Stuck Marriage (Season 1 & 2)

Stuck Marriage (Season 1 & 2)
Tamu



Happy reading


"Eh Lun, badan lu kok makin gede aja sih!" ujar Lilis pada rekan kerjanya.


"Nafsu makan gue lagi bagus Lis, jadi ya gini melar," jawabnya dengan bohong karena akhir-akhir ini ia jarang sekali makan. Luna selalu menutup perutnya dengan pakaian longgar saat kandungannya mulai terlihat itu.


"Oh gitu ya! tapi beda loh Lun. Dada lu tambah besar dan pipi lu juga tembem gini," ucapnya mencubit pipi tembem Luna.


"Enggak kok."


"Eh lu tahu gak Lun.."


"Gak tahu kenapa?" tanya Luna.


"Yaelah gue belum selesai ngomong woy, astaga!!"


"CEO perusahan kita ini besok lusa bakal kesini!"


"Ngapain bukannya dikota?"


"Lah mana gue tahu, aku denger dari senior gitu katanya," ucap Lilis merapikan tempat kerjanya.


Entah kenapa jantungnya berdebar kencang begini, padahal ia tak punya riwayat penyakit jantung.


"Emang kenapa kalau CEO bakal kesini?" tanya Luna menahan detak jatungnya yang tidak beraturan.


"Ya gue mau ngajak lu beli baju Lun, lu kan gak pernah tuh pake baju seksi. Siapa tahu pak bos bakal terpesona sama lu," ujar Lilis yang mendapat gelengan oleh Luna.


"Aku gak mau ih apaan emang aku cewe apaan harus segala pake baju seksi. Lu aja deh gue gak minat," jawabnya santai.


"Yakin nih gak nyesel?"


"Enggak."


"Lagian mana ada yang mau sama cewek hamil kek gue," batinnya tersenyum getir.


Sedangkan di kantor Nicola dengan lahapnya memakan rujak mangga yang dibawa asisten pribadinya itu.


"Bos kesurupan apa ya? Lahap banget. Apa gak asem ya?" batin asisten David melihat bosnya.


"Dev."


"Iya tuan," jawabnya.


"Cari data karyawan desa X yang bernama Luna Adison lengkap dengan alamat rumahnya," perintah Nico.


"Baik tuan."


"Aku butuh dalam 1 jam ini, kamu harus cepat mendapatkannya!"


"Siap tuan, kalau begitu saya permisi."


"Hm."


Asisten Devid keluar dari ruangan itu meninggalkan bosnya sendiri dengan rujak mangga yang membuatnya ngilu itu.


Akhirnya Nicola menghabiskan rujak itu hingga tandas, rasanya begitu lega setelah memakan rujak tadi.


Ia kembali memeriksa data-data perusahaannya yang semakin berkembang. Walau Nico sering bermain perempuan tapi ia tak bisa diragukan soal mengolah perusahaannya hingga sampai sebesar ini.


30 menit berlalu asisten David kembali mengetuk pintu, dan membawa data seorang wanita yang tak lain adalah milik Luna.


"Ini data yang tuan minta."


"Cepat juga kerjamu," ucapnya yang membuat David mengumpat dibelakangnya.


"Aku selalu cepat dalam bekerja tuan Anda saja yang tsk tahu," batinnya. Yah, David hanya bisa membatin, bisa habis riwayatnya jika langsung mengatakannya pada tuannya ini.


Nicola mulai membaca lembar demi lembar hingga sudut bibirnya terangkat saat melihat foto perempuan yang hampir mirip dengan Clara itu.


"Hmm."


"Aku akan kedesa setelah ini. Kamu bisa kesana besok dan langsung kepenginapan jangan lupa pakaianku. Aku mungkin akan lama disana."


"Baik tuan, bersama sekretaris Lia?"


"Jangan bawa wanita itu, jika perlu pindahkan dia kebagian lain. Aku mual mencium baunya," jawab Nicola.


Setelah David pamit keluar, Nicola pun ikut keluar lebih tepatnya menuju mobilnya. Nicola lebih awal kedesa karena ingin bertemu wanita yang selama ini ia cari. Ia yakin untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya dulu.


Mobil yang dikendarai Nicola berlalu membelah jalan raya itu. Perjalanannya yang kedua menuju desa kali ini lebih mendebarkan baginya entah kenapa ia menjadi bahagia sekarang.


Malampun tiba, sekitar pukul setengah delapan ia sampai didesa. Sesekali tadi ia berhenti di POM untuk mengisi bahan bakar mobilnya.


"Sekarang aku cari rumahnya," gumam Nicola dengan senyum yang tak surut dari bibirnya.


Setelah berberapa menit melajukan mobilnya kedalam desa akhirnya ia sampai di depan rumah sederhana itu.


"Semoga ini rumahnya," gumamnya menatap rumah ini.


Tok! Tok! Tok!


Sedangkan Luna yang sedang menonton televisi dengan cemilan ditangannya itu tekejut saat ada yang mengetuk pintu rumahnya. Karena selama ini tak ada yang pernah datang kerumahnya bahkan Ariana yang notabenya adalah sahabatnya.


"Siapa ya?"


Tanpa curiga Luna berjalan menuju pintu utama itu dan membuka pintu kayu itu, betapa terkejutnya saat ia melihat pria yang berusaha ia hilangkan dati ingatannya kini berada di deoan rumahnya.


Secepat kilat Luna menutup pintu itu tapi ditahan oleh Nico yang seakan tahu apa yang akan dilakukan oleh Luna.


"Jangan ditutup aku mohon," Nicola tak menghiraukan tangannya yang sudah berdarah.


"Kenapa kamu kesini hah? Belum puas kamu perkosa aku saat itu? Belum puas hah?"


"Bukan begitu akhhh."


Luna yang melihat tangan Nico berdarah itu khawatir tanpa sadar ia sedih dan menangis.


"Hiks hiks hiks."


Nico yang melihat Luna menangis itu membuka lebar pintu rumah itu dan memeluknya.


"Hei kenapa nangis hmm? Maaf karena aku udah nyakitin kamu."


"Huaaaa."


Tangis Luna makin keras saat melihat darah itu tetap mengalir. Nico yang mendengar itu bingung dan menutup pintu rumah itu.


"Maaf Luna, aku kohon maafin aku."


"Dar-rah huaaaaaa."


Nicola melihat luka ditangannya dan menyembunyikannya agar Lunaa tidak menangis lagi.


"Ini bukan luka serius. Aku gak apa-apa," ucapnya dengan senyum.


Luna yang mendengar itu hanya diam dan masih terdengar isakan halus dari bibir itu. Nicola tersenyum saat melihat Luan sedang sedikit tenang hingga tatapannya mengarah keperut yang mulai membuncit itu.


Deg.


"Apa ini anakku?" tanya Nicola yang tak bisa membendung lagi senyumnya tangannya terulur keperut Luna tapi dengan cepat wanita itu menjauh dan berlari kearah dapur.


Tak lama Luna datang dengan kotak P3K miliknya, ia duduk disofa dan mulai mengobati tangan Nico. Walau bagaimanapun Nicola adalah ayah dari anak yang ia kandung.


"Maaf."


Bibir wanita itu bergetar mengucapkan itu ia trauma dengan yang namanya darah karena ia pernah diculik orang tak dikenal untuk diambil organ dalamnya. Luna kecil yang tak sengaja melihat cara pengambilan yang tak lazim itu apalagi darah yang mengecer dilantai membuat Luna takut hingga ia sekuat tenaga untuk pergi dari tempat itu.


"Hei ini tidak ada apa-apanya," ucapnya lembut.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku. kamu hamil anakku kan?"


"Hemm. Tapi aku mohon jangan ambil dia dan tolong jangan membunuh anakku," pintanya dengan mata berkaca.


"Aku tak sekejam itu untuk membunuh darah dagingku sendiri Luna, jangan berpikir yang macam-macam," ucapnya yang cukup membuat Luna lega.


"Boleh aku mengelusnya?"


Bersambung


Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊


Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏