Stuck Marriage (Season 1 & 2)

Stuck Marriage (Season 1 & 2)
Kontraksi



Happy reading


"Sayang jangan ngambek gini dong, aku bingung harus apa kalau begini," ujar Alex saat sang istri berjalan cepat menuju rumahnya.


"Kamu pasti sengaja pamerin wajah kamu itu iya kan, udah mau jadi bapak juga. Kesel aku tuh," ketus Ariana tanpa menatap sang suami yang berjalan cepat itu.


"Kan kamu yang nyuruh aku cukur bulu di wajah aku!! Sekarang kenapa kamu malah marah-marah gak jelas sih hmm?" tanya Alex yang tak ingin menyulut api kemarahan lebih besar lagi.


Jika diingat-ingat memang benar ia menyuruh Alex cukuran, tapi kenapa ia juga yang kesal saat sang suami digoda oleh cewek-cewek itu.


"Maaf," hanya itu yang keluar dari bibir Ariana. Ia tak tahu kenapa ia cemburu hanya karena seperti ini padahal dulu tidak. Tapi langsung kabur😅


"Mungkin dedek gak mau papanya di godain perempuan lain, iyakan nak?" tanya Alex mengelus perut Ariana dengan senyum.


"Iya papa, jangan genit genit sama cewek lain nanti mama cemburu," jawab Ariana dengan suara kecil.


"Iya sayang papa gak genit kok, mama kamu aja yang sensian," jawab Alex yang sudah menjajarkan tubuhnya dengan perut besar sang istri.


"Al," rengek Ariana saat Alex mengatakan ia sensian.


"Tuh nak mamamu sudah mulai marah lagi, padahal papa gak ngapa-ngapain," adunya pada sang anak yang belum di ketahui jenis kelaminnya itu.


Tanpa sadar ada seseorang yang menatap keduanya dengan senyum hambar. Tatapan kekecewaan itu terlihat dari matanya.


"Aku akan mendapatkanmu bagaimanapun caranya, entah itu menggunakan cara halus atau kasar," ujarnya menggepalkan tangannya hingga otot-otot itu tercetak jelas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari demi hari berlalu, masa-masa dimana Ariana akan melahirkanpun selalu menjadi ke khawatiran tersendiri di dalam diri Alex.


"Sshhh.... Al," Ariana memanggil sang suami yang sedang memeluknya itu.


"Iya sayang kenapa?" tanya Alex yang langsung bangun saat istrinya memanggilnya itu.


"Mau pipis."


Alex bernafas lega, pria itu membantu sang istri menuju kamar mandi. Akhir-akhir ini Ariana memang selalu bangun tengah malam hanya untuk pipis dan setiap malam pula Alex akan setia menemani sang istri hingga tertidur lagi.


Setelah selesai pipis mereka keluar dari kamar mandi menuju kasurnya.


"Al, pijitin pinggang aku ya," pintanya dan diangguki oleh Alex. Dengan lembut Alex memijat pinggang sang istri.


"Sshhh," ringisnya saat tiba tiba perutnya sakit itu.


"Sayang kenapa? Kita ke rumah sakit aja yuk," ajak Alex yang tak tega melihat Ariana meringis menahan sakit itu.


"Enggak Al, sekarang sudah gak sakit. Mungkin kontraksi palsu lagi," ujar Ariana karena memang sakut tadi berangsur menghilang.


"Tapi aku gak mau kamu sakut seperti ini yank," ujarnya dengan cemas. Walau sang istri sudah bilang baik-baik saja.


"Enggak Al, jangan khawatir oke."


Ariana mengelus lengan sang suami yang masih terlihat jelas guratan khawatir di wajah tampan sang suami.


"Tidur aja kalau gitu, aku akan jaga kamu sampai kamu tidur," ujar Alex mengelus perut sang istri.


"Iya," ujarnya pada sang istri.


"Emm Al."


"Hmm?" Alex masih setia mengelus perut sang istri.


"Kalau kamu di sini perusahaan kamu gimana?" tanya Ariana pada Alex.


"Ada Vito yang menangani semuanya apalagi papi yang masih aktif di perusahaan, mereka pasti paham dengan keadaan kita. Walau begitu aku juga ikut membantu saya, tapi dari sini," ujar Alex dengan senyum.


"Emm ada yang mau aku bicarain sama kamu," ucap Alex saat mengingat sesuatu.


"Apa?"


"Setelah anak kita lahir, aku mau kita adakan resepsi pernikahan kita," ujarnya dengan serius.


"Aku manut apa kata kamu, selagi itu tak membahayakan anak kita," jawabnya dengan senyum.


"Oke deal. Setelah Baby berumur 2 bulan kita adain resepsi."


"Apa itu tidak terlalu cepat Al, kenapa gak 3 bulan aja?" tanya Ariana yang merasa ini terlalu cepat.


"Dua bulan udah waktu yang tepat sayang."


"Ya sudah aku ngikut, tapi jangan undang tamu banyak-banyak ya Al. Aku gak tega jika harus ninggalin anak kita lama-lama," ujarnya pada Alex.


"Kalau soal undangan sudah diatur orang tua kita sayang, aku hanya menyiapkan tempat dan waktunya," jawab Alex.


Saat Ariana ingin menjawab tiba-tiba perutnta mulas bukan main, rasa sakitnya lebih mendominan sekarang.


"Al .... Sakit Al," teriak Ariana saat sakitnya bertambah.


"Sayang ada yang mengalir dari bawah kamu, kita ke rumah sakut sekarang." Dengan sigap Alex mengangkat tubuh Ariana yang mengerang kesakitan itu.


"Tahan sayang kita akan kerumah sakit sekarang," ujar Alex menggendong tubuh Ariana menuju mobil, tadi ia sudah memberi tahu Bi Erni jika Ariana sepwrtinya mau melahirkan Ia sudah menyuruh Bi Erni untuk memberi tahu orang tua mereka.


"Al sakit Al hiks hiks sakit," rintihan Ariana terdengar pilu di telinga Ariana.


"Anak papa tenang dulu di dalam ya, papa tahu kamu ingin cepat keluar dan melihat dunia ini. Tapi tunggu setengah jam lagi, supaya kita sampai rumah sakit."


Alex mengelus perut Ariana dengan lembut seolah memberi pengertian sang baby untuk tidak keluar terlebih dahulu dan jangan membuat sang mama melahirkan di mobil ini.


Perlahan sakit yang dirasa Ariana sedikit berkurang, wanita itu masih mengelus perut buncitnya sesekali mendesis menahan sakit walau tak sehebat tadi.


"Al lebih cepat ya," lirih Ariana pada sang suami.


Alex mengusap air mata sang istri yang sudah menetes itu. Kemudian mengelus pipi Ariana seraya mengangguk, Alex selali berdo'a dalam hatinya agar istrinya tidak apa-apa begitupun dengan anaknya nanti.


Bersambung


Jangan lupa Like + Komen + Vote dan masukkan ke daftar favorit kalian. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊


Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏