
Happy reading
Setelah pulang dari mall tadi raut wajah Ariana tetap sendu. Entah kenapa suasana hatinya tak baik saat ini.
Malam hari Alex pulang dengan keadaan letih tak lupa seragam sopir taksi yang ia kenakan. Tak seperti biasanya yang menyambut Alex dengan semangat Ariana nampak lebih lesu sekarang.
"Ria."
"Hmm?"
"Kamu kenapa?" tanya Alex seolah tak tahu. Ariana menggeleng dengan senyum tipis.
"Aku gak apa-apa."
"Huffttt kamu anggap aku suami kamu bukan hmm? Kalau ada masalah kita bisa bagi masalah kamu sama aku." Alex memegang pundak Ariana.
Ariana yang tak bisa membendung air matanya itu mengalir dengan pelan, Ariana menangis dihadapan Alex. Ini pertama kali Alex melihat Ariana menangis. Alek merengkuh tubuh istrinya yang bergetar itu ke dalam pelukannya.
"Hiks sakit Lex," lirih Ariana menepuk dadanya yang sesak.
"Menangislah jika bisa membuatmu tenang." Alex mengelus punggung Ariana dengan sayang.
"Aku kangen mereka, tapi aku juga gak bisa ketemu mereka."
"Aku takut mereka membenciku."
"Aku takut mereka membuangku begitu saja."
"Aku takut mereka tak merestui hubungan kita."
"Aku tak mau pulang."
"Tapi aku merindukan mereka." Tangis Ariana makin kencang saat ini, semua unek uneknya ia keluarkan di depan Alex.
Alex hanya bisa mendengarkan apa yang diucapkan Ariana, ia juga merasa bajunya depan sudah basah akan air mata gadisnya ini.
Tangan Alex masih setia mengelus punggung Ariana yang perlahan tenang. Alex mengendurkan pelukannya yang mengusapair mata Ariana.
"Minum dulu." Alex memberikan air putih pada Ariana. Terdengar segukan dari Ariana, wajah putihnya sudah memerah karena menangis.
"Maaf." Ariana mengusap baju Alex yang basah.
"Gak apa-apa, duduk dulu ya. Aku mau mandi dulu." Alex melangkah ke kamar mandi, Ariana yang masih segukan itu duduk di sofa.
20 menit berlalu Alex keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya sedang memasak di dapur.
"Masak apa?" tanya Alex yang sudah berdiri di belakang Ariana.
"Sup, gak apa-apa kan yang simple." Ariana membalikkan tubuhnya.
Deg
Wajah mereka berdekatan bahkan deru nafas Alex bisa dirasakan oleh Ariana. Sangat tampan kenapa Alex tak menjadi model saja daripada sopir taksi.
Dengan cepat Ariana membalikkan tubuhnya dan mengaduk sup ceker ayam yang tadi ia beli.
"Gak apa-apa, buat sambal gak?" tanya Alex dan dijawab gelengan oleh Ariana.
"Biar aku yang buat kamu fokus aja sama sup kamu."
Dengan cepat Alex membuat sambal orek seadanya, bahkan jika dilihat mereka malah seperti sepang suami istri yang saling membantu.
Tak lama sup dan sambal yang mereka buat jadi, Ariana dan Alex membawanya ke meja makan. Makan malampun dimulai sesekali Alex melihat ke arah istrinya.
****
Setelah makan Ariana menyuruh Alex untuk ke kamar dahulu sedangkan ia berlalu ke kamar mandi.
"Aku pakai gak ya, ih malu lah," gumamnya menatap pantulan dirinya dari kaca.
"Tapi aku juga gak mau jadi istri durhaka dengan tak mau memberi hak Alex. Lagian aku mencintainya, kalaupun nanti dia meninggalkanku aku juga rela," dengan berat hati ia keluar dari kamar mandi dan masuk ke kamar.
Alex yang sedang membaca Email di ponselnya itu teralihkan oleh Ariana yang baru menutup pintu.
Glek
"Ria."
Sialnya Alex langsung bereaksi saat melihat Ariana memakai lingerie yang menampakkan lekuk tubuhnya. Apalagi berwarna hitam membuatnya kontras dengan kulit Ariana yang putih bak susu itu.
Ariana menatap Alex dengan penuh cinta, ia sudah memantapkan niatnya untuk melepas keperawanannya malam ini dengan suaminya. Ia tahu Alex juga butuh dirinya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.
"Lex," panggil Ariana dengan nada menggoda.
Ariana naik ke kasur dan mendekatkan dirinya pada Alex yang sudah memerah.
"Dingin," cicitnya.
"Kenapa pakai baju seperti ini hmm? Kamu tahu akibat kamu pakai baju ini hmm?" tanyanya lembut tapi penuh dengan penekanan.
"Aku tahu, aku juga sadar memakai baju ini. Kamu gak suka?" tanya Ariana menggambar pola di dada Alex yang tak tertutup apapun karena itu sudah kebiasaannya jika akan tidur.
"Ssttt Ria, aku mohon hentikan. Aku tak mau merusakmu." Dengan cepat Alex bangkit dari duduknya.
"Kenapa?" tanya Ariana yang menghentikan Alex yang akan keluar.
"Apa sebulan ini kamu tak merasakan sesuatu dalam diri kamu Lex?"
"Apa kamu belum bisa membiarkan aku masuk dalam hati kamu?"
"Dari lama kamu sudah masuk sayang."
"Aku hiks hanya ingin memenuhi tugasku yang belum sempurna Lex."
"Aku ingin menjadi istrimu seutuhnya."
"Apa aku juga salah menaruh rasa suka padamu ha. Aku menyukaimu." Tangis Ariana yang sudah malu karena penolakan Alex tadi yang seakan tak ingin menyentuhnya.
Deg
Alex tak bisa menahan senyumnya, hal ini yang sudah ia tunggu sedari lama. Ia menatap anakondanya dan seakan memberi ucapan.
"Kamu akan mendapat jatahmu yang sesungguhnya."
"Aku minta maaf, aku tak bisa menahan rasa ini. Perlakuanmu selama ini membuat aku berharap lebih."
"Maafkan aku." Araian menundukkan kepalanya.
Alex yang tak kuasa melihat istrinya menangis karenanya itu mulai mendekat ke arah Ariana. Alex mengangkat dagu Ariana dan mencium bibir Ariana dengan lembut.
"Kenapa menangis hmm? Aku gak marah, justru aku terima kasih karena sudah mengakui perasaanmu." Alex memeluk Ariana yang masih menangis itu.
"Maaf aku tak akan mengulangi hal ini lagi, anggap saja aku tak mengucapkan apapun." Dengan hidung memerah Ariana mengangkat dia tangannya. Alex menggeleng dan menghapus air mata Ariana.
"Kamu ingin mendengar jawabanku hmm?" tanya Alex yang sudah duduk di kasur itu.
"He'em," dengan ragu Ariana mengangguk ia siap menerima apapun jawaban Alex.
"Aku juga mencintaimu sayang, maaf baru mengatakannya sekarang. Aku hanya takut kamu menjauh dan canggung denganku. Aku ingin kamu juga mencintaimu dan sekarang kamu sudah mencintaiku."
"Aku lega mendengar semua ucapanmu tadi." Alex menarik tangan Ariada dan meletakkannya di dada Alex.
"Kamu tak akan tahu seberapa bahagianya aku malam ini."
Alex memeluk Ariana yang masih mematung mendengar ucapan Alex.
"Aku gak mimpikan, Alex juga cinta sama aku?"
Keduanya masih berpelukan hingga tak terasa sudah 10 meenit berlalu. Pelukan hangat Alex membuat Ariana seakan tak rela melepasnya apalagi ia hanya memakai pakaian minim akhlak ini.
Cups
"Aku harap kamu jujur mengatakannya dari dalam hatimu Ria," ucap Alex menatap lekat mata Ariana yang dibuat salting.
Ariana mengangguk dengan pasti, tak ada keraguan di anggukkannya itu yang membuat Alex tak bisa menatahan diri untuk mencium bibir manis itu, bibir yang selalu ia curi di malam saat sang empu tertidur.
Bersambung
___
Jangan lupa Like + Komen + Vote dan tambahkan difavorit kalian. Share juga novel ini ya😊
Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏🙏
Visual Ariana dan Alex ada di episode 20 ya😊