
Happy reading
"Kakak Cantik," teriak seorang gadis cilik yang tak lain adalah Ella.
Keyra yang mendengar itu langsung menoleh ke sumber suara dan ia tersenyum saat melihat Ella. Sedetik kemudian senyum itu pudar kala melihat wanita cantik yang ada dibelakangnya.
"Apa itu ibunya Al dan Ella?" tanya Keyra dalam hati.
Keyra menjadi rendah saat melihat Mama Ariana yang berpenampilan sederhana tapi terlihat anggun sedangkan dia hanya wanita sederhana dengan segala kekurangannya.
"Hahahaha buang mimpimu jauh jauh Keyra, kau tak akan pantas menjadi bagian dari mereka," batinnya lagi.
"Mama ini kakak cantik yang tolong Ella kemarin di pasal malam," ucap Ella memperkenalkan Keyra kepada Mamanya.
"Jadi kamu yang menolong putri saya. Terima kasih banyak sudah menemaninya dan mengantarkannya pada Kakaknya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika putriku hilang."
"Sama sama nyonya saya gak keberatan lagipula Ella anak yang baik. Dia juga nurut, saya hanya takut dia diculik orang karena sifatnya itu," jawabnya dengan senyum manis.
"Manis sekali gadis ini," batin Mama Ariana.
"Boleh saya duduk?"
"Silahkan nyonya," ujarnya.
"Panggil saja Mama," ucap Mama Ariana dengan senyum.
"Siapa namamu nak?" tanya Mama Ariana.
"Keyra nyo eh ma."
Jujur Keyra sangat tak nyaman seperti ini, ia berada disamping ibu dari pria yang ia idolakan.
"Idan....Riel.... Ella... Kenalan sama kak Keyra," ujar Mama Ariana.
"Keyla bukannya kakak cantik?" tanya Ella polos.
Sedangkan kedua saudaranya sudah menyalami Keyra dengan sopan.
"Aku Aidan kak," ujar Idan mengecup punggung tangan Keyra.
"Aku Aliel," ujar Riel menyalami Keyra.
"Liel?"
"Namanya Ariel nak Key, maklum lah mereka masih cedal," jawab Mama Ariana dengan senyum dan diangguki oleh Keyra.
"Panggil Keyra saja Ma," ujarnya kikuk.
"Kakak Cantik pokoknya Ella panggil kakak cantik," kekeuh Ella dan dianggukkan oleh mereka.
"Terserah kamu aja dek, kakak manut apa kata kamu," jawab Keyra mencubit pipi gembul Ella.
"Kakak Cantik punya permen?" tanya Ella tanpa malu hingga membuat kedua kakaknya memutar matanya malas.
"Pelmen telus, nanti kalau kak Al tahu kamu banyak makan Pelmen bisa dimalahin," ujar Riel yang sejujurnya tak rela jika Keyra lebih dekat dengan adiknya. Ia cemburu, ia sudah terlanjur suka dengan Keyra karena kelembutan Keyra.
"Kak Al mana bisa malahin Ella, Ella kan adik kesayangan Kak Al," jawab Ella dengan pedenya.
"Bisa, kak Al juga sayang sama kita," elak Idan pada adiknya.
"Sudah sudah kak Al sayang sama kalian kok, jangan ribut ya. Riel, Idan udah," lerai Mama Ariana pada anak anaknya.
Ia sudah tua tapi masih dipusingkan dengan kelakuan anak anaknya ini. Ia berdo'a agar putranya cepat menikah dan ikut membantunya mengurus anak-anaknya yang bandelnya ini.
"Udah Ma, nih kakak ada tiga permen dibagi adil ya," ujarnya memberikan tiga permen lolipop yang memang selalu ada di dalam tasnya.
"Holeee dapat pelmen," girang mereka. Mereka bertiga bermain dengan permen yang ada di mulut mereka.
"Belum Ma, lagi gak mikir ke sana. Key mau kuliah dulu habis itu kerja," jawabnya dengan senyum.
Keyra sudah membayangkan dimana nanti ia bekerja disebuah perusahaan besar yang mampu mengangkat derajatnya tanpa bergantung pada keluarga Fairus atau keluarga Santosa.
"Kalau udah kerja mau nikah?"
"Kalau ada yang mau sih Ma," jawabnya kikuk andai wanita di depannya ini tahu jika ia sangat mencintai anaknya dalam diam.
"Ohhh sekarang kamu udah semester berapa?" tanya Mama Ariana mencoba akrab dengan wanita di depannya ini.
"Semester 4 Ma," jawabnya.
"Sama dengan putra sulung Mama, dia juga semester 4. Kok bisa kebetulan gitu ya? Hahaha... 2 semester lagi kamu bakal magang dimana?" tanya Mama Ariana.
"Gak tahu Ma. Nanti rundingan sama teman juga," jawabnya dan dianggukkan oleh Mama Ariana.
"Key mau jadi menantu Mama?" tanya Mama Ariana pada Keyra.
Keyra yang mendengar itu jadi salah tingkah dan bingung. Ia senang jika wanita didepannya ini ingin menjadikannya menantu tapi disisi lain. Keyra juga takut jika semua ini hanya mimpi.
"Mama gak maksa Key kok, tapi kalau Key mau Mama tenang jadinya," ujarnya.
"Apa yang menjadikan alasan mama untuk menjadikan aku mantu mama? Mama saja tidak tahu siapa aku?" tanya Keyra sopan.
"Kamu wanita yang cantik, sayang sama anak termasuk Ella. Mama sudah tua dan masih direpotkan dengan ketiga anak ini. Untung ada kakaknya yang bisa membantu tapi kadang Mama juga kasihan sama putra sulung Mama itu. Kan dengan adanya kamu, kalian bisa saling membantu. Anak anak tak ada yang mau di asuh sama baby sister. Bukannya mama ingin menjadikanmu pengasuh hanya saja Mama ingin kamu berkolaborasi dengan si sulung."
Bukannya menolak tapi ia memang belum siap menjadi seorang istri, ia masih takut dengan orang baru.
"Key memang menyukai anak anak Ma, tapi untuk menjadi istri Key belum bisa. Bukannya menolak tapi Key belum siap," jawabnya dengan sopan dan Mama Ariana paham itu.
"Iya mama tahu tapi bolehkan jika mama berharap kamu jadi mantu mama?" tanya Mama Ariana dan dianggukkan oleh Keyra.
"Kalau kita berjodoh untuk menjadi menantu dan mertua, pasti itu akan ," ujar Keyra.
Jujur ia cukup nyaman ngobrol dengan Mama Ariana yang sangat ramah tak seperti orang kaya pada umumnya.
"Kakak capek," rengek Ella pada kedua kakaknya.
"Terus kalau capek kenapa?" tanya Idan yang ikut ngos ngosan.
"Minum kak, Ella haus juga."
Mereka bertiga berlalu menuju Mama Ariana dan Keyra. Dengan wajah imut Mereka bertiga meminta air minum.
"Udah sore, kita pulang yuk. Nanti kita dicariin kak Al sama Papa," ajak Mama Ariana dan diangguki oleh ketiganya.
"Kakak Cantik ikut Ella pulang ya, nanti Ella kenalin sama kakak aku," ajak Ella.
"Iya kakak, nanti kita bisa main bareng," ujar Riel yang tiba-tiba gak cuek lagi.
"Idan juga mau permen kakak. Manis," ujarnya dengan senyum.
Keyra berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi ketiga anak anak itu.
"Kakak gak bisa ikut kalian, kakak juga punya rumah sendiri. Kapan kapan kita bisa ketemu lagi kok. Ariel jaga adik adiknya ya," ujar Keyra dengan senyum.
"Siap bos."
Ketiga bocah kembar itu memeluk tubuh Keyra dengan erat hingga membuat Mama Ariana yang melihat itu langsung mengabaikannya lewat ponselnya siapa tahu suatu saat nanti berguna.
"Kamu yang akan menjadi mantik kelak," batin Mama Ariana.
Setelah itu mereka pergi dari sana tak lupa juga mama Ariana meminta nomor ponsel Keyra.
Bersambung