
Happy reading
"Kepada Nona Keyra Anastasya mohon untuk turun kelapangan."
Keyra yang mendengar itu membulatkan matanya, semua tatapan mahasiswa mengarah pada Keyra yang saat kini masih memangku Ella.
"Kakak dipanggil Kak Al," tangan kecil itu menyentuh pipi Keyra yang memerah malu.
"Kenapa lagi dia panggil aku," batinnya.
"Dipanggil tuh Key, sana gih," ujar Laras pada Keyra dan masih diam.
"Gak mau, lagian mau apa lagi dia panggil gue," ujarnya dengan lirih.
"Kalau lu gak turun lu juga gak tahu kan," ujarnya dengan ketus. Ia sangat tak suka sifat Keyra yang pemalu seperti ini.
"Ella sayang ajak kakaknya ke sini sayang," pinta Albian dari bawah pada adiknya. Albian tahu jika Keyra tipe wanita pemalu dan suka mengamati dalam diamnya.
Ella tak sebodoh itu tak mengerti permintaan sang kakak. Gadis itu mengajak Keyra untuk turun ke bawah.
"Ayo kak," ajaknya.
"Ella sendiri aja gimana?" tanyanya.
"Gak mau, nanti Ella nangis Loh," ujarnya pura pura sedih bahkan air mata bohongan Ella sudah mengembun.
Keyra yang melihat itu langsung memeluk Ella dan mengiyakan, bisa berabe jika Ella menangis di sini.
Dengan pelan, Keyra menatap Laras yang menganggukkan kepalanya. Keyra berlalu meninggalkan tempat duduknya dengan menggendong Ella turun ke lapangan.
Ia berusaha menepis rasa malunya, bahkan ia tak menatap tatapan mahasiswa yang melihatnya. Sedangkan Ella melambaikan tangan pada mahasiswa disana bak artis papan atas yang sedang naik daun.
"Alo semua," ucap Ella dengan manis.
Mereka yang melihat itu gemas dan seakan ingin mencubit pipi Ella yang terlihat berisi itu. Begitu juga Mama Ariana dan Papa Alex, serta Om Nicola serta Tante Luna. Mereka tak menyangka jika Ella bisa seluasa itu untuk menyapa memang benar benar bibit unggul.
"Aku rasa anak sulung kita akan membuat kejutan," ujar Papa Alex dengan senyumnya.
"Aku juga merasa begitu," jawabnya dengan senyum.
Sedangkan Keyra tengah malu saat turun ke bawah.
"Sudah sayang kakak malu," ujarnya pada Ella.
Akhirnya mereka sampai di bawah, Ella langsung meminta turun dan memeluk sang kakak.
"Ella kenal dengan kakak ini?" tanya Albian pada sang adik.
"Dia kakak cantik yang nolong Ella saat itu," jawabnya.
Leo yang melihat adik sahabatnya itu merebut Ella dari gendongan Albian.
"Adik gue mau dibawa kemana?" tanya Al.
"Jalan-jalan."
"Dada kakak aku pelgi dulu sama sugal daddy Ella," ujar Ella melambaikan tangannya.
Albian hanya mengangguk dan menunjukkan jempolnya tanpa diketahui oleh Keyra yang masih mematung disana.
Albian menatap Keyra yang ada di depannya itu dengan senyum, ia merasa deg degan sekarang. Albian pertama kali ingin menembak seorang perempuan di depan banyak orang termasuk orang tuanya.
"Kenapa nyuruh aku ke sini? Kamu tahu kan fans kamu banyak. Aku gak mau buat mereka murka," lirih Keyra menundukkan kepalanya.
"Gak akan bisa kok Key," jawabnya. Albian mengangkat dagu Keyra agar menatapnya.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ujarnya hingga membuat Keyra takut.
Jika iya itu yang terjadi mungkin ia akan malu seumur hidupnya, apalagi yang mempermalukannya adalah temannya sendiri.
"Seharusnya aku sadar diri, aku tak pantas berteman dengannya," batin Keyra dengan sedih bahkan air matanya sudah mengembun disana.
"Apa?" tanya Keyra bergetar.
Albian mulai berlutut di depan Keyra bak pameran dengan seorang putri. Ia mengambil bola basket yang sengaja ia bawa tadi. Bola basket kesayangannya ia rela bawa hanya untuk hari ini.
"Mungkin aku gak bisa seromantis cowok diluar sana, aku bukan raja gombal seperti Papaku yang selalu gombali Mamaku. Ini pertama kali aku seperti ini, ini pertama kali dalam 20 tahun aku hidup untuk seperti ini di depanmu."
"Keyra Anastasya aku mencintaimu, maukah engkau menjadi pacarku?" tanyanya memberikan bola basket kesayangannya.
Bahkan di bola itu terdapat stiker foto Albian dan Keyra entah bagaimana bisa bola itu menjadi seindah itu.
Mereka yang ada disana berteriak histeris saat pujaan hati mereka menembak Keyra yang notabene adalah cewek paling tertutup yang mereka tahu.
Keyra yang mendengar itu terdiam, antara percaya tak percaya ia menatap bola itu. Ia bahagia karena cinta sudah tak bertepuk sebelah tangan lagi. Tapi disisi lain ia takut jika Albian hanya bermain main saja.
"Ayolah aku tak sanggup untuk tidak memelukmu," batin Albian menatap mata Keyra.
"Keyra."
Akhirnya dengan keputusan dari hatinya yang paling dalam, Keyra berusaha untuk tenang walau hatinya dag dig dug.
"Ya aku mau," jawabnya malu. Ia menerima bola itu dengan senyum mengembang di bibirnya.
Albian yang mendengar itu langsung bangkit dan memeluk tubuh Keyra dengan erat. Bahkan ia lupa jika tubuhnya masih berkeringat.
"Thank's sudah menerima cintaku Keyra," bisiknya. Raut wajahnya tak bisa lagi dibohongi saat ini Albian bahagia.
"Katakan kau juga mencintaiku," ujarnya melepaskan pelukan itu.
"Gak mau, malu lah Al."
"Gak perlu malu, anggap hanya ada aku," ujarnya dengan senyumnya.
Setelah beberapa lama, Keyra membuka mulutnya.
"Aku juga mencintaimu bahkan sangat," ujarnya dengan malu.
"Yes akhirnya aku dengan sendiri kalimat itu," batinnya bersorak senang.
"PAPA MAMA AKU SUDAH MEWUJUDKAN KEINGINAN KALIAN, TAK LAMA AKU AKAN MEMBAWA PACARKU KE DEPAN KALIAN," teriak Albian yang mendatangkan dua jempol dari Mama Ariana dan Papa Alex.
Bertambah patah hatilah para wanita disana karena ucapan sang idola. Apalagi orang tua Al terlihat merestuinya.
Keyra yang mendengar itu bertambah malu, tak bisa dia pungkiri jika ia juga bahagia.
Grep
Keyra memeluk tubuh Albian untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah itu. Tanpa memperdulikan keringat dituduh pria itu.
"Jangan gitu aku malu," ucapnya dengan lirih.
"Kenapa malu sih hmm?"
"Aku bau loh, kamu kok betah banget peluknya?" tanya Albian dengan senyumnya.
"Keringatmu wangi kok bau mint."
Albian bahagia mendengarnya, Al memang tak pernah membiarkan badannya bau. Apalagi keringat nya.
Bersambung
Selamat berpatah hati wahai reader Tya tersayang, tenang bukan hanya kalian yang patah hati. Tya pun sama. Sad banget Doi nembak cewek lain.