
Happy reading
Tak terasa jam suah menunjukkan pukul 1 siang, Nicola yang sudah terlepas dari pengaruh alkohol itu mulai mengerijabkan matanya.
"Kenapa aku disini?" tanya Nicola menatap kamar yang tampak kacau itu.
"Kenapa aku.... Astaga! Apa aku melakukannya? Tapi dengan siapa?" tanyanya saat menyadari jika ia masih telanjang.
"Ashh," ringis Nico saat merasa kepalanya sakit itu.
Nico berlalu memunguti pakaiannya dan berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Tak sampai 30 menit, Nicola keluar dari kamar mandi. Nicola merasa tak bersalah karena ia sudah sering melakukan hal ini dengan banyak wanita.
Hingga pandangannya mengarah kekasur dan melihat ada bercak darah yang sudah mengering itu.
"Apa wanita yang aku tiduri tadi malam masih virgin dan aku memperkosanya?"
"Tapi kemana dia? Jika dia merasa kehormatan hilang kenapa dia malah pergi?" tanya Nicola dengan sedikit bersalah saat melihat darah itu.
"Gelang," gumamnya saat melihat gelang berwarna emas itu yang menyangkut di kasur yang tadi ia pakai.
Nico mengambil gelang itu dan rasanya ia sangat familiar dengan gelang itu.
"Gelang lu jelek, ganti aja yang baru."
"Enak aja main ganti-ganti, gelang ini sepasang Nic, tapi yang satu dipakai seseorang," jawab Clara memperlihatkan gelang yang dipakainya.
"Siapa?"
"Saudaraku yang ada di desa," jawabnya.
"Gelang ini pemberian nenek kami, kata nenek gelang emas ini juga sudah diberkati. Apabila gelang ini hilang atau terlepas dengan sendirinya kita sedang mengalami kesedihan yang mendalam," lanjut Clara.
"Ohh... Emang kamu percaya hal kayak gitu?"
"Percaya aja," jawabnya dengan senyum.
Ingatan itu memenuhi pikiran Nicola. Gelang? Ini punya saudara Clara apa ini milik Luna tapi dimana dia? Apa ini kamarnya?
"Apa dia sedih karena kesuciannya terenggut? Ya Tuhan bagaimana ini?"
"Clara maafkan aku sudah menghacurkan masa depan saudaramu," gumamnya keluar dari kamar itu dan mencari dimana keberadaan Luna.
Nico juga sadar jika kemarin ia tak menggunakan pengaman apapun bisa jadi benihnya tersebar dirahim Luna.
Hingga Nicola melihat Ariana dan Alex di gazebo itu. Entah apa yang mereka lakukan disana tapi yang jelas mereka sangat mesra.
"Lex lu tahu dimana Luna?" tanya Nicola pada Alex yang sedang meminum teh buatan istrinya.
"Dia udah pulang tadi pagi. Kenapa kamu nyariin dia?" tanya Alex pada sahabatnya.
"Gak apa-apa, emm Ri lu tahu gak dimana Luna tinggal?" tanya Nicola pada Ariana.
"Enggak, karena selama aku sahabatan sama dia. Aku gak pernah ke rumahnya," jawab Ariana.
"Oh oke, makasih. Gue pulang dulu ya Lex, Ri," pamitnya pada orang tua baru itu.
"Gak makan dulu?" tanya Ariana pada sahabat suaminya itu.
"Nanti aja," jawabnya berlalu begitu saja meninggalkan Alex dan Ariana disana.
"Dia aneh," ucap Ariana menatap suaminya.
"Dia juga aneh. Gak ngapa-ngapain tapi selalu bangun," jawab Alex menunjuk bawahnya yang sudah sesak.
"Ih aku gak ngapa-ngapain loh," ucapnya menggeser tubuhnya.
"Iya aku tahu."
"Yank," panggil Alex.
"Hmm."
"Mami sama papi kasih kado tiket honeymoon," ucap Alex.
"Terus?" tanya Ariana mengelus rahang sang suami.
"Honeymoon yuk yank!" ajaknya dengan manja.
"Aku gak mau tinggalin Baby Bian mas. Bukan aku gak mau pergi honeymoon sama kamu tapi sekarang kita sudah ada Bian. Bian masih butuh ASIku untuk pertumbuhannya," jawab Ariana dengan lembut.
"Terus kapan kita honeymoonnya?" tanya Alex.
Alex juga ingin menikmati waktu berduanya hanya dengan sang istri. Seharusnya honeymoon mereka daat pertama mereka menikah tapi ya sudahlah.
"Kalau Bian sudah bisa bicara mama dan papa," jawabnya pada sang suami.
"Tapi itu lama sayang," rengeknya.
"Gak lama kok mas, lagian tanpa kita honeymoon kita tetap honeymoon dikamar," ucapnya menatap wajah sang suami.
"Tapi.."
"Shuuttt!! Aku mau bawa Bian tidur, kasihan dia mulai kegerahan."
Ariana menghentikan rengekan sang suami dan mengangkat tubuh Baby Bian yang sedikit berkeringat itu dan membawanya ke dalam kamar.
"Sayang!!" panggil Alex melihat sang istri sudah masuk kedalam mansion itu.
Tanpa keduanya sadari bahwa ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka siapa lagi kalau bukan Mami Gloria dan Papi Arthur yang berada diatas balkon itu.
"Alex sudah bucin sama mantu kita ya pi," ucap Mami Gloria seraya mengelus rahan tegas sang suami dari samping.
"Heem."
Papi Arthur yang ikut cuti dari pekerjaannya itupun menikmati waktu berdua dengan sang istri yang paling ia cintai.
Cup
Cup
Cup
"Aku juga udah bucin banget sama kamu, apapun yan kamu ingin selalu aku turutin," ucap Papi Arthur seraya mengecup tengkuk leher Mami Gloria.
"Haruslah!!! Karena selama kita pacaran sampai sekarang aku udah terbiasa dengan kehidupan kamu. Apalagi saat Mama Kiran ngajak aku belanja," jawabnya membalik tubuhnya.
"Bahkan semua kartu ATM kamu ada di aku,"lanjutnya.
"Matree."
"Etss gak juga, aku matree karena kamu coba kalau aku tetap seperti dulu kamu pasti bosen. Apalagi apemku yang indah ini, dan juga dada indahku ini. Buat siapa?" tanya Mami Gloria menyentuh dadanya yang sangat menggoda Papi Arthur itu.
"Iya semua itu buat aku," jawabnya seraya menggendong atubuh sang istri dan masuk ke dalam kamar.
Siang panas itu dijadikan kedua padangan itu untuk melakukan hubungan yang sangat menggaira*kan bagi pasangan suami istri.
Bersambung
📌Nafsu Atau Cinta (On going) Kisah Mami Gloria dan Papi Arthur.
Jangan lupa like + komen + vote dan masukkan ke daftar favorit kalian ya. Share juga novel ini ya. Makasih😊😊😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏