Stuck Marriage (Season 1 & 2)

Stuck Marriage (Season 1 & 2)
Resepsi part 3



Happy reading


Ariana dan Alex sudah duduk ditempat yang sudah disediakan sedangkan para sahabat mengambil kursi sendiri untuk mereka.


Banyak para gadis yang menelan kecewa karena pujaan hati mereka sudah resmi menjadi seorang suami dan ayah untuk kesayangannya.


Pandangan Ariana tak lepas dari Baby Bian yang sedang dipangku Bi Erni itu. Bocah berusia 2 bulan itu tampak tampan dengan baju yang khusus dibuat untuknya itu.


Acarapun terus berlanjut hingga sampai tahap memberi selamat. Para rekan bisnis yang datang mulai memberi selamat untuk pasturi yang sudah memiliki Baby itu.


"Selamat Pak Alex, Bu Ariana... Saya gak nyangka loh kalian ternyata sudah menikah. Kalau belum rencananya saya mau menjodohkan kalian dengan anak-anak saya," ucap salah satu rekan bisnis seraya menjabat tangan Alex.


"Terima kasih Tuan Baskoro. Dan maaf untuk hal itu," jawab Alex dan diangguki oleh Pak Baskoro.


Tamu silih berganti hingga sampailah pada tukang gosip area kontrakan dilanjutkan orang-orang desa yang memberi selamat.


"Astaga Tuan dan Nona, maaf jika dulu kami sering mengibahi kalian," ucap Bu Retno pada kedua pasangan ini.


"Tidak apa-apa kok Bu Retno," jawab Ariana dengan senyum.


"Maaf juga telah menggrebek kalian sampai menikah," ujar Bu Sinta sang pemilik kontrakan.


"Gak apa-apa bu, kalau saja dulu kalian tidak menggrebek kami mungkin kita belum bersama dan memiliki Baby," jawab Ariana, sedangkan Alex hanya cuek seakan tak mau berbicara.


"Selamat Ria," ucap Andrian menjabat tangan Ariana mengabaikan Alex yang menatapnya tajam.


"Terima kasih sudah datang ke resepsi pernikahan kami kak," ujar Ariana dengan senyum tulus.


"Aku sedih ternyata kamu sekaya ini, aku pikir kamu hanya karyawan biasa," ujar Andrian yang terdengar sedih dan hal itu bisa dirasa oleh Ariana.


"Maaf kak, tapi aku sangat mencintai suamiku," jawab Ariana mantap. Alex yang mendengar ucapan sang istri itu kembali menormalkan raut wajahnya.


"Anda dengar tuan? Jadi tolong sudahi salaman kalian," cemburu Alex melepas paksa jabatan tangan itu.


"Hmm.... Ariana akan tetap menjadi adikku. Dan jika kamu menyakitinya aku pastikan aku sendiri yang akan mengambil Ariana darimu," ancam Andrian menatap tajam Alex yang sama sekali tak terpengaruh.


"Hmm."


Kini giliran Sinta yang memberi selamat. Sinta memeluk Ariana seraya berbisik.


"Apa yang lu punya sekarang itu akan menjadi milik gue. Papi gue di penjara gara-gara lu, dan gue gak akan pernah lupain soal itu," bisiknya dengan senyum.


"Selamat ya," ucapnya dengan senyum palsu.


"Gue tunggu, dan jika sampai itu terjadi siap-siap seluruh keluargamu habis ditanganku," balas Ariana dengan berbisik.


Deg


Suara Ariana sangat mengerikan ditelinganya, ia menelan salivanya tapi ia berusaha tenang. Kemudian ia menyalami Alex seolah tak terjadi apa-apa.


"Tunggu saja Ariana, apapun akan gue lakukan demi apa yang gue inginkan."


Batin Sinta menatap Ariana dan Alex yang tampak senyum bahagia seraya menyalami para tamu.


Menit berganti jam, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 4 sore hari. Tamu yang datangpun silih berganti sudah pulang. Hanya tinggal sahabat dan kerabat saja yang masih ada disana.


"Sini Bi biar Bian sama aku," Ariana mengambil alih Baby Bian yang tampak gerah itu bahkan semua pakaiannya sudah dilepas siang tadi.


"Uhh gemes banget sih kamu sayang, sayang banget anak aunty cowo jadi gak bisa jodohin kalian," ucap salah satu kerabat dari Papi Arthur.


"Abang juga gemes kok ante, nanti mainnya sama-sama," jawab Ariana menggerakkan tangan sang anak.


"Udah berapa kali gue bilang, gue Luna bukan Clara. Clara sudara kembar gue," bentak Luna yang sudah tak bisa menahan air matanya lagi. Sontak saja bentakan Luna membuat semua mata mengarah kepadanya.


"Jadi lu saudara kembar Clara? Clara Adison?" tanya Nicola yang terkejut akan hal ini.


Alex mengeluarkan ponselnya dan mencari foto lama mereka dan memperlihatkan pada Luna.


"Ini saudara kembar lu?" tanya Alex dan diangguki oleh Luna.


"Ya, gue saudara kembarnya. Clara dan gue berpisah karena orang tua kita juga berpisah Clara ikut dengan ibu sedangkan gue ikut dengan ayah. Clara tinggal di kota bersama ibu dan ayah tiri kami sedangkan gue tinggal didesa dengan ayah."


"Gue pikir saudara gue baik-baik saja di kota, ia bisa hidup enak sedangkan gue harus bergantung dengan alam. Gue gak pernah membenci Clara tapi gue juga kecewa kenapa dia meninggalkan gue hiks sendiri. Kalian tak tahu jika seminggu setelah Clara meninggal ayah juga ikut meninggal setelah mendengar kabar jika Clara meninggal."


"Gue benci.... Gue benci orang yang sudah menodai Clara," tatapan Luna menajam kearah Nicola.


Grep


"Maaf," Nicola memeluk erat Luna yang sedang menangis tersedu sedu itu.


"Kalian siapanya Clara?" tanya Luna setelah ia tenang menatap Alex dan Nico bergantian.


"Kita sahabatnya," jawab Alex.


"Ohhh gue ingat, Clara pernah bilang dia punya sahabat yang sangat baik selama sekolah. Dia juga pernah bilang jika ia sangat mencintai salah satu sahabatnya, tapi ia takut. Clara sadar diri mereka berbeda, hingga selama bertahun tahun Clara memendam rasa itu sendiri," ujar Luna menatap Nico yang menunduk.


"Dia sangat mencintai lu, dari SMA sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya. Dia hanya mencintai lu," ucap Luna menunjuk Nico.


"Gue juga mencintainya tapi gue takut, jika gue ungkapin rasa itu. Persahabatan kita akan bubar," ujarnya.


"Tapi dimana saat Clara menelfon lu? Dimana lu disaat terakhirnya? Lu gak ada," teriak Luna kepada Nicola.


Kenapa Luna bisa mengetahui semuanya? Karena ia pernah melihat log panggilan dengan nama Baby dikontak Clara ia yakin itu adalah Nicola banyak tapi tak satupun terangkat.


Nicola menyadari kesalahannya itu, saat Clara berulang kali meneleponnya ia sedang berada dikamar hotel dan kalian tentu tahu apa yang ia lakukan.


"Harusnya sebagai orang yang paling dekat dengannya, kalian tahu masalah yang sedang dia hadapi," ucapnya lagi yang membuat keduanya bungkam.


"Andai saja dulu kalian tahu masalah yang Clara hadapi, mungkin dia masih ada sekarang. Tapi dia pergi bersama bayinya, dan semua itu gara-gara saudara lu," lanjut Luna menatap tajam Nico.


"Maaf."


Hanya itu yang bisa Nico dan Alex ucapkan.


"Gak papa, seratus kalipun kalian mengucapkan maaf juga tak bisa mengembalikan Clara dan ayahku," ucapnya berlalu meninggalkan meja ini menghampiri Ariana.


"Ria, gue pulang ya."


"Gak boleh lu harus nginep disini, udah malam loh Lun. Apalagi keadaan lu kayak gini."


"Iya nak Luna, Ariana benar lagian kamar disini banyak untuk kalian semua," tambah Mami Gloria.


Akhirnya Luna mau menginap di mansion besar ini, dan diantarkan salah satu pelayan menuju kamar tamu.


Bersambung


📌Nafsu Atau Cinta (On going) Kisah Mami Gloria dan Papi Arthur.


Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊


Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏