
Happy reading
Pagi sudah menyapa, semua orang sudah bersiap untuk menjalankan aktifitas mereka masing-masing. Tak berbeda dengan Luna yang sudah siap dengan baju yang kelonggaran ditubuhnya untuk menutupi perutnya.
"Aku akan pulang sore. Kamu mau pergi atau tetap disini?" tanya Luna seraya menyisir rambutnya lurusnya.
"Aku ada urusan nanti, tapi nanti malam aku kesini lagi dan besoknya kita ke makam," ujarnya dan dianggukkan oleh Luna.
"Kamu gak risih pakai baju kebesaran gitu?" tanya Nico pada Luna.
"Mau gimana lagi!"
"Aku berangkat ya Nic, kunci rumah nanti letakin aja di bawah keset," ucapnya dan dianggukkan oleh Nico.
Wanita hamil itu mengambil tas kerjanya dan keluar dari rumah itu, sedangkan Nico hanya tersenyum lembut menatap kepergian Luna.
"Siapkan pakaianku, aku akan kesana sekarang," ucapnya seraya mematikan panggilan telepon itu.
Nicola segera beregas pergi dari rumah sederhana itu menuju penginapannya yang jaraknya tak jauh dari rumah Luna hanya 15 menit perkiraannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua karyawan dikantor disibukkan oleh pekerjaan untuk menyambut CEO mereka tak terkecuali Luna yang monar mandir menata apa yang kurang. Ia lelah, keringatnya sudah turun membasahi keningnya, apalagi bajunya yang sangat panas.
"Tahan ya nak, anak bunda pasti kuat."
"Kayak capek banget Lun, habis maraton lu?" tanya Lilis.
"Gak cuma lagi capek aja, aku ke ruanganku dulu ya. Nanti panggil aja kalau CEO kita idah sampai," pintanya dan diangguki oleh Lilis.
Luna berlalu meninggal tempat penyambutan menuju ruangannya. Wanita itu mengelus perutnya yang sedikit nyeri itu dan membenamkan kepalanya diatas meja dengan tangannya masih aktif mengelus perutnya.
Tanpa sadar ia terlelap disana dengan nyamannya. Belum sampai 10 menit Luna terlelap, Lilis datang untuk memberitahukan bahwa CEO sudah datang dan para seniornya ingin semua berkumpul.
"Lun," panggil Lilis pelan seraya menggoyangkan lengan Luna.
"Eughh apa?"
"CEO udah sampai di lobi kantor Lun, senior mau semua pada kumpul di podium," ujarnya tak enak membangunkan Luna.
"Oke, bentar. Gue masih sedmgar kan Lis?"
"Masih kok wajah kamu itu udah cantik dari sananya walaupun ada iler juga gak bakal kelihatan," ujarnya menggoda Luna yang tersenyum malu. Luna adalah idola kedua setelah Ariana di kantor ini.
Mereka berjalan beriringan menuju podium disana sudah banyak karyawan yang memenuhi ruangan ini.
"Di sini gak apa-apa kan Lun?" tanya Lilis saat mereka sudah berada di ruangan itu. Lilis dan Luna berada dibangku paling belakang tapi masuh cukup jelas untuk melihat apa yang ada diatas panggung itu.
"Lis, gue boleh sandaran dibahu lu ya? Ngantuk banget gue," ujar Luna pada Luna.
"Boleh, sandaran aja gue mau lihat itu siapa tahu ganteng kan bisa cuci mata gue," jawabnya menarik kepala Luna agar bisa bersandar dibahunya.
"Terserah lu lah," gumamnya seraya memejamkan matanya.
Tak! Tak! Tak!
Suara sepatu itu menggema di ruangan itu. Tiba-tiba suasana yang tadinya gemuruh kini terdiam. Mereka menatap pemilik sepatu yang harganya tak main-main itu dengan tatapan kagum.
Hingga tatapannya tertuju pada bangku paling belakang, mata jelinya menangkap Luna yang tengah memejamkan matanya itu.
"Kenapa dia?"
"Pertama-tama terima kasih atas penyambutan kalian. Saya Nicola Noval selaku CEO Neo Corp mengucapkan terima kasih pada kalian semua berkat kerja keras dan usaha kalian anak cabang kita yang ada disini bisa berkembang pesat dibanding anak cabang lainnya. Saya akan menaikkan gaji kalian menjadi dua kali lipat untuk dua tahun ini jadi silahkan bekerja dengan giat agar tidak kembali merosot."
Prok prok prok prok.
Suara tepuk tangan merekaa menggema dalam ruangan itu, tapi tidak dengan Luna yang masih bersandar di bahu Lilis.
"Saya tidak mau ada orang yang tidak niat bekera, kalian dibayar untuk bekerja bukan tidur!"
"Kalian yang dibelakang!" teriaknya, semua pandangan tertuju pada Luna dan Lilis.
Lilis yang mendengar itu ngeri dan berusaha membangunkan kembali Luna yang terlihat sangat lelah.
"Luna bangun," ucapnya.
"Aku lelah Lis," gumamnya yang hanya dapat didengar oleh Lilis.
"Tapi mereka semua memperhatikan kita," ucapnya gugup.
"Kamu yang pakai baju abu-abu silahkan maju kedepan," tiba-tiba terlintas ide dibenak Nico untuk mengenalkan Luna.
Luna yang merasa pakaiannya abu-abu itu menatap kearah panggung dan betapa terkejutnya Luna saat melihat Nicola diatas sana.
"Ayo Lun kesana, kapan lagi bisa dekat orang ganteng," goda Lilis yang membuat Luna malu.
Orang-orang pikir CEO mereka akan memarahi Luna karena tidur saat penyambutan tadi.
Lunaa yang sudah bangkit dari duduknya itu berjalan menuju yempat dimana Nicola berdiri baru setengah jalan tiba-tiba ada yang menyandungkan kakinya.
"Akh," pekik Luna terjatuh tapi masih melindungi perutnya.
"LUNA," teriak Nicola berlari menuju tempat Luna yang sudah merintih kesakitan.
"Nic, selamatkan anak kita," lirihnya saat Nico sudah berada didepannya sebelum kesadarannya hilang.
"Enggak jangan tutup matamu ku mohon."
"David siapakah mobil segera," teriak Nico yang membuat David segera menyiapkan mobil.
"Ku mohon bertahan demi anak kita, Lun."
Nico semakin kalu saat melihat ada darah mengalir dari pangkal paha Luna.
"Ya Tuhan selamatkan anakku," batinnya menggendong Luna menuju mobil dengan perasaan berkecambuk meninggalkan tempat itu dengan kepenasaran para warga disana.
Bersambung
📌Nafsu Atau Cinta (On going) Cerita Mami Gloria dan Papi Arthur.
Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏