Stuck Marriage (Season 1 & 2)

Stuck Marriage (Season 1 & 2)
Kehidupan baru Ariana



Happy reading


"Kamu yakin mau resign dari pekerjaan kamu? Posisi kamu lagi bagus bagusnya loh sekarang," ujar sang HRD memegang surat pengunduran diri Ariana yang sudah bekerja 7 bulan ini.


"Iya bu, saya mau fokus sama kandungan saya dan anak saya nanti. In syaa Allah nanti kalau anak saya sudah besar saya akan melamar bekerja lagi," dengan sopan Ariana menjawab.


"Ya sudah kalau itu kemauan kamu, saya juga gak bisa terlalu memaksa kamu buat tetap tinggal. Pesan saya kamu tetap hati hati ya Ri, keamanan identitas kamu juga masih terjaga," ujar sang HRD.


"Ini uang pesangon kamu, semoga lahirannya lancar dan jangan lupa kabari aku jika kamu lahiran nanti," sang HRD mrmberikan amplop berisi uang pesangon itu pada Ariana.


"Terima kasih bu."


"Iya sama sama," jawabnya dengan senyum.


Ariana pamit pada HRD dan keluar dari ruangan itu, sesekali ia mengelus perutnya yang sudah membesar itu.


"Lu bener mau resign?" tanya Luna. Teman sekaligus sahabatnya selama ini. Teman yang selalu ada saat Ariana ngidam atau butuh sesuatu.


"Iya Lun, gue mau fokus dulu sama my baby. Lu jaga diri baik-baik ya, kalau ada waktu mampir aja ke rumah," ujarnya memeluk sang sahabat walau sedikit terhalang perutnya.


"Heem, bakal sepi nih kantor kalau gak ada lu," canda Luna mencubit pipi Ariana.


"Sakit ih, baby... mama dicubit sama aunty," ucapnya pada anaknya yang masih di dalam perut.


"Ulululu ngadunya sama baby," gemasnya pada Ariana yang masih mengelus perut buncit itu.


Luna ikut mengelus perut Ariana hingga ia merasa ada tendangan dari dalam.


"Baby gak suka mamanya dicubit cubit sama aunty," jawab Ariana.


"Sudah ya Lun, aku mau pulang. Barang-barang aku juga udah aku bawa kemarin. Sekali lagi terima kasih untuk selama ini," ujar Ariana tulus.


"Iya kayak sama siapa aja."


***


"Kenapa tiba tiba kangen Alex ya? Nak kamu kangen papa?" tanya Ariana mengelus perut buncitnya.


"Pasti papa kamu sudah bahagia dengan wanita itu," lirih Ariana yang tak sadar meneteskan air matanya. Xengan cepat Ariana menghapus air matanya.


"Pak lebih cepat ya," ucap Ariana dan diangguki oleh pak sopir taksi.


"Semoga kamu bahagia di sana, dan di sini aku akan bahagia dengan duniaku bersama nak kita."


Tak terasa taksi yang di tumpangi Ariana sampai di seebuah rumah yang tak terlalu besar tapi cukup indah jika di lihat.


Ariana membayar ongkos taksi dan turun dari taksi. Arian melangkah dengan cepat ke arah kamar. Ariana mengambil kemeja yang dulu ia bawa.


"Rasakan sayang, ini milik papamu."


Tok! Tok! Tok!


"Non.... Non Riana sudah pulang?" tanya seseorang dari luar.


"Sudah bi, Ariana ada di dalam," jawab Ariana.


"Makan siang dilu yuk non, bibi sudah siapin semuanya."


"Iya bi, Ariana nanyi nyusul bibi le bawah aja dulu," balas Ariana melipat kembali kemeja itu dan keluar dari kamar menuju meja makan.


"Wah bibi masak ceker?" tanya Ariana berbinar menatap sepiring ceker yang di bumbui kecap itu.


"Iya non, ayam di pasar yadi habis hanya tingga ceker sama kepala ayam aja. Karena bibi tahu non Ria gak suka kepala ya sudah bibi beli ceker."


"Hais bi... bi, Ariana sudah berapa kali bilang. Ariana bukan majikan bibi lagi. Mariana cuma numpang di rumah bibi. Anggap aja Ariana itu anak bibi sendiri," ucap Ariana pada sang bibi.


"Lah si non mah tetap majikan bibi tahu, keluarga non baik banget sama saya. Non itu udah jadi majikan sekaligus anak buat bibi. Rumah bibi yang hampir ambruk aja non yang perbaiki hingga jadi bagus seperti sekarang," ujar sang bibi.


Bi Erni adalah mantan pelayan di mansion keluarga Delta. Sekarang ia berumur 60 tahun, ia tinggal sendiri di sebuah rumah kecil.


Saat itu Ariana berjalan tak tentu arah menyelusuri jalan setapak, dengan menggendong ranselnya. Hingga ada segerombol preman ingin memalak Ariana, untung saja ada Bi Erni yang saat itu pulang dari pasar.


Bi Erni yang melihat hal itu langsung berteriak memanggil warna hingha akhirnya preman itu kabur. Untung Ariana mengingat jika Bi Erni adalah pelayan pribadi neneknya. Dan Ariana juga ingat jika Bi Erni yang dulu menjadi pengasuhnya saat kecil.


"Pokoknya bibi harus anggap aku anak bibi dan anak yang ada di kandungan aku ini cucu bibi," ujarnya.


"Iya non, iya. Ya sudah ayo makan, anak non juga butuh makan dari ibunya 'kan."


"Heem."


Bu Erni mengambilkan nasi dan lauk untuk Ariana yang hanya pasrah di layani seperti dulu.


"Ariana udah bisa bi, gak perlu di ambilin. Ariana sudah bisa, bibi juga kenapa cuciin baju aku?" tanya Ariana.


"Bibi cuma gak mau non Ria capek, apaalagi non lagi hamil," jawab Bi Erni.


"Tapi gak perlu bi, Ariana udah mau jadi ibu. Ariana bisa masak, nyuci, nyapu, ngepel sendiri. Harusnya bibi istirahat," cerocos Ariana pada sang bibi yang hanya mengulum senyum.


"Nona masih sama seperti dulu selalu pengertian sama siapapun. Kenapa ada orang yang tega bohongin non ya?" batin Bi Erni melihat wajah tenang sang nona yang sedang makan itu.


"Bibi cuma bisa berdo'a supaya non selalu bahagia," masih dengan batinnya.


Bersambung


Jangan lupa Like + Komen + Vote dan difavorit kalian. Share juga novel ini ya😊


Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏