
Happy reading
Tak mau bertambah gula bersama teman-temannya di parkiran. Albian berlalu menuju kelas dengan tangan disaku celananya.
Tapi langkahnya berhenti di ruang musik dimana pintu disana terbuka dan terdengar sayup tangisan dari dalam.
Tanpa rasa takut, Albian membuka pintu ruangan itu dan ia melihat wanita yang sedang menangis di kursi yang biasa ia tempati.
"Gadis itu," ujarnya dengan penasaran saat melihat Keyra menangis disana.
Albian menutup ruangan itu dan berjalan pelan menuju tempat Keyra menangis.
Tangisan Keyra terdengar pilu di telinga Albian, pria itu mengambil sapu tangannya dan memberikannya pada Keyra.
Keyra yang melihat sapu tangan itu menatap sang pemilik tangan dan betapa terkejutnya ia melihat pria yang menjadi idolanya ada disana. Seruangan dengannya disini.
Dengan cepat Keyra menghapus air matanya dan ingin keluar tapi tangan Al lebih dahulu mencegahnya.
"Duduk!" titah Albian menatap Keyra yang ingin lari darinya itu.
Keyra yang mendengar itu takut, ia menundukkan kepalanya takut. Tangannya saling bertautan, air matanya kembali menetes dengan derasnya hingga membasahi lantai itu.
Albian menarik Keyra agar duduk di kursi itu dengan paksa, dengan pelan Albian menghapus air matanya.
"Kenapa lu nangis?" tanya Albian dengan lembut. Entah kenapa ia tak bisa tak acuh dengan gadis yang baru beberapa kali ini menyita perhatiannya.
Tangis Keyra bertambah keras saat mendengar ucapan lembut dari laki laki ini. Ia tak tahu ingin menjawab apa dan ia hanya bisa menangis entah kenapa.
Albian yang mendengar tangis gadis itu makin kencang membawanya kepelukannya seperti saat ia menenangkan Ella saat menangis.
Keyra menurut dengan apa yang dilakukan Albian, sedangkan pria 20 tahun itu mulai mengelus punggung Keyra yang bergetar.
Lama kelamaan Keyra lebih tenang hanya tinggal segukan saja yang di dengarnya.
Keyra melepaskan dirinya dari Albian, gadis itu memaksakan senyumnya agar tak terlihat lemah. Walau sebenarnya ia sangat lemah saat ini.
"Ma-makasih hiks."
"Sama sama, kalau boleh tahu kenapa lu nangis sampai seperti ini?" tanya Al seraya menghapus sisa air mata Keyra. Padahal pria ini tak tahu nama Keyra tapi ia seakan dekat dengan Keyra.
"Gak apa-apa. Cuma masalah keluarga," jawabnya.
Albian tak memaksa untuk menceritakan apa yang dialami gadis itu tapi ia hanya bisa menenangkan dan mengangguk.
"Sapu tangannya hiks nanti aku cuci ya, maaf ngerepotin," ujar Keyra mengambil sapu tangan yang ada dikursi itu.
Keyra ingin bangkit tapi kembali ditahan oleh Albian, ia masih belum cukup tahu akan gadis di depannya ini.
"Kenapa lu selalu ngehindar saat lihat gue? Apa gue semenyeramkan itu?" tanya Albian mendudukkan kembali Keyra.
"Terus kenapa lu selalu lari saat lihat gue?" tanya Albian menatap Keyra yang meremas tangannya sendiri itu.
Albian menahan tangan Keyra hingga membuat gadis itu menatap Albian yang ada didepannya.
"Gak apa-apa."
"Tidak ada kalimat lain apa selain tidak apa-apa?" tanya Albian yang sudah bosan dengan kata itu.
"Emm."
Keyra menggeleng karena memang tak tau apa yang harus ia jawab, jujur saja Albian adalah laki-laki pertama yang memeluknya bahkan berbicara dengannya seperti ini.
Albian yang melihat itu gemas sendiri dibuatnya, lihat saja hidung merah dengan mata polosnya. Albian menatap Keyra yang malu malu dengan senyum.
"Kita belum kenalan kan? Namaku Albian kamu bisa panggil aku Al," ujar Albian mengulurkan tangannya, sedangkan Keyra bingung dan dengan sedikit gemetar Keyra membalas uluran tangan itu.
"Keyra," jawabnya singkat.
"Astaga cewek ini kenapa cuek sekali, jawabannya juga sangat singkat," batin Al memaksakan senyumnya.
"Salam kenal ya, semoga bisa menjadi teman yang baik," ujar Albian dan diangguki oleh Keyra.
"Makasih buat yang tadi Al, aku pergi dulu ya. Nanti aku balikin sapu tangannya," ujarnya dengan senyum lalu bangkit dari duduk dan berlari keluar dari ruang musik.
Deg! Deg! Deg!
"Astaga jantungku kumat lagi, kenapa senyumnya bisa semanis itu sih?" tanyanya dalam hati.
Albian memegang dadanya yang berdetak kencang, ia menatap tangannya yang dipegang Keyra nama baru yang membuatnya gimana gitu.
"Keyra nama yang cantik secantik orangnya," gunanya dengan senyum.
Setelah beberapa saat Albian keluar dari ruang musik itu menuju kelasnya. Raut wajahnya sudah berubah.
Setelah sampai dikelas, ia langsung duduk di kursinya. Tak lama dosen datang dan pelajarannya dimulai.
Sedangkan Keyra yang sedang berada di kamar mandi itu berulang kali membasuh wajahnya dengan air agar tak kelihatan sembab. Jantungnya masih saja berdetak kencang sumpah demi apa ia tak pernah membayangkan hal tadi akan terjadi dimana Al memeluknya bahkan memberikan sapu tangannya pada dirinya.
"Ini mimpi bukan sih?" tanya Keyra menatap pantulan dirinya dalam cermin.
"Ya Tuhan jika ini mimpi jangan pernah bangunkan aku dari tidurku," ucapnya berdo'a.
Wajahnya masih merah apalagi hidungnya yang sudah seperti orang flu.
Setelah beberapa lama di kamar mandi, Keyra keluar dari kamar mandi dan berlalu menuju kelas. Ia tak mau hanya gara gara satu kali membolos, pihak kampus mencabut beasiswanya.
Bersambung