
Happy reading
Berbeda dengan Alex dan Ariana yang sedang memadu kasih dan sayang. Di sebuah rumah besar terjadi cek cok sepasang suami istri yang baru berberapa bulan saling mengikat itu.
"Aku gak mau caesar aku mau lahiran normal, Nic."
"Tapi lahir normal itu bahaya untuk kamu Lun. Aku mohon turuti apa kataku," ujarnya meninggikan.
"Lebih baik aku mati dengan merasakan sakitnya, aku tahu kamu menikahi aku karena anak ini kan?"
"Aku tahu, kamu masih mencintai Clara. Sedangkan aku hanya wadah untuk anakmu Nic, karena kesalahanmu. Aku mohoh jika aku harus mati biarkan aku merasakan sakitnya melahirkan, aku mohon," isaknya.
"CUKUP."
"Kamu bukan wadah Luna, aku suah berjanji untuk menikahimu secara agama dan hukum. Dihadapan tuhan aku sudah berjanji untuk mencintaimu, menerima segala yang ada dalam dirimu, baik itu butuk ataupun baiknya," ujar Nico memegang tangan Luna yang masih harus bedrest.
"Aku bukan hanya menginginkan anak kita tapi juga kamu, aku mohon."
"Tapi kamu tak menerimaku dihatimu Nic, aku sakit melihatmu selalu menangis setiap malam dengan memegang foto Clara. Aku sakit," batinnya menangis. Luna tak bisa mengatakan apa yang ia rasa sekarang.
"Aku akan tetap melahirkan normal, aku harap setelah anak kita lahir kamu bisa merawat dan membimbingnya."
"Ya, kita rawat sama sama, aku gak mau kamu ngomong gitu."
"Dokter pernah bilangkan kalau kandungan aku lemah Ar! Caesar atau normal itu sama saja resikonya," ujar Luna menatap perutnya yang sudah besar.
Bahagia rasanya ia ingin menjadi seorang ibu. Tapi rasa khawatir dan sedih saat dokter bilang resiko melahirkan mereka sama-sama besar.
"Hei kamu tidak ingat apa kata dokter jika masih ada kesempatan untuk kita jika kamu caesar Lun, walau harus ada sedikit cacat," ucapnya dengan nada lirih diakhir kalimat.
"Tapi aku takut, lebih baik normal saja," ujarnya dengan nada terisak.
"Aku akan selalu ada disampingmu Luna, aku ada untuk kamu dan anak kita. Aku mohon kita lahiran caesar aja ya?"
"Tapi.."
"Ssttt gak ada bantahan. Aku akan lakukan yang terbaik untuk kamu dan anak kita. Aku janji," ujarnya dengan senyum.
"Kenapa kamu mengucapkan ini jika hatimu masih milik orang lain?" tanyanya dalam hati.
"Kenapa kamu mengatakan ini jika kamu tak mencintaiku Nic?"
"Hmm.... Siapa bilang aku tidak mencintaimu.Aku melakukan hal ini juga karena aku mencintaimu Lun. Walau masih ada sedikit rasa untuk Clara tapi percayalah cintaku padamu lebuh besar. Aku minta maaf jika sering menyakitimu karena aku menangis saat malam. Aku hanya takut kamu akan menyusul Calara dan meninggalkan aku. Aku gak bisa kehilangan untuk kedua kalinya. Cukup Clara yang pergi jangan kamu."
Nicola mengeluarkan segala isi hatinya, kenapa ia menangis saat malam.
"Ka-mu mencintaiku?" tanya Luna terbata.
"Yah aku mencintaimu, tapi aku takut jika kamu menolakku karena masa laluku yang kelam. Aku bukan laki-laki suci yang tak memiliki dosa, bahkan jika dibandingkan aku tak pantas untuk wanita sesempurna diriku," ujarnya.
Luna yang mendengar hal itu langsung menangis, ia tak bisa membohongi hatinya jika saat ini ia sangat bahagia atas penyataan Nicola.
"Hei kenapa menangis? Apa aku menyakitimu Lun. Aku hanya menyurahkan apa yang ada dihatiku. Maaf.... Sudah jangan menangis ya, nanti baby ikut sedih loh," ujarnya mengelus perut istrinya.
"Aku mencintaimu Nic, aku mencintaimu," lirihnya menumpuk tangannya diatas perut itu.
Deg
"Aku mencintaimu Nicola Noval, aku sangat mencintaimu," ucapnya dengan lantang walau harus terputus.
Nicola yang mendengar itu tak bisa membendung rasa senangnya. Nico memeluk tubuh Luna dengan erat. Ia merasa menjadi lelaki yang seutuhnya dengan balasan cintanya tadi. Ini belum terlambat ya ini belum terlambat.
"Terima kasih, sudah mau mencintaiku. Lelaki kotor yang bahkan sering diacuhkan oleh orang lain," ujarnya dengan senyum. Ia mengecup kening Luna berkali kali.
"Terima kasih nak, ayah mencintaimu," ucapnya tepat didepan perut besar Luna.
Cup
Nicola mencium lama perut itu dan kembali memeluk tubuh Luna.
"Sejak kapan kau mencintaiku Lun?" tanya Nicola mengelus rambut istrinya.
"Sejak kamu datang kedesa untuk mencariku," jawabnya pelan.
"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak atas cintamu Lun," ujarnya dengan senyum mengembang.
Tak bisa dibayangkan betapa senangnya keduanya saat cinta mereka tak bertepuk sebelah tangan.
"Sekarang tidur ya, aku gak mau kemu kenapa-napa gara gara tidur terlalu malam," ujarnya membaringkan istrinya dengan pelan.
"Hmmm."
"Nic," panggil Luna menghadap Nico yang sedang mengelus perutnya.
"Hmm."
"Gimana kalau saat aku melahirkan terjadi sesuatu sama aku atau bayi kita?" tanya Luna lembut.
"Aku gak akan biarin itu terjadi," jawabnya tak mau memberi jawaban lebih.
"Aku butuh jawaban Nic," ujarnya tak puas akan jawaban suaminya.
"Udah malam, waktunya tidur," ujarnya memeluk tubuh isyrinya dan menjadikan lengannya sebagai bantal istrinya tak lupa juga bantal dibawah perut istrinya.
Cups
"Selamat malam istri," ucapnya lembut memberikan kecupan di kening Luna.
"Malam juga suami," jawabnya sedikit malu dan menyembunyikan wajahnya didada suaminya.
"Jika disuruh memilih antara kau dan anak kita, aku akan meminta pada tuhan untuk menyelamatkan kalian berdua tapi jika satu aku harus mengikhlaskan anak kita Lun. Aku gak mau kamu pergi," batinya kembali mengecup kening Luna.
"Aku akan tetap mempertahankan anak kita, walau nyawaku taruhannya," batin Luna menikmati detak jantung suaminya.
Bersambung
📌Nafsu Atau Cinta (On going) Cerita Mami Gloria dan Papi Arthur
Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏