
Happy reading
"Kamu gak kerja?" tanya Ariana pada suaminya yang sedang mengeringkan rambut panjangnya itu.
"Aku libur untuk hari ini, khusus buat istriku," jawab Alex seraya mengecup pucuk kepala Ariana.
"Kenapa gak kerja aja? Kalau atasan kamu marah terus pecat kamu gimana?" tanya Ariana membalikkan tubuhnya menatap Alex yang tersenyum melihat bercak kiss mark di leher dan atas dada Ariana yang tak tertutup baju.
"Kenapa senyum senyum gitu?" tanya Ariana menatap suaminya bingung.
"Gak apa-apa."
"Gimana kalau kamu di pecat?" tanya Ariana sekali lagi.
"Gak apa-apa, jika mereka berani," jawabnya menangkup pipi sang istri.
"Emang kamu siapa bisa mereka gak berani?" tanyanya seraya meledek sang suami.
"Aku suami kamu lah."
Alex menarik tangan Ariana agar duduk di pangkuannya, walau malu Ariana tetap menurut.
"Aku bahagia banget, kamu tahu karena apa?" tanya Alex menatap mata Ariana dengan cinta. Ariana menggeleng.
"Karena cintaku tak bertepuk sebelah tangan, aku pikir kamu akan tetap menutup hati kamu mengingat aku hanya sopir taksi," dengan sendu Alex berucap. Ariana menatap suaminya dan menggeleng.
"Bagiku bertemu dengan kamu adalah sebuah kesempatan untuk bisa berbuat lebih baik lagi, dan yah terbuktikan aku yang dulu gak bisa nyuci baju, nyuci piring, masak, bersihin rumah. Sekarang udah bisa, dan semua itu berkat kamu suamiku." Dengan malu malu Ariana menyembunyikan wajahnya di dada Alex.
"Itu juga karena kemauan kamu sayang."
"Emm aku mau bicara siapa aku sama kamu, semoga setelah kamu dengar ucapan aku ini kamu gak marah sama aku." Raut wajah Ariana berubah menjadi serius.
Alex hanya mengangguk, seraya menyelipkan anak rambut sang istri di balik telinga.
"Sebenarnya aku..
Tok tok tok
Ucapan Ariana terpotong saat ada suara ketukan pintu yang terdengar jelas sampai ke kamar mereka. Keduanya saling pandang dan tersenyum.
"Ada tamu, kamu bukak dulu gih. Aku mau tutupin bekas ini." Ariana menutup lehernya dan bangkit dari pangkuan sang suami.
"Gak usah di tutup sayang, ini karya aku," tolak Alex saat Ariana ingin menutup kiss mark buatannya itu.
"Tapi.."
Tok tok tok
"Gak ada tapi tapian yuk." Tanpa basa basi Alex menarik tangan sang istri keluar dari kamar. Untung rambut Ariana agak panjang jadi bisa untuk menutupi bercak bercak kiss mark di lehernya.
Ceklek
"Kenapa ya?" tanya Alex to the poin, menatap pria yang masih diingatnya ikut memprofokasi warna untuk menikahi Ariana dulu.
"Maaf Mas Alex dan Mbak Ariana, saya mau minta tolong untuk antarin istri saya mau lahiran," pinta Pak Ahmad yang tak lain adalah tetangga kontrakan mereka.
"Saya minta tolong, istri saya merintih di kamarnya," pinta Pak Ahmad sampai berlutut di kaki Alex.
Alex yang bingung itu menatap sang istri dan mengangguk. Alexpun meng-iyakan permintaan Pak Ahmat yang memintanya untuk mengantarkan istri Pak Ahmad ke rumah sakit.
"Kamu ikut." Alex menarik tangan istrinya masuk ke dalam taksi, sedangkan Alex ikut Pak Ahmad ke dalam rumah untuk membopong istri Pak Ahmad yang sangat kesakitan itu.
"Cepat Lex jalan," perintah Ariana yang memang tak kuat melihat orang yang merintih akan melahirkan mengingat dulu pertemuannya dengan Alex saat Alex membawa ibu yang akan melahirkan.
Alexpuj menjalankan taksi itu menuju rumah sakit dengan kecepatan sedang.
"Tahan dek, kita ke rumah sakit sekarang. Tahan sebenatar lagi ya. Anak ayah jangan buat ulah dulu kasihan ibu," ucap Pak Ahmad yang sukses membuat Ariana tersentuh dengan ucapan sederhana itu.
"Ahh sakit mas, perut Ai sakit," teriak istri Pak Ahmad mencakar tangan suaminya dengan satu tangan meremas perut besarnya.
"Ibu yang sabarnya, gak lama lagi kita sampai di rumah sakit kok." Ariana ikut menenangkan istri Pak Ahmad.
"Asshhh sakit," rintihnya pilu seraya meremas perutnya, Ariana yang mendengar itu memegang perutnya.
"Apa mungkin aku nanti akan seperti ini?"
Alex hanya memegang tangan Ariana seraya mengecupnya singkat sontak saja perlakuan itu membuat Ariana tersenyum malu.
"Lebih cepat ya mas," pinta Pak Ahmad yang tak tega melihat sang istri seperti ini. Alex mengangguk dan menambah kecepatan taksi itu.
Tak lama sampailah mereka di rumah sakit, Pak Ahmad langsung memanggil brangkar untuk membawa istrinya ke dalam.
"Terima kasih sudah mau mengantar kami, untuk bayarannya nanti jika istri saya sudah pulang dari sini saya bayar ya mas, mbak," ucap Pak Ahmad yang hanya diangguki oleh keduanya.
"Sekali lagu saya terima kasih." Dengan cepat Pak Ahmad mengikuti perawat yang membawa istrinya.
"Kita pulang?" tanya Ariana menatap suaminya.
"Emang mau kemana lagi?" tanya Alex membukakan pintu taksi untuk sang istri.
"Kirain mau ikut ke dalam."
"Main cium cium aja deh," cemberutnya tapi juga tersenyum seraya memegang keningnya.
"Jangan lupa pakai sabuk pengamannya," ucap Alex pada sang istri.
Merekapun meninggalkan area rumah sakit dengan kecepatan pelan Alex mengendarai taksi itu.
"Emang kamu mau anak dari aku?" tanya Ariana menatap suaminya.
"Maulah, kamu istri aku. Aku udah nebar benih juga di rahim kamu supaya apa hmm?" tanya Alex mengecup punggung tangan Ariana.
"Ih Alex mah main cium cium aja." Ariana menarik tangannya tapi malah didekap Alex di dadanya.
"Kenapa? Gak suka? Gak peduli, kamu istri aku. Semua yang ada di tubuh kamu udah jadi milik aku." Dengan senyum mesum Alex menghentikan taksinya.
"Iya aku milik kamu, tapi kenapa berhenti?" tanya Ariana menatap suaminya bingung.
"Duduk dipangkuan aku yank."
"Enggak," jawabnya spontan.
"Sekali kali ayang, cuma duduk di pangkuan aku kok gak lebih," rengeknya dengan wajah melas.
"Kamu gak macem macem kan?" tanya Ariana dan dijawab gelengan oleh Alex.
"tapi gak tahu nanti."
Ariana melepas sabuk pengamannya begitupun juga dengan Alex hingga memudahkan Ariana jika duduk dipaha sang suami.
Cups
"Alex," teriak Ariana saat bibirnya disosor oleh suaminya.
"Bibirmu tuh candu sayang, apalagi ini." Alex meremas kecil dada Ariana.
"Alex jangan gitu." Ariana yang malu itu menyenderkan kepalanya di dada sang suami.
"Kamu bener cinta gak sih sama aku?" tanya Ariana yang masih belum percaya akan suaminya.
"Aku cinta kamu sayang, sumpah," dengan sungguh-sungguh Alex berucap seraya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kapan? Kenapa gak bilang kalau kamu cinta sama aku?" tanya Ariana menatap suaminya.
"Saat setelah aku tahu kamu dan kenal sama kamu," jawabnya santai tapi tanpa sadar ada rahasia yang tersimpan disana.
"Kenapa gak bilang?" tanya Ariana kesal saat suaminya lebih dulu mencintainya.
"Karena aku takut kamu akan menolakku."
"Tahu ah kesel." Tanpa sadar ucapan dengan nada begitu membuat Alex terangsang apalagi istrinya hanya memakai rok pendek.
"Yank."
"Hmm," ketus.
"Udah sembuh belum hunian anakonda?" tanya Alex menatap sang istri tapi dengan tangan yang masih memegang kemudi.
Blus
"Jawab sayang," rengek Alex seperti anak kecil.
"Belum masih ngilu sedikit," jawabnya lirih.
"Jadi nanti boleh aku masukin lagi?" tanya Alex semakin mencepatkan taksi itu.
"Alex mah jangan bahas itu lagi, aku malu," cicitnya.
"Tapi kamu udah bikin anakonda milikku bangun sayang, kamu tega biarin dia tetap gini." Alex menggoyangkan tubuh sang istri agar Ariana dapat merasakan anakonda miliknya.
"Waktunya gak tepat."
"Jadi tepatnya gimana?" tanya Alex dengan nada berat.
"Naanti di kontrakan," jawabnya malu.
"Oke gas."
Dengan semangat Alex mempercepat laju taksinya agar cepat sampai kontrakan dan memadu kasih dengan sang istri.
Bersambung
_____
Jangan lupa Like + Komen + Vote dan tambahkan difavorit kalian. Share juga novel ini ya😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏
Visual Ariana dan Alex ada di episode 20 ya😊