Stuck Marriage (Season 1 & 2)

Stuck Marriage (Season 1 & 2)
Penangkapan



Happy reading


"Maafin aku," ujar Keyra setelah selesai mengobati luka Albian.


"Gak apa-apa, lagian kenapa kamu masih ada disini? Bukannya kamu udah pulang dari jam 3 tadi?" tanya Al.


Keyra masih memakai pakaian yang ia pakai saat ke kampus tadi. Berarti Keyra belum pulang dari kampus atau gadis ini kemana?


"Aku belum pulang," jawabnya.


"Terus kamu kemana habis dari kampus?"


"Aish aku belum pulang, karena sempat lihat kamu main basket," jawabnya dengan malu.


"Bukannya kamu bilang mau pulang? Astaga Keyra ini sudah jam 6 sore, gak baik anak cewek pulang malam," geram Albian saat mengetahui jika Keyra baru pulang dari kampus dan nahasnya ia melihat Keyra digoda dengan para preman sialan.


"Aku cuma mau lihat kamu latihan aja, gak usah marah juga kali. Lagian aku udah biasa pulang malam dan gak terjadi apa-apa," ujarnya.


Keyra bangun dari duduknya dan berlalu begitu saja, ia melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 6.15 sore.


Albian yang melihat Keyra berjalan sendiri itu mulai bangkit dan mengejar Keyra, ia mencekal tangan gadis itu.


"Kenapa? Kamu nyuruh aku pulang hah? Aku juga mau pulang," ujar Keyra dengan malas.


"Emang aku nyuruh kamu jalan kaki? Bareng aku," titahnya tak bisa dibantah.


"Ba-bareng kamu? Naik motor?" tanyanya dengan gugup.


"Emang aku bawa mobil? Enggak kan? Ya sudah ayo keburu malam," ajak Albian menarik tangan Keyra.


"Aku bisa pulang sendiri Al," tolaklah halus.


"Sudah cukup berulang kali kamu nolak buat aku anterin, sekarang gak lagi!! Kamu harus bareng aku," ujarnya dengan wajah datar.


Akhirnya Keyra mau dan menurut untuk diantar Albian, walau ada rasa deg degan di dada Keyra.


"Ayo Keyra," ajak Albian yang sudah memakai helm full face miliknya.


"Tapi aku gak biasa naik motor sport," ujarnya.


"Naik aja Keyra, nanti pegangan aku," ujarnya dan diangguki oleh Keyra.


Gadis itu mulai naik keatas jok motor Al dengan gemetar. Albian yang merasa itu menarik tangan Keyra agar memeluk perutnya.


"Eh."


"Takut kamu jatuh Key, aku gak mau kamu kenapa - napa," ujar Albian yang membuat wajah Keyra memerah malu.


Albian menjalankan motornya meninggalkan tempat itu beserta dua preman yangbterkapar disana.


"Kita biarin preman itu gitu aja?" tanya Keyra pada Al.


"Biarin aja nanti adanya ngurus kok Key," jawabnya dengan santai.


"Siapa?" tanya Keyra.


Al diam tak menjawab bukan karena ia tak tahu, tapi ia hanya ingin Keyra jangan dulu terlalu dalam mengenal dirinya. Karena bisa saja Keyra dalam bahaya jika mengenalnya! Siapa dirinya! Dan keluarganya!


Keyra akhirnya diam dengan tangan masih memeluk tubuh Albian dari belakang. Sedangkan Al menumpuk tangannya diatas tangan Keyra dengan lembut.


"Andai waktu bisa berhenti," batin Al dengan senyum dibalik helm.


Keyra tak sadar karena ia terlalu nyaman bersandar di punggung Albian. Dirinya sendiri bingung sebenarnya ia ini siapanya Albian, mau bilang pacar tapi tak ada kata kata cinta keluar dari bibir masing masing, mau bilang teman tapi setiap hari kasih kabar dan perhatian. Sungguh Keyra bingung karena ini.


"Key mau makan malam dulu gak?" tanya Al.


"Langsung pulang aja Al, gue ngantuk," jawabnya bohong, jujur ia sedikit takut dengan lampir yang ada di rumah.


"Rumah lu yang bagian mana?" tanya Albian.


"Pagarnya warna oren," jawabnya kembali meletakkan kepalanya di pundak Albian.


Sampailah motor itu di degan rumah pagar oren tadi. Rumah dengan 3 lantai itu tampak rapi dengan bunga mawar disetiap sudutnya.


"Kamu suka mawar?" tanya Albian.


"Gak terlalu sih bunga mawar ini tanaman ibuku. Sekarang beranak pinak kalau gak ada yang ngurus pasti sudah masuk rumah," jawabnya kembali mengingat sang ibu.


"Gak apa-apa, maaf gak bisa nyuruh kamu mampir," ujarnya dengan sesal.


"Aku paham kok, aku pulang ya. Jangan lupa besok datang, kamu harus menjadi penyemangat aku pokoknya," ujar Albian dan dianggukan oleh Keyra.


Setelah berpamitan Al berlalu meninggalkan area rumah itu menuju mansionnya. Entah apa yang akan dilakukan adik adiknya nanti jika tahu ia pulang telat.


Keyra menatap Albian yang sudah menjauh itu dengan senyum, tapi tak lama ia muram karna pintu sudah dikunci.


"Untung aku punya kunci cadangan," gumamnya seraya mengambil kunci rumah itu dari dalam tasnya.


Ceklek


Keyra mengunci kembali pintu itu dengan rapat.


"Darimana saja kamu baru pulang?" tanya Papa Arga pada Keyra.


"Nonton anak latihan basket," jawabnya datar.


"Yakin, kamu gak club dan jajahan tubuh kamu?" tanya Papa Arga lagi.


"Terserah Papa mau ngomong apa," malas Keyra. Ia melihat ada mama dan adik tirinya disana.


Tok! Tok! Tok!


Mereka berempat menatap kearah pintu hingga Mama Age membuka pintu rumah itu. Ia juga bingung siapa yang datang malam malam begini.


Ceklek


Mama Age melihat ada dua polisi didepan rumahnya, seketika Mama Age kaget kenapa ada polisi disini.


"Mohon maaf pak, cari siapa ya?"


"Apa benar ini rumah saudari Sisil?" tanya salah satu polisi itu dengan tegas.


"Iya benar."


"Kenapa mereka mencari anakku?" tanya Mama Age dalam hati.


"Siapa Ma?" tanya Papa Arga ikut keluar sedangkan Keyra berlalu menuju kamar.


"Polisi pah," jawab Mama Age.


"Cari siapa ya pak?"


"Kamu membawa surat penangkapan untuk Nona Sisil, beliau terlibat dalam rencana pelecehan terhadap Nona Keyra Tuan tadi sore tuan," jawab polisi satu itu hingga membuat Papa Arga meradang tak terkecuali Mama Age yang malu akan kelakuan anaknya.


"SISIL," teriak Papa Arga.


Sisil yang baru saja menghidupkan televisi itu tersentak kaget karena teriakan Papa tirinya.


Dengan cepat Sisil berlalu menuju tempat dimana mama dan papanya.


Deg


"Kenapa ada polisi disini?"


"Benar kamu ingin menjebak Keyra, Sil?" tanya Papa Arga dingin.


"Enggak pah, aku kan dari siang udah di rumah. Aku gak ada niatan buat rencanain itu," enaknya dengan gemetar.


"Tapi dua preman yang sudah Anda bayar sudah kami tangkap dan mereka mengaku jika Anda yang menyuruh mereka untuk melecehkan Nona Keyra adalah Anda," ujarnya dengan tegas.


Akhirnya Sisil dibawa dua polisi itu hingga membuat Sisil berteriak histeris. Ia tak menyangka jika kejahatannya akan terbongkar seperti ini.


"Papa bebasin Sisil dari polisi pah."


"Tidak!! Aku tak akan melepaskan orang yang berusaha ingin mencelakai putriku, putri kandungku."


"Jangan salahkan aku jika hubungan kita juga tak akan berjalan seperti dulu," ujarnya berlalu meninggalkan Mama Age disana.


"Sial, anak itu membuatku dalam kebangkrutan sekarang," batin Mama Age mengumpat putrinya.


Bersambung