
Happy reading
"Kak Al," panggil Ella yang ada dibelakang itu.
"Apa dek?" tanya Albian.
"Mau cerita soal kakak cantik," jawab Ella dengan senyum.
"Kenapa sama kakak cantik?" tanya Albian penasaran.
"Dia cantik kak, matanya bersinar dan wajahnya sangat cantik," jawabnya dengan senyum.
Ella kembali mengingat wanita yang menolongnya tadi.
"Kenapa kakak cantiknya gak kamu suruh buat nemuin kakak?"
"Gak tahu, dia cuma ngasih permen buat tanda perkenalan," jawabnya dengan senyum.
"Udah ya, kamu diam anteng biar kita cepet sampai ke mansion," ujarnya.
Ella pun mengangguk dengan tenang, ia menyadarkan kepalanya pada pundak kembarannya yang fokus pada jalan raya.
"Emang siapa sih kakak cantik itu?" tanya Riel pada kembarnya.
"Gak tahu kak, tapi dia sangat cantik. Dia baik sama Ella, tadi Ella nangis terus dia peluk Ella," jawab Ella pada idan.
"Jadi penasaran sama kakak cantik," ujar Idan dengan penasaran.
Al yang mendengar itu ikut kepo, siapa kakak cantik yang dimaksud Ella. Apa dia baik?Tentunya baik karena ia tak mengambil kesempatan untuk menculik Ella dan meminta tebusan.
Sampailah mereka di mansion, Al menggendong Ella dan Riel yang sudah tertidur itu sedangkan Idan masih bangun dan mengekor sang kakak.
Ceklek
Pintu kamar triple dibuka dan Idan berlari menuju ranjang. Begitupun Albian yang sudah meletakkan Ella dan Riel di ranjang.
"Idan belum ngantuk?" tanya Al pada adiknya.
"Belum kakak, haus pengen susu."
"Bentar ya kakak ambilan. "
Al keluar dari kamar dan meminta pelayan untuk membuat susu buat adik adiknya. Tak lama Al kembali membawa tiga botol susu ditangannya.
Albian mengelus rambut Iran yang masih meminum susunya itu dengan lahap.
"Udah hilang hausnya?" tanya Al dan diangguki oleh Idan. Matanya sudah sayup sayup ingin terpejam.
Elusan tangan Al membuat Idan mengantuk dan akhirnya terlelap ditengah tengah kembarannya.
Cup
Cup
Cup
Al mengecup kening ketiga adiknya dan membenarkan selimut tebal itu agar sang adik tak kedinginan. Coba kakak aku kayak gini seneng bat tya.
"Selamat tidur adik adikku," liriknya.
Albian mematikan lampu kamar itu dan keluar menuju kamarnya. Tapi saat ia melewati kamar orang tuanya ia mendengar sayup suara yang membuatnya merinding.
Dengan cepat Albian berlari menuju kamar dan mengaktifkan peredam suaranya.
"Dasar orang tua, ya Tuhan semoga aku tak memiliki adik lagi," do'a Albian berlalu menuju kamar mandi dan melakukan ritualnya sebelum tidur.
Setelah beberapa menit ia keluar dari kamar mandi menuju ranjangnya yang empuk itu.
Tangannya terulur untuk mengambil ponselnya dan ia melihat pesan dari teman-temannya.
Semenit kemudian Albian menghembuskan nafasnya pelan. Ia melihat banyak kontak baru dengan poto profil yang menampakkan lekuk tubuh seksi mereka.
"Dasar perempuan, apa mereka tak bisa menjaga pakaiannya, atau memang mereka tak punya uang untuk membeli baju yang layak?"
"Ya Tuhan semoga jodohku pandai menjaga diri dan tidak murahan," do'a Albian.
Yah, Albian sangat membenci wanita yang tak bisa menjaga kehormatannya.
Setelah selesai berselancar di whatsAppnya, Al meletakkan ponselnya dan menarik selimutnya.
"Padahal masih jam 9 tapi kenapa aku sangat mengantuk?" gumamnya seraya memeluk guling yang ada disampingnya.
Berbeda lagi dengan wanita yang baru pulang dari pasar malam itu. Ia harus berjalan tertatih agar tak terdengar suara langkahnya.
Tak!
Lampu rumah itu dinyalakan dan terlihatlah seorang paruh baya dengan wanita berpakaian piyama berdiri menatapnya.
"Darimana kamu?" tanya laki laki itu.
"Dari pasar malam pah," jawab wanita itu pada paruh baya itu.
"Bohong! Pasti kamu habis dari club kan? Lihat pakaian kamu itu?" sanggah perempuan yang tak lain ibu tiri wanita itu.
"Benar itu Key?" tanya sang papa dengan marah.
"Tidak pah, aku tak pernah masuk ketempat haram itu. Aku memang ke pasar malam," jawabnya jujur. Ia menatap ibu turunnya yang sedang tersenyum sinis itu.
Plak
"Harusnya kamu contoh adik tiri kamu itu Keyra!! Dia selalu patuh dan tak pernah bohong pada Papa," geram papanya dengan marah sampai menampar Keyra yang notabene adalah anak kandungnya.
"Papa nampar aku? Aku anak papa! Tapi kenapa Papa gak pernah percaya dengan apa yang aku ucapkan?"
"Karena kamu berbohong Keyra, papa melihat foto kamu dengan seorang pria didepan club malam. Apa kamu kekurangan uang Key? Padahal papa sudah memberikan uang sakunya itu lebih!!"
Papanya melemparkan beberapa foto yang jelas jelas itu sudah di edit. Air mata Keyra mengalir saat melihat itu. Itu bukan dia.
"Ini bukan Keyra pah, ini editan. Kenapa papa gak percaya sama Keyra? Apa karena wanita ini? Iya?" tanya Keyra menujukan wanita yang notabene adalah ibu tirinya.
"Jangan menunjuknya seperti itu Keyra, dia ibu kamu. Apa seperti ini ibumu mengajarkanmu sopan santun hah!!"
Keyra menatap sang papa dengan nahar, papa yang sangat ia hormati kini menanyakan bagaimana ibunya mendidik.
"YAH, INI AJARAN IBUKU KENAPA? AKU AKAN MENGHORMATI ORANG YANG MENGHORMATIKU PAH! AKU BUKAN ANAK KECIL YANG BERUMUR 6 TAHUN HINGGA MUDAH KALIAN BOHONGI. AKU BENCI KALIAN! AKU BENCI PAPA! AKU SUDAH LAMA MENAHAN SEMUA INI TAPI AKU TAK BISA. KAU MENUDUHKU PERGI KE CLUB SEDANGKAN AKU PERGI KE PASAR MALAM DIMANA TEMPAT AKU BISA MENGENANG ALMARHUMAH IBU, TAPI APA? BAHKAN PAPA TAK PERNAH MENGUNJUNGI YAH LAGI! PAPA BERUBAH! PAPA MELUPAKAN IBU YANG SUDAH MEMBERIKANMU ANAK!!"
"APA SELAMA PAPA TAHU BAGAIMANA AKU HIDUP DIRUMAH INI HAH? SELAMA 12 TAHUN APA PAPA TAHU BAGAIMANA AKU TUMBUH? AKU SEDIH. AKU ANAK PAPA TAPI BAGAI ANAK TIRI! SEJAK PAPA MENIKAHI WANITA TAK TAHU DIRI ITU AKU BAGAI HILANG DARI SINI. KALIAN TAK MENGANGGAPKU."
"DIA YANG SELALU MENYIKSAKU SAAT PAPA TAK ADA BAHKAN AKU SERING DIBIARKAN TAK MAKAN BERHARI HARI."
"APA PAPA TAHU JIKA SELAMA INI AKU TAK PERNAH MENDAPAT SEPESERPUN UANG DARI WANITA TAK TAHU DIRI ITU? APA PAPA TAHU AKU TAK NAIK TAKSI KARENA TAK PUNYA UANG LEBIH AKU SELALU NAIK BUS PA, SELAMA AKU SEKOLAH APA AKU PERNAH MEMINTA UANG DARI PAPA? AKU MENDAPAT BEASISWA ITU SEMUA BERKAT KERJA KERASNYA DALAM BELAJAR. DAN SEENAKNYA PAPA BILANG AKU MENJALAN*?"
"KEY KECEWA SAMA PAPA, AKU BENCI KALIAN BERDUA!!"
Keyra berlari menuju kamarnya dengan cepat, meninggalkan kedua orang yang mematangkan akan teriakan Keyra tadi.
"Apa aku selama ini menyakitinya?"
"Tidak mas, semua yang dikatakan Keyra tidak benar. Aku bahkan menyisihkan semua uangku untuknya. Sumpah!!"
"Sudahlah aku capek, ayo tidur!"
Dalam hati Papa Keyra itu bingung ingin mempercayai siapa.
Bersambung