Stuck Marriage (Season 1 & 2)

Stuck Marriage (Season 1 & 2)
Meminta Izin



Happy reading


Tak terasa hari sudah malam tapi Luna belum juga sadar. Nicola juga tak berubah dari duduknya dengan tangan yang menggenggam tangan Luna. Gak panas apa ya tu pantat?


"Kenapa kamu betah banget tidurnya? Gak kangen aku apa ya."


Dokter bilang Luna akan sadar jika reaksi obat itu telah habis tak tak menutup kemungkinan jika sadarnya Luna akan lebih lama. Tapi itu semua juga keinginan Luna ingin bangun atau tidak.


"Aku akan kemakam besok, maaf aku tak mengajakmu," ucapnya.


Di bawah alam sadarnya Luna mendengarkan apa yang diucapkan Nico tapi ia tak bisa membuka matanya.


"Aku ingin ikut tapi kenapa aku tak bisa membuka mata ini."


Luna hanya bisa menangis dalam tidurnya hingga air mata itu terjatuh dari matanya.


"Kamu pasti dengar ya aku ngomong apa?"


"Yah aku mendengarnya."


"Aku akan memintamu pada ayah dan Clara, kamu jangan khawatir ya. Aku juga akan kemakam orang tuaku untuk meminta restu, pasti mereka senang aku akan menikah."


Akhirnya setelah berberapa saat Nicola meluapkan semuanya pada Luna, pria itu tertidur dengan memeluk perut buncit Luna dengan nyaman.


***


Keesokan harinya Nicola yang terbangun dari tidurnya itu langsung menatap Luna yang masih stay menutup mata.


Nicola melepaskan gengaman itu dan berjalan menuju kamar mandi, untung kemarin David membawakan pakaiannya kerumah sakit.


Tak sampai 20 menit Nicola sudah rapi dengan pakaian santainya. Ia akan ke makam ayah Luna, Clara, dan makam Orang tuanya yang ada dikota.


Saat ia ingin menggenggam tangan Luna tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka paksa oleh seseorang yang lain adalah orang yang suah membuat Luna seperti ini.


"Maaf bos, dia yang ngotot ingin bertemu dengan Anda," ujar asisten David bersalah.


"Saya mohon tuan jangan pecat saya, saya minta maaf karena sudah membuat Luna masuk rumah sakit. Saya tidak tahu jika Luna ada hubungannya dengan tuan. Saya mohon jangan pecat saya," ujarnya.


"Kamu.... Kamu pantas dipecat dari perushaan saya. Saya tidak memerlukan karyawan yang menyakiti karyawan lain apalagi itu adalah istri saya. Gara-gara kamu kami hampir kehilangan bayi kamu asal kamu tahu," ucapnya menaikkan satu oktaf suaranya.


"Maaf tuan saya tidak tahu," tangis wanita itu.


"Bawa wanita gila ini keluar dari tempat istriku Dav," perintah Nicola pada asistennya. David mengangguk dan menyeret wanita itu keluar dari ruangan Luna.


"Dia mengakuiku sebagai istri!"


"Luna sku pergi dulu mungkin besok pagi aku akan sampai disini lagi. Aku akan segera menikahimu disini walau kamu sadar ataupun belum," ujarnya dengan serius.


"Anak Ayah yang baik di dalam ya. Jaga Bundamu dengan baik," ucapnya mengelus perut Luna dan mengecupnya.


"Aku menunggumu Nic."


Air mata itu lagi-lagi keluar dari mata Luna, Nicola menghapusnya dan mengecup kening dan dua mata Luna. Ia berharap semoga Luna sudah terbangun saat ia sampai.


"Dav, jaga istriku. Kerahkan berberapa bodyguard untuk menjaganya. Jangan sampai dia kenapa-napa!"


"Baik tuan."


Nicola meninggalkan area rumah sakit dan melajukan mobilnya menuju makam Ayah Luna. Sampailah ia di TPU, Nicola bertanya kepada bapak penjaga makan dimana makam Bapak Ari Adison.


"Assalamualaikum yah, perkenalkan saya Nicola. Kedatangan saya ke sini untuk menikahi putri bapak yang bernama Luna. Maaf jika selama ini saya memberikan banyak masalah termasuk kehamilan Luna. Saya akan bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan pak. Mohon restui kami."


Nicola kembali melajukan mobilnya menuju kota, walau ia butuh berjam jam ia rela. Hanya untuk mrminta restu dan izin dan mendiang Clara dan mendiang orang tuanya.


Berberapa jam kemudian Nicola sampai dikota, ia hanya berberapa kali berhenti di POM bensin dan restoran untuk mengisi perutnya.


"Huffttt aku akan ke makan sore nanti," gumamnya.


Nicola menjalankan mobilnya menuju rumah sang sahabat ia berharap Alex bisa mengerti dengan apa yang nanti akan ia jelaskan.


Tok!Tok!Tok!


Dan terbukalah puntu rumah itu, Ariana yang baru saja selesai menyusui bayinya itu terkejut ketika melihat Nicola ada datang bersama suaminya.


"Sudah pulan mas? Kok barengan sama Nico?" tanya Arisna mencium tangan Alex dan dibalas kecupan singkat di kening dan bibir Ariana.


"Gak tahu dia seperti ada masalah," jawabnya mengecup pipi tembem sang putra.


"Kamu mandu dulu gih, biar aku buatin dia minum," ujarnya pada sang suami.


"Sun sek ping telu," ucap Alex menahan tangan sang istri.


"Apa itu?" tanya Ariana tak paham.


"Cium sayang tiga kali disini," pintanya menyentuh bibirnya.


Cups cups cups


"Lagian dapat kata itu dari mana lagi?" tanya Ariana tertawa.


"Dari Vito sayang, katanya gitu," jawabnya mengecup bibir Ariama sebelum berlalu menuju kamar.


"Ada ada aja," gumamnya.


"Nic, kamu mandi dulu gih. Kamu habis dari luarkan?"


Nicola tak menjawab tapi ia berlalu menuju kamar tamu yang dulu digunakan untuk bercinta dengan Luna.


Ariana menggendong Bian dan membuat minuman untuk suami dan Nicola.


"Sayang," panggilnya dengan memeluk perut Ariana.


"Udah selesai?" tanya Ariana membalikkan badannya.


"Udah nunggu kamu ke kamar juga gak datang," cemberutnya seraya mengecup tengkuk leher Ariana. Untunglah Mami dan Papi ada acara sendiri tapi masalahnya kini ada Nicola dirumah ini.


"Nanti lagi, kslau Nico lihat gimana?" tanya Ariana pada suaminya.


"Biarin aja."


Tanpa mereka saari Nico sudah ada dibelakang mereka an berdehem keras.


"EHEM."


Bersambung


📌Nafsu Atau Cinta (On going) Cerita Mami Gloria dan Papi Arthur.


Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊


Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏