
Happy reading
Hari berganti hari telah dilewati Alex dan Ariana. Pagi ini Ariana memastikan jika apa yang dipikirkannya itu benar terjadi.
Ia teringat sudah sebulan lebih ia tidak datang karena selalu melayani Alex tiap malamnya dan semoga apa yang diharapkannya dan Alex bersemayan diperutnya.
Deg
Air matanya meluncur saat melihat hasil tespek yang ia pegang menunjukkan garis dua, ia bahagia sangat sangat bahagia melihat benda pipih ini. Spontan saja Ariana mengelus perut ratanya.
"Anak mama, kamu ada di dalam nak?" tanyanya tak bisa membendung air matanya.
"Hiks aku hamil..."
Ariana keluar dari kamar mandi dengan senyum berseri, 2 hari lagi adalah ulang tahun sang suami yang ke 28. Ariana akan memberi kejutan ini pada suaminya dua hari lagi.
Sedangkan Alex yang masih tidur itu mengeliat melihat tidak ada sang istri di sampingnya. Tubuhnya masih polos karena pergulatannya semalam.
Drrrttt
"Hmm?"
"Maaf tuan pagi ini ada meeting dewan direksi dikantor."
"Jam?"
"Setengah tujuh tuan."
Alex melihat jam didinding kamar itu, sudah menunjukkan pukul enam pagi, jalan dari kontrakan ke perusahaan 25 menit jika tidak macet.
"Hmmm."
Tuttt
"Sayang kamu dimana?" teriak Alex setelah menutup sambungan telepon, ia memakai boxer yang tergeletak di lantai.
Alex keluar dari kamar dan dugaannya benar sang istri sedang memasak didapur tapi ada yang aneh pagi ini. Senyum Ariana tampak selalu terbit di bibir sang istri.
"Kenapa senyum senyum terus?" tanya Alex memeluk tubuh sang istri dari belakang.
"Ada aja sesuatu kenapa?" tanya Ariana santai.
"Kamu mulai main rahasia sama aku hmm?" tanya Alex mengecup pundak sang istri.
"Enggak kamu akan tahu 2 hari lagi," jawabnya dan mau tak mau Alex hanya mengangguk.
"Emang apa sih bikin penasaran aja? Nanti kalau aku mati penasaran gimana?" tanya Alex yang masih setia memeluk perut sang istri.
"Nanti tinggal dikubur," jawabnya santai.
"Kok gitu sih yank."
"Kan kamu tanya ya aku jawablah, emang salah?" tanya Ariana.
"Mandi sana, kamu masih bau."
"Oh iya gue lupa ada meeting," batinnya.
"Oke, aku mandi dulu."
Cups
Alex mengecup bibir pink natural Ariana dan berlalu ke kamar mandi, Ariana hanya menggeleng melihat tingkah suaminya yang kadang romantis kadang juga koplak.
"Untung sayang," ujarnya mengelus perutnya.
"Itu tadi papa kamu nak!! Dia sangat tampan semoga jika kamu laki laki gen papa kamu menurun ke kamu ya," gumam Ariana yang masih mengelus perutnya dengan lembut.
Setelah selesai mandi Alex sudah siap dengan seragam driver taksi miliknya, ia menghampiri sang istri yang sedang menyiapkan teh untuknya itu.
"Aku lebih nyaman disini daripada di mansion besar itu, dan semua itu karena kamu sayang," batin Alex tersenyum melihat.
Ariana menyiapkan makanan untuk sang suami, dengan semangat Alex menghabiskan sarapan paginya begitupun dengan Ariana.
Setelah sarapan selesai Ariana mengantar sang suami sampai depan kontrakan.
"Nih bekal makan siang kamu, jangan lupa dimakan oke." Ariana memberikan paper bag yang berisi bekal untuk suaminya itu.
"Makasih sayang, pasti aku makan kok," ujar Alex pada Ariana.
"Harus," tegas Arian mengecup punggung tangan suaminya.
Cups
Cups
Dua kecupan di kening dan di bibir Alex berikan pada Ariana.
"Aku berangkat ya sayang, aku usahain pulang cepet," ujar Alex dan dianggukkan oleh Ariana.
"Entah apa reaksi kamu saat tahu aku hamil," gumam Ariana masuk kedalam rumah.
Dengan kecepatan penuh Alex melajukan taksinya menuju perusahaan, mungkin ia akan sedikit terlambat kali ini. Ia tak bisa menyalahkan sang istri karena memang ia memerlukan sarapan.
Sampailah taksi itu di perusahaan, di sana sudah ada sekretaris Vito yang mondar mandir di depan pintu masuk.
"Akhirnya tuan datang," ujar sekretaris Vito bernafas lega.
"Saya sudah menyiapkan semuanya di ruangan tuan," ujar sekretaris Vito.
"Hmm," dengan sedikit tergesa keduanya berjalan menuju lift.
"Apa semua sudah datang Vit?" tanya Alex.
"Sudah tuan, mereka menunggu anda."
Ting
Lift terbuka, dengan cepat Alex masuk kedalam ruangannya. Berganti pakaian dan menyemprotkan parfum kepakaiannya.
Alex masuk ke ruang rapat, dengan wibawanya Alex duduk dikursinya lalu meembuka rapat kali ini.
***
Di rumah Ariana yang sedang bersantai menonton televisi itu dibuat tergiur oleh mangga yang di buat jus yang ada di iklan itu.
"Sepertinya enak," gumamnya. Ia bangkit dari duduknya dan menyamarkan penampilannya.
"Saatnya cari mangga."
Ariana keluar membawa tas kecil yang pernah dibelikan Alex saat keluar bersama dulu.
Ariana berjalan menelusuri jalan raya yang tak terlalu ramai itu, ia belum juga menemukan pohon mangga yang berbuah.
Sudah terlalu jauh Ariana berjalan hingga ia mendapat angin segar saat melihat pohon mangga yang sudah berbuah dengan lebat itu.
"Akhirnya nak, ngidam kamu terpenuhi," gumamnya mengelus perut ratanya.
Ariana mengetuk pintu rumah itu dan keluarlah seorang pria paruh baya seusia papanya.
"Ada apa ya mbak?" tanya paruh baya itu.
"Maaf pak, apa pohon mangga ini milik bapak?" tanya Ariana menunjuk pohon mangga itu.
"Iya ini pohon milik saya,'' jawabnya.
"Anu pak saya boleh beli mangga bapak? Gak banyak kok, cuma dua atau 3 biji."
"Tapi mangga itu masih muda neng, eh eneng teh hamil ya mau mangga muda?" tanya bapak itu dan tepat sekali.
"Iya pak, anak saya kayaknya mau mangga muda," jawabnya jujur. Bapak itu hanya mengangguk dan tersenyum.
"Boleh kok biar bapak ambilkan," bapak itu berlalu menuju ketempat pohon mangga itu dan mengambilnya memakai galah.
Ariana menelan ludahnya menatap buah mangga yang sudah terpetik itu.
"Ini neng buat eneng, semoga bayinya sehat ya. Anggap saja ini hadian buat kehamilan eneng," ucap bapak itu tulus memberikan sekeresek buah mangga pada Ariana.
"Bener pak ini buat saya semua?" tanya Ariana tak percaya, ternyata masih ada orang yang mau memberi gratisan.
"Iya neng, lagian di sini kalau matang gak ada yang makan, dulu sih istri saya juga ngidamnya mangga muda jadi saya paham."
"Terima kasih banyak ya pak, saya do'akan rezeki bapak sekeluarga lancar."
"Aamiin."
Setelah meengucapkan terima kasih pada pemilik pohon mangga itu, Ariana langsung pulang ke kontrakannya.
Sampai di kontrakan Ariana langsung mencuci, mengupas, dan memotong buah mangga itu. Ia menyiapkan blender dan memasukkan potongan mangga itu ke dalam blender ditambah gula sedikit.
Setelah berberapa menit jus mangga muda buatan Ariana siap untuk diminum.
"Seger deh, padahal harusnya kecut ya. Anak mama pasti seneng ya di dalam, ngidamnya keturunan," gumamnya setelah meminum jus mangga itu.
Ting (Pesan baru)
Deg
Pyar...
Bersambung
Jangan lupa Like + Komen + Vote dan difavorit kalian. Share juga novel ini ya😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏