
Happy reading
Papa Arga tak mengelak karena itu memang benar. Ia tahu tapi ia juga janji akan menebus semua waktu yang terbuang untuk putrinya ini putri cantiknya dengan mendiang istri tercinta.
"Jadi gimana keadaan Sisil sekarang Pah?" tanya Keyra.
"Kenapa kamu memikirkan anak tak tahu diri itu? Dia dalang dari pelecehan kamu, untung kamu tak apa-apa. Jika sampai terjadi sesuatu padamu aku akan sangat bersalah pada ibumu karena aku tak bisa menjadi ayah yang baik untuk putri ayah ini."
"Tapi Sisil juga anak ayah," ujar Keyra.
"Dia anak tiri Papa sayang, maafin Papa karena selama ini bandingin kamu dengan dia."
"Heem."
"Kenapa polisi secepat itu tahu jika yang ingin melecehkan aku tadi datangnya Sisil?" tanya Keyra dalam hati.
Ayah dan anak itu saling berbincang hingga lupa dengan Al yang masih terhubung dengan video.
"Itu siapa yang kamu video call?" tanya Papa Arga melihat ponsel anaknya masih menyala.
"Astaga aku lupa," gumamnya mengambil ponselnya dan disana masih ada Al yang stay menunggu dengan senyum saat melihat wajah Keyra lagi.
"Maaf," ujar Keyra pada Albian yang mengangguk.
"Siapa nak?" tanya Papa Arga pada Keyra.
Saat Key ingin menjawab suara Al mendahuinya. "Calon menantu om," jawab Albian yang membuat semburat merah di pipi Keyra terlihat jelas.
"Enggak pah, kita cuma teman. Dia aja yang ngada ngada," ujar Keyra salah tingkah.
"Hahaha anak Papa sudah besar ya ternyata," ujarnya dengan senyum menggoda sang putri.
"Papa kita cuma teman ya kan Al," ujar Keyra meminta bantuan Albian.
"Sekarang iya entah nanti, kamu kan udah lama suka sama aku," jawabnya hingga membuat wajah Keyra bertambah merah karena jawaban Albian.
"AL."
"Hmm."
Keyra cemberut hingga membuat Albian yang ada disebelah terkekeh geli. Papa Arga yang melihat itu hanya menggeleng.
"Siapa nama kamu nak?" tanya Papa Arga pada Albian.
"Albian om," jawabnya.
"Tolong jaga anak om ya, dia bandel orangnya. Maafkan jika dia punya salah sama nak Albian," ucap Papa Arga dan diangguki oleh Albian.
"Emang Key barang suruh jaga, jaga anak orang pula," ujar Keyra menatap papanya.
"Kamu memang harus di jaga sayang," ujarnya dengan senyum seraya mengacak acak rambut putrinya.
"Tapi Key udah besar, bisa jaga diri Key sendiri," jawab Keyra.
"Iya papa percaya, kalau begitu papa kembali ke kamar hmm. Sudah malam cepat tidur ya," ujarnya mengecup kening putrinya dengan lembut.
"Papa juga," ujarnya tak kalah tersenyum manis.
"Kamu seperti ibumu Key, sangat cantik."
"Papa juga tampan," jawabnya memeluk tubuh sang papa.
Setelah pelukan itu Papa Arga keluar dri kamar itu menuju kamarnya, meninggalkan putrinya yang masih VC dengan Albian.
"Udah malam tidur gih," perintah Keyra pada Albian.
"Kamu siapa nyuruh nyuruh aku?" tanyanya hingga membuat Keyra tertunduk. Benar apa yang diucapkan Albian dia memang bukan siapa-siapanya pria yang ia VC ini.
"Aku bosen dengar aku minta maaf terus, sekarang kamu yang tidur tapi jangan dimatikan videonya," ujarnya.
"Emang kamu siapa nyuruh nyuruh aku?" tanya Keyra membalikkan pertanyaan Albian.
"Calon suami kamu," jawabnya hingga membuat Keyra ngeblus seketika.
Tak mau ambil pusing akan omongan pria itu, Keyra naik keatas kasur dan membaringkan dirinya disana.
"Selamat malam Al," ucap Keyra sebelum memejamkan matanya.
"Good night anda happy nice dream Keyra," balasnya dengan senyum.
Setelah mengucapkan hal itu Keyra memejamkan matanya. Albian yang melihat Keyra tertidur itu hanya bisa menatap wanita yang sudah mencuri hatinya itu, hanya dalam 2 bulan ia jatuh hati akan gadis yang selalu menghindarinya dulu.
"Kenapa kamu harus minder saat dikatakan cantik? Nyatanya kamu memang sangat cantik Key," ujarnya dengan lirih.
"Setidaknya aku sedikit membantumu Key," batin Albian.
Setelah puas mengamati wajah cantik Keyra, dengan berat hati Albian memutuskan panggilan video itu.
Semua yang terjadi hari ini adalah karena Al, orang yang menjaganya yang sudah melaporkan preman - preman itu.
"Gak sia-sia papa masih awasi gue selama ini, dan bodyguard juga berguna sekarang walau aku sangat membenci jika ada yang mengikutiku," ujarnya dalam meletakkan ponselnya di nakas.
Saat ingin tidur Albian malah dikagetkan dengan ketukan dari luar kamarnya. Ia memang tak pernah menghidupkan peredam suara kamar itu agar jika adik adiknya memanggil ia bisa dengar.
Dengan cepat Albian membuka pintu itu dan ia melihat Ella yang menangis di gendongan sang baby sister.
Ella yang melihat kakaknya itu langsung berhamburan kedalam pelukan sang kakak.
"Nona Ella terbangun dan langsung nangis karena kangen sama Tuan Muda," ujar baby sister yang tadi menggendong Ella.
"Gak apa-apa mbak, biar Ella sama aku aja. Terima kasih sudah membawanya kesini," balas Albian.
"Sama sama Tuan, kalau begitu saya permisi," pamitnya dan diangguki oleh Albian.
Albian membawa Ella yang memeluk erat lehernya itu menuju kamar, tangis itu sedikit mereda karena pelukan Albian.
"Kenapa nangis gini hmm?"
"Kalau gak ada. Ella gak lihat kakak dari pagi," jawabnya dengan nada serak karena terlalu kencang menangis.
"Kakak kan harus kuliah sayang, lagian kamu tadi masih tidur saat kakak pulang."
Albian menurunkan tubuh Ella di kasur, ia juga naik di kasur itu. Saat Albian ingin menarik selimut untuk menyelimuti adiknya. Ella malah merangkak dan tidur di dada Albian.
"Kakak jangan pergi lama-lama nanti El kangen," ujarnya dengan manja.
Gadis cilik itu bermanja diatas dada sang kakak, hal itu sudah menjadi kebiasaannya sejak dia berumur 2 tahun.
"Iya kakak usahain," ujarnya mengelus rambut lembut adiknya.
Albian tak menyangka ia akan memiliki adik secantik dan semanis ini diusianya yang sudah 20 tahun. Ia mengingat saat ia berumur 10 tahun, ia saat meminta adik pada Mama dan Papanya. Tapi jawaban keduanya membuat Albian tercengang hingga ia menolak untuk memiliki adik.
"Nanti perhatian Mama dan Papa akan sepenuhnya untuk adik Bian, jadi Bian udah gak mendapat perjatian dari Mama dan Papa."
Kata kata itu yang selalu terngiang diorak kecilnya dulu. Tapi sekarang ia sudah paham akan apa kiasan yang terkandung dalam kalimat Papanya itu.
"Kakak menyayangimu sayang, walau kakak juga mencintai calon kakak ipar kamu," batin Albian mengecup kening Ella yang meringkuk diatas dadanya itu.
Albian memeluk tubuh kecil adiknya dan ikut tidur dengan posisinya.
Bersambung
Ada yang kangen Ella gak nih?