."
Bersambung
Jangan lupa Like + Komen + Vote dan masukkan ke daftar favorit kalian. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏