
Happy reading
"Mah pah nanti Al izin pulang telat ya, Al ada latihan basket nanti," izin Albian pada orang tuanya.
"Iya sayang tapi jangan malam malam ya pulangnya," jawab Mama Ariana pada anak sulungnya.
"Siap," jawabnya dengan senyum.
"Kembar mana mah?" tanyanya.
"Masih tidur, udah biarin aja daripada ganggu kamu mau kuliah."
Albian mengangguk dan menghabiskan sarapannya.
Setelah selesai, Albian pamit kepada kedua orang tanyanya yang ada disana.
Albian berlalu menuju garasi dan mengambil motornya, Al lebih suka mengendarai motor daripada mobil karena lebih cepat sampai di kampus memakai motor.
Pria 20 tahun itu mulai menjalankan motornya meninggalkan mansion besar itu.
Di tengah perjalanan Al melihat cewek yang ia lihat kemarin di halte bus bersama dengan beberapa cewek lainnya. Al menghentikan motornya tepat disana yang membuat wanita wanita disana berteriak histeris saat melihat lelaki tampan didepan mereka.
"Hei kamu ayo bareng," ajak Al pada Keyra yang berada dibelakang cewek cewek itu.
Bukannya menjawab Keyra malah diam dan bertepatan dengan bus yang ia tunggu datang Keyra berlalu menuju bus meninggalkan mereka disana.
"Al aku mau dong bareng."
"Enak aja Al ngajak aku ya."
"Enggak aku yang boleh bareng kakak Al"
"Kak Al bareng ya, kita satu kampus kok."
Al hanya tersenyum tipis dan kembali memakai helm film face miliknya.
"Maaf ya, aku duluan."
Albian kembali menjalankan motornya menuju kampus, pikirannya masih mengarah pada cewek yang menghindarinya tadi. Ia tak tahu kenapa rasa penasaran itu muncul dalam diri Albian.
"Siapa cewek tadi?"
Tak lama berperang dengan pikirannya, Al sampai di kampus. Seperti biasa Al selalu menjadi idola di kampusnya terutama para cewek tapi hal itu tak dipedulikan oleh Albian.
"Hai Al."
"Makin ganteng aja sih."
"Mama lu dulu ngidam apa sampai lahir cowo se sempurna lu?"
"Yang pasti gak ngidam emak lu," jawab teman sebelahnya.
"Yee sirik aja lu."
"Kak Al mau gak jadi pacar aku?"
"Sama gue aja Al, dijamin bahagia."
"Bahagia dari hongkong."
Sekiranya begitulah ocehan mahasiswi disana akan kedatangan Albian yang penuh akan pesona.
Tanpa menjawab Al turun dari motornya dan menuju kelas. Al bagai artis yang dikawal oleh bodyguardnya menuju kelas.
"Al," panggil seorang wanita.
Albian menoleh dan mengangkat alisnya seakan bertanya, kenapa?
"Minggir lu semua," usir wanita tadi pada cewek cewek disana.
Melihat cewek angkuh itu semua mahasiswi yang tadinya mengikuti Al kini bubar menuju kelas masing-masing.
"Al, lu hari ini ada waktu gak?"
"Gak ada," jawabnya singkat.
"Loh bukannya kamu cuma kelas sampai siang?"
"Hmmm."
"Maaf."
"Tapi besok lu ada waktu kan?"
"Gak ada juga," jawabnya lagi.
"Kenapa lagi?"
"Gue gak ada waktu ladenin cewek model lu," jawabnya pedas. Entahlah kenapa Albian memiliki banyak sifat begini.
Albian berlalu menuju kelas meninggalkan cewek seksi itu disana.
"Sial, apa sih kurangnya gue sampai dia gak mau terima ajakan gue? Gue ini seksih, cantik, dan gak ada yang ngalahin tubuh gue tapi kenapa tu cowok kek gak ada respon sama sekali ya?" tanyanya dengan kesal.
"Awas aja Al, gue akan mendapatkan lu dengan cara apapun," batinnya berlalu meninggalkan tempatnya.
Albian berlalu menuju ruang musik dan menutup Pintunya. Ia menuju piano yang biasa aja mainkan saat kelas belum dimulai
Al mulai menekan tuts piano itu dan memainkan sebuah lagu, tanpa tahu jika diluar ada seseorang yang mengintip Al bermain piano.
"Kenapa sih kamu sempurna banget? Apa salah aku mengagumi? Hahaha biarlah ku mencintaimu dalam diam," batin Keyra mengintip permainan indah Albian.
Merasa ada yang memperhatikan Albian menghentikan bermain-main dan menatap kearah pintu yang mendapati bayangan seorang perempuan yang berlari.
Tapi Albian tak peduli akan itu, ia merapikan piano nya dan keluar dari ruang musik itu.
Albian berjalan menuju kelasnya dengan santai, ia bingung kenapa para mahasiswi disini sangat mengidolakannya padahal dia biasa saja tidak ada apapun dalam dirinya. Tampan yah mungkin hanya itu yang ia punya.
Berbeda lagi dengan di rumah, Triple A menangis mencari keberadaan kakaknya.
"Huaaaa kakak dimana?"
"Hiksss kak Al gak sayang Ella," tangis Ella dengan segukkan.
"Iya kakak pergi tapi gak pamit kita, dia gak sayang kita lagi," tangis Idan.
Tangis mereka bertiga tak kunjung berhenti hingga suara Mama Ariana menghentikan tangis mereka.
"Sayang udah ya jangan nangis, kakak cuma ke kampus buat belajar. Nanti kakak pulang kok nak, jangan nangis gini hmmm! "
Dengan telaten Mama Ariana menghapus air mata ketiga anaknya dengan tisu, kemudian memeluk ketiganya.
"Tapi kakak gak pamit ma," ujar Ella dengan sedih.
"Kakak tadi mau pamit, tapi kalian masih tidur. Kakak gak tega bangunin kalian tadi," jawab Mama Ariana sedikit berbohong.
"Mau video call sama kakak?" tanya Mama Ariana dan dianggap dengan antusias oleh sang anak anak.
"Mau mah," jawab mereka dengan senyum.
"Hapus dulu air matanya," ujar Mama dan diangguki patuh oleh mereka.
Mama Ariana mengambil ponselnya dan memanggil nomor anaknya, ia tahu mungkin ini sudah masuk kelas tapi demi anaknya ia harus mengganggu putra sulungnya itu.
Di kampus Al yang mendapat video calon dari ibunya itu izin ke dosen untuk mengangkat video call.
"Ya mah."
"Kakak," teriak adik adiknya dari seberang.
"Hei kalian sudah bangun? Maaf tadi kakak berangkatnya gak bilang kalian dulu. Kalian masih tidur jadi kakak gak mau gangguin," ucap Al pada adik adiknya.
"Mereka nangis gara-gara cari kamu gak nemu," jawab Mama Ariana pada putranya.
"Maafin kak Al ya sayang sayangnya kakak, gimana kalau nanti kita ke pasar malam. Tapi tunggu kak Al pulang ya!"
"Iya kak, holeeeee kepasal malam," girang Ella yang langsung disambut pelukan kedua kakaknya.
"Udah dulu ya Ma, Al masih ada kelas nih."
"Iya nak, belajar yang bener ya," pesan Mama dan diangguki oleh Albian.
Panggilan video itu terputus dan Albian kembali masuk kedalam kelas untuk mengikuti pelajaran.
Bersambung