Stuck Marriage (Season 1 & 2)

Stuck Marriage (Season 1 & 2)
Pergi



Happy reading


"Yank, tahan aku dong biar aku gak berangkat!" rengek Alex yang terus memeluk tubuh Ariana yang sedang menggendong Baby Bian itu.


"Kenapa aku harus tahan sih mas. Ini kan tugas perusahaan," ujar Ariana menatap suaminya yang tak mslu melepas pelukannya dari mansion sampai ke bandara.


"Kamu mah gak peka sayang."


Ariana hanya tertawa mendengar rengekan sang suami.


"Cuma satu minggu kok, gak akan ada yang berubah," jawab Ariana mengecup rahang dang suami.


"Hem. Baby jaga mama ya, papa gak lama kok di sana. Cuma satu minggu," ujarnya pada sang bayi yang sedang memegang dot itu. Tatapan kecil bocah itu menuju papanya dan tersenyum.


"Anak papa, baik baik di rumah. Jangan susahin mama ya nak," ujarnya lagi dan diangguki oleh Ariana.


Ariana mengecup tangan suaminya dan dibalas kecupan dikening Ariana dan Baby Bian. Nicola yang berada dibelakang mereka itu sedikit iri akan kebahagiaan sahabatnya. Apa ia bisa seperti mereka.


"Ehemm, udah ya perpisahannya kita harus pergi nih," ujar Nicola yang membuat padangan ini menatap Nicola dan sekretarisnya disana.


"Heem. Tolong jaga suamiku ya Nic," pinta Ariana pda sahabat suaminya.


"Siap, nanti gue jaga kalau perlu gue kerangkeng," jawabnya mengacungkan jempolnya.


"Hahaha. Hati hati kalian," ujarnya dan diangguki oleh keduanya.


Alex dan Nicola berserta sekretaris mereka mengikuti bos mereka memasuki pesawat pribadi milik Bara.


"Kita pulang ya nak, papa udah berangkat," ajak Ariana pada Baby Bian yang menatap kepergian papanya itu.


Ariana berlalu meninggalkan bandara itu menuju mobil yang tadi mereka bawa. Tak lupa beberapa bodyguard yang selalu mengikutinya.


Sedangkan Alex yang duduk disamping Nicola itu tampak berulang kali mengusap layar ponselnya yang dimana itu adalah foto Alex, Ariana, dan Baby Bian saat resepsi kemarin.


"Bahagia banget lu."


"Hem, gue memang bahagia dan semua itu berkat istri dan anak gue," ucapnya.


"Kapan lu nyusul?" tanya Alex pada sahabatnya ini.


"Nanti."


"Usia lu udah gak muda lagi Nic. Usia 28 itu umur yang pas untuk menikah," ujar Alex pada sahabatnya itu.


Nicola terdiam, ia masih mencari dimana keberadaan wanita yang sudah ia nodai saat itu.


"Lu ada masalah?" tanya Alex pada Nicola.


"Gue udah perkosa gadis Lex," jawabnya.


"Terus!! Bukannya lu udah biasa ya kayak gitu," ledek Alex.


"Terus?"


"Gue udah cari dia kemana-mana tapi gak ada, gue kehilangan jejaknya," jawabnya.


"Terus kalau lu udah ketemu sama dia. Lu bakal ngapain?"


"Gue akan minta maaf atas apa yang sudah gue lakukan, jujurnya gue uah gak main lagi sejak saat gue bobol gawangnya sampai sekarang," jawabnya.


"Setelah lu minta maaf, lu pikir semua sudah selesai? Lu gak bisa kembaliin kesuciannya kan? Kalau seumpama dia hamil anak lu gimana?" tanya Alex pada sahabatnya.


"Kalau dia hamil, gue akan tanggung jawab akan anak yang dikandung walau bagaimana pun itu adalah anak gue. Dan setelah anak itu lahir gue akan ambil anak itu."


Bugh


Alex yang mendengar jawaban dari sahabatnya itu geram dan menonjok pipi Nicola.


"Kenapa lu tonjok gue sih? Sakit Lex."


"Itu gak seberapa Nic, gue pikir setelah gue tanya tadi lu bakal jawab nikahin dia tapi apa. Pikiran lu terlalu sempit hingga hanya menginginkan anaknya saja lalu wanita itu gimana?"


"Tidak ada seorang ibu yang mau berpisah dengan anak kandungnya Nic. Bagaimana perasaan wanita itu jika ia kehilangan anak yang sudah ia kandung 9 bulan! Dan anak lu akan selalu kekurangan kasih sayang ibunya."


Nicola terdiam mendengar kata-kata Alex yang menurutnya benar, tapi apa dia bisa menemui wanita itu. Apa ia bisa menghapus nama Clara dalam hatinya.


"Lagian itu belum tentu dia hamil," lirihnya.


Alex hanya diam, ia hanya memikirkan jika istrinya hamil dan ia hanya mau mengambil anaknya saja. Membayangkan jika Ariana menangis dan memohon padanya membuat Alex merasa sedih.


"Aku tak akan membiarkan air matamu jatuh sayang, itu janjiku," batin Alex menatap luar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan disebuah rumah sederhana yang jauh dari rumah penduduk lainnya, Luna sengaja izin libur dari kantornya karena badannya sedikit tak enak.


Hidup sendiri membuat Luna harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Mulai dari masak, sampai membersihkan rumahnya.


"Padahal baru nyapu kok udah cape banget ya?" tanyanya seraya duduk dikursi itu.


"Mungkin karena aku tak enak badan hingga gampang lelah," gumamnya melanjutkan pekerjaanya.


Setelah berberapa saat Luna selesai menyapu, wanita itu mulai menerima keadaannya yang sudah tak sempurna walau terkadang ia masih suka menangis jika mengingat kejadian malam itu.


Bersambung


📌Nafsu Atau Cinta (On going) Kisah Mami Gloria dan Papi Arthur.


Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊


Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏