
Happy reading
"Ariananya ada?" tanya laki-laki itu sopan.
"Kau siapa?" tanya Alex dengan nada tak bersahabat.
"Ini pasti kakaknya Ariana," batin pemuda itu.
"Oh, perkenalkan saya Andrian dokter di desa ini. Anda kakaknya Ariana ya?" tanya Andrian seolah tahu.
"Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Alex dingin seolah tak suka dengan kedatangan Andrian.
"Saya mau ketemu Ariana kak, mau nagih jawaban sama Ariana," jawabnya yang membuat Alex bingung.
"Jawaban?" tanyanya dalam hati.
"Apa hubungan kamu dengan Ria?" tanya Alex.
"Siapa sayang?" tanya Ariana yang sudah berada di belakang Alex.
"Nih orang nagih jawaban dari kamu," jawab Alex menggeser tubuhnya.
"Eh ada apa kak?" tanya Ariana pada Andrian.
"Nih buat kamu, semoga suka ya." Andrian memberikan sebuket bunga mawar untuk Ariana. Alex yang melihat itu langsung merebut bunga mawar yang dibawa Andrian.
"Ria gak suka mawar," ujar Alex membuang bunga itu.
"Maaf ya kak, Ariana sudah sering terima bunga mawar dari saya dan dia fine fine aja," ujar Andrian tak terima bunganya di buang begitu saja.
"Sudah-sudah, ada apa ya kak Andri ke sini?" tanya Ariana pada Andri. Ia tak mau sampai ada pertengkaran diantara dua laki-laki ini.
"Aku hanya minta jawaban kamu soal lamaran aku kala itu Ri. Aku siap menjadi ayah dari anak kamu nanti. Aku mohon beri jawaban untukku," ujar Andrian yang membuat Alex mengepalkan tangannya.
"Lamaran!!! Ria, harusnya kamu langsung tolak dia," batin Alex marah. Suami mana yang tak matah jika istrinya di lamar pria lain di hadapannya.
"Kak... Aku sudah pernah menjawabnya, aku tak mau menikah lagi. Lagipun aku belum resmi bercerai dengan suami aku. Aku hanya menganggap Kak Andri itu kakak biat Ariana dan paman untuk anakku. Tolong jangan berharap lebig," jawab Ariana dengan sopan. Alex cukup lega dengan jawaban Ariana walau ada hal yang tak enak di telinganya.
"Tapi aku mencintai kamu, apa tidak ada harapan untukku?" tanya Andrian dengan wajah melas.
"Tidak ada dan tidak akan pernah," sela Alex yang membuat Andrian kesal.
"Sebenarnya kakak kamu ini ada masalah apa sih sama aku? Kayak gak suka gitu?" tanya Andrian menatap Alex tak suka.
"Kakak?" gumam Ariana menatap suaminya.
"Dia bukan kakak aku kak Andri," ujar Ariana pada Andrian.
"Terus kalau bukan kakak kamu siapa?" tanya Andrian uang sudah menatap mata Alex seperti musuh.
"Aku suaminya!! Dan aku tidak mengizinkan siapapun untuk melamar atau mendekati istriku," jawab Alex menatap tajam Andrian.
"Suami?"
Bugh
Tanpa berbasa basi Andrian menonjok perut Alex hingga terhuyung ke belakang.
"Oh jadi kamu yang sudah telantarin Ariana dan bayinya hah?"
Ariana menghentikan Andrian yang terus memukul Alex.
"Kak sudah, ini cuma salah paham. Alex tidak menelantarkan aku. Sebaiknya kakak pulang dan maaf aku tak bisa menerima cinta kakak, aku mencintai suamiku," tegas Ariana membangunkan suaminya dan memapahnya ke dalam rumah.
Andrian pergi dari rumah itu mengendarai motor meticnya, Andrian adalah seorang dokter umum di desa ini. Andrian menyukai Ariana sejak pertama kali Ariana membawa Bi Erni ke rumah sakit. Tapi Ariana hanya menganggap Andrian tak lebih dari seorang kakak untuknya.
"Sakit ya?" tanya Ariana mengompres bibir sang suami yang berdarah. Sakit di perut dan di bibir tidak ada apa-apanya bagi Alex, tapi sakit ditinggal Ariana itu yang luar biasa.
Alex hanya diam seraya menahan perih saat benda dingin itu menyentuh luka di bibirnya.
"Maaf ya," ujar Ariana lagi.
"Hmm."
"Kamu marah?" tanya Ariana saat merasakan aura berbeda dari Alex.
"Enggak, cuma kesel aja," jawab Alex sedikit ketus.
"Kesel buat apa? Aku gak selingkuh kok dari kamu, kak..."
"Jangan panggil dia kak," sela Alex tak suka.
"Iya iya, Andrian cuma kakak buat aku walau dia sudah berulang kali lamar dan berjanji akan anggap anak ini anaknya aku gak mau. Karena aku masih cinta sama kamu, aku bukan cewek murah yang mau aja dipinang cowok lain," jelas Ariana yang masih sabar mengompres bibir suaminya.
"Aku tahu, tapi aku kesel sayang. Kita baru ketemu dan pria lain minta jawaban atas lamarannya. Jika saja aku telat datang ke sini, kamu pasti bakal terima dia kan!!"
"Istighfar sayang, kamu mah suuzon aja sama aku. Emang kalau aku terima pinangan laki laki lain kamu rela?" tanya Ariana membereskan baskom dan kain yang ia bawa tadi dan berlalu menuju dapur.
"Sayang perut aku belum," teriaknya membuka kemejanya dan memperlihatkan perutnya yang memar.
"Jangan teriak-teriak kalau bibi terganggu gimana?" geram Ariana pada sang suami.
"Perut aku belum kamu kompres," Alex memperlihatkan perut kotak kotaknya.
"Kompresnya udah terlanjur sku balikin ke dapur, " jawabnya santai.
"Elusin kalau begitu!!" Alex menarik tangan Ariana pelan hingga wanita hamil itu duduk di sampingnya.
"Kenapa bekas ini gak hilang?" tanya Ariana menyentuh tanda yang tak sengaja ia buat.
"Kenapa? Aku malah suka dan akan ku tunjukin kesemua orang kalau istri aku ganas di ranjang," ujarnya dengan bangga.
"Kalau sampai itu terjadi jangan salahin aku kalau kamu mau aku pergi lagi dari rumah, " ancam Ariana meniup bekas tinjuan di perut Alex.
"Dan sebelum kamu pergi dari rumah, aku bakal kurung kamu di kamar untuk waktu yang tidak ditentukan, dan tugas kamu hanya layani aku terus," jawabnya bangga.
"Aku bakal laporan kamu dikomnas HAM," tampaknya Ariana tak mau mengalah.
"Sebelum itu terjadi semua ponsel dan alat komunikasi lain aku sembunyikan," ucapnya mengelus perut Ariana. Alex masih bersyukur bisa mengelus perut istrinya seperti ini.
"Ak...
Tok! Tok! Tok!
"Asshhh siapa sih yang ganggu, awas aja kalau gak penting," Alex bangkit dari duduknya dan membuka pintu itu diikuti oleh sang istri.
"Kalian...
Bersambung
Jangan lupa Like + Komen + Vote dan masukkan ke daftar favorit kalian. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏