Stuck Marriage (Season 1 & 2)

Stuck Marriage (Season 1 & 2)
Pertemuan



Happy reading


Hari demi hari terlewati begitu saja, Alex belum juga menemukan keberadaan sang istri yang tengah mengandung anaknya itu, bahkan Alex tidak tahu anaknya masih dipertahankan atau tidak.


"Kenapa sesulit ini mencarimu sayang, aku sudah mencarimu kemana-mana, tapi kenapa tidak ada."


Ceklek


"Kenapa tidak mengetuk pintu ha?" tanyanya dingin tanpa melihat siapa yang datang.


"Mau durhaka kamu sama mami hah!!! Pakai nada dingin pula," ucap mami.


Mami Gloria sedikit prihatin dengan kondisi sang anak. Alwx bukan seperti dulu yang sangat memperhatikan penampilan kini tubuhnya tak terawat dengan baik.


"Mami geli lihat kamu kaya zombie gitu, makan gak teratur, mandi gak tentu, bisanya cuma nangis. Emang mantu mami bakal pulang kalau kamu terus menangis?" tanyanya meletakkan rantang yang ia bawa di meja.


"Tumben mami bawa makanan?" tanya Alex malas.


"Sengaja biar kamu gak kurus kering kayak lidi gitu!!"


"Papi?" tanya Alex.


"Udah tadi," jawabnya seraya membuka rantang itu dan mengeluarkan semua isinya.


"Nih mami buatin ceker pedas spesial buat kamu, kamu pasti kangen sama masakan mami?" dengan percaya diri mami berucap.


"Aku kangen masakan istriku mih, sup ceker buatannya sangat khas di lidahku," jawabnya yang membuat mood Mami Gloria anjlok ternyata sang anak tidak merindukan masakannya. Sedih hati mami😂😂.


"Ahaha sedih mami, dah lah makan masakan mami atau aku panggil dokter Emi buat nyuntik kamu," ancam mami pada Alex yang langsung mengangguk.


Dokter Emi adalah dokter hewan yang dulu pernah mengobati peliharaan sang papi di mansion. Melihat jarum suntik yang besar itu membuat Alex trauma akan jarum suntik sampai sekarang.


"Mih.... Suapin Alex," manja Alet yang sudah duduk di sofa itu.


"Manja banget sih hmm?"


"Kangen suapan Ria mih, mana tahu saat mami suapin Alex rasa kangennya sedikit berkurang," ujarnya. Dengan senang hati Mami Gloria menyuapi sang anak dengan telaten hingga suara dobrakan membuat Alex tersedak.


"ALEX GUE UDAH TAHU DIMANA RIA," teriak Nicola yang mendobrak pintu ruangan CEO.


"Uhuk dim uhuk uhuk dimana?" tanya Alex dengan batuk batuk. Mami Gloria yang juga terkejut itu mengambilkan air mineral untuk sang putra.


"Makasih mi," ujar Alex setelah menghabiskan segelas air itu.


"Sekatang jawab dimana lu tahu istri gue?" tanya Alex tak sabaran tak bisa di pungkiri ia sangat bahagia mendengar Nico tahu dimana istrinya.


"Dia ada di kota H, dia baru aja resign dari kantor cabang gue. Untungnya HRD langsung lapor jika ada karyawan Ariana yang resign."


"Mantu mami kerja?" tanyanya dengan raut yang tak bisa di jelaskan.


"Eh mami," kaget Nico saat melihat orang yang dulu sudah ia anggap sebagai maminya sendiri itu.


"Hmm."


"Kamu bilang, Ria kerja jadi apa?" tanya Alex yang tak bisa diam.


"Dia jadi staf keuangan yang pontensinya tak bisa diragukan," jawabnya.


"Lu tahu alamatnya?" tanya Alex pada Nicola.


"Tahu," jawabnya.


"Kita ke sana sekarang," ucapnya mengambil kunci mobilnya.


"Eitsss, biar Nico yang bawa mobilnya."


"Iya mi," ujarnya.


"Maaf mami tidak bisa menemani kalian. Mami do'akan kamu cepat di maafkan Ria."


"Iya mi, kita berangkat." Alex dan Nico mencium tangan sang mami.


***


"Pantas saja Alex tak bisa menemukan Ariana, identitasnya dilindungi perusahaan. Andai aku tahu dari awal mungkin kamu tidak akan seperti ini." Nicola menatap Alex yang terlihat sangat senang itu.


Dalam perjalanan Alex tak bisa diam, ia menyuruh Nicola untuk lebih cepat menjalankan mobilnya.


"Gila, ini sudah cepat Lex. Ariana gak bakal kabur kok," Nicola sedikit kesal dengan sahabatnya ini. Sifat ketidak sabaran Alex belum juga hilang sampai sekarang.


"Kenapa lelet banget sih hah, bair aku yang nyetir," desak Alex yang tak dihiraukan oleh Nico.


"Diam atau aku putar balik," ancam Nico yang m3mbuat Alex diam.


2 Jam berlalu, mereka menuju kota H. Sekali berhenti di POM untuk mengisi bahan bakar. Hingga mereka sampai di kota H.


"Ini benar kotanya?" tanya Alex tam percaya melihat rumah sederhana di kota ini.


"Iya, gak lama lagi kita sampai di rumah yang di tempati Ria," jawabnya.


"Kenapa aku tidak dapat menemukan Riana?"


"Karena siapapun yang bekerja di perusahaan atau cabang perusahaan aku akan mendapat jaminan perlindungan identitas diri. Aku saja tidak tahu jika Ria sudah 7 bulan bekerja di perusahaanku di kota ini" jelasnya dengan salah.


Tak sampai 25 menit mobil sport hitam itu sudah sampai di depan rumah sederhana bercat biru itu.


"Ini rumahnya," ujar Nico pada Alex.


Tanpa basa basi Alex keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah itu. Dengan pelan Alex mengetuk pintu rumah itu.


Tok! Tok! Tok!


Ariana yang sedang duduk di sofa seraya menikmati mangga muda itu menoleh ke arah pintu.


"Siapa ya sore sore bertamu gini? Mana bibi gak di rumah lagi," gumamnya.


Dengan perut yang besar Ariana bangkit dari duduknya menuju arah pintu.


Ceklek


"Ya siapa ya?" tanya Ariana yang belum tahu siapa yang datang.


"Sayang," mendengar suara yang selama ini ia rindukan membuat mata Ariana membelalak.


"Alex.."


Dengan cepat Ariana kembali menutup pintu tapi langsung ditahan oleh Alex hingga tangan pria itu berdarah.


"Biarkan aku menjelaskan kesalah pahaman ini sayang," ucapnya seraya membuka pintu itu.


"Salah paham? Salah paham yang gimana? Pembohongan kamu atau perselingkuhan kamu? Aku tak butuh suami tukang selungkuh seperti kamu," teriaknya dengan cepat menutup pintu.


Ariana menangis di balik pintu itu, dengan sesak di dadanya mengingat kembali berberapa bulan lalu.


"Aku tidak pernah selingkuh sayang, aku bersumpah," teriak Alex dari luar. Ia tak menghiraukan darah yang keluar dari tangannya.


"Kamu pembohong Alex, kamu bohong," ucapnya dengan tangis dan berlalu menuju kamarnya meninggalkan Alex yang masih berteriak itu.


"Aku minta maaf sayang, aku minta maaf."


Nicola prihatin melihat keadaan sang sahabat yang masih mengharapkan maaf dari Ria.


"Kita obati luka lu," Nicola menarik tangan Alex pelan menuju mobil.


Alex memberontak, "Aku mau Riana, Nic. Luka ini tak ada apa-apanya bagiku," kekeh Alex tetap menolak ajakan Nicola.


"Obati dulu luka lu, habis itu terserah lu mau apa jungkir walik juga gak apa-apa."


Akhirnya Alex menurut dan mengobati Luka di tangannya, untung mobilnya ada kota P3K yang ia bawa.


Bersambung


Jangan lupa Like + Komen + Vote dan difavorit kalian. Share juga novel ini ya😊


Mohon maaf jika banyak PUEBI yang salah dan banyak typo. Author masih belajar soalnya.🙏