Sean Arthur | Bandung Mafia

Sean Arthur | Bandung Mafia
Rumah Sakit Supreme 4



"Rico, aku akan pergi dulu, dan kirimkan kepadaku nomor rekening pihak keluarga korban, satu korban cukup satu rekening saja ya" ucap Ardhi sambil melihat jika mobilnya sudah datang karena sejak kejadian penyekapannya dia kini membawa sopir dan pengawal.


"Siap" ucap Rico sambil tersenyum lebar.


"Bapak dan ibu semua saya pamit dulu dan silahkan berikan ke rekan saya nomor rekeningnya" ucap Ardhi dengan sangat ramah sambil kemudian masuk dalam mobilnya dan duduk di kursi penumpang belakang karena bukan lamborghini yang dia bawa melainkan sedan benthley.


Semua keluarga korban ledakan itu mengucapkan terima kasih mereka ke Ardhi dengan sangat ramah.


"Bapak ibu maaf, nama saya Rico dan saya akan memberikan nomor telepon saya dan mohon kirimkan nomor rekening nya ya dan nama keluarga yang menjadi korban, dan nomor saya adalah 08……….." ucap Rico dengan sangat sopan.


Semuanya langsung memasukkan nomor rico tersebut ke ponsel mereka masing masing namun belum ada yang mengirim nomor rekeningnya.


"Pak Rico, biaya rumah sakit ini sudah sangat besar jadi kami tidak enak hati jika sampai menerima lagi kebaikan dari bos bapak, bukankah bos bapak juga menjadi korban" ucap seorang laki laki usia empat puluh tahunan.


"Pak, sudah jangan merasa tidak enak, Bos saya memang sama sama menjadi korban dalam ledakan ini demikian juga dengan para pengawalnya, namun bos saya akan sangat marah jika mengetahui kami menelantarkan keluarga korban lainnya, bapak ibu semuanya anggap saja ini sebagai hadiah dari bos saya ya jadi saya mohon tolong kirimkan nomor rekeningnya" ucap Rico dengan ramah dan sopan.


Satu persatu mulai mengirimkan pesan singkat ke Rico yang berisi nomor rekening dan nama keluarga mereka yang menjadi korban ledakan bom termasuk istri Pak Freddy dan  Pak Dani.


Rico kemudian mengirimkan pesan pesan singkat itu ke Ardhi dan Ardhi mengirim masing masing sepuluh juta rupiah lalu mengirimkan bukti transfernya ke Rico, rico pun mengirimkannya ke mereka semua.


Terlihat jelas wajah gembira semua orang disana yang tidak mengira jika mereka akan mendapatkan uang sebanyak itu.


Sementara itu mobil Alex sudah terparkir di sebelah mobil milik gunawan namun keduanya tidak saling mengetahui karena keduanya pulas tertidur.


Rumah sakit Supreme juga sudah di penuhi oleh ratusan petugas kepolisian yang menjaga rumah sakit itu dengan sangat ketat sesuai perintah dari pak Rachman.


Tiga jam berlalu dan Sean Arthur sudah di pindahkan ke kamar perawatan demikian juga dengan korban lainnya.


"Rico, bagaimana kondisi pengawal pribadi ku dan kedua bawahan ku itu?" Tanya Sean Arthur yang terbaring di ranjang rumah sakit ke Rico.


"Semuanya selamat Bos, dan ada di lantai yang sama dengan kita" ucap Rico dengan sangat sopan.


"Dimana Gunawan dan alex, panggil mereka kesini" ucap Sean Arthur dengan ramah.


"Sebentar Bos, saya hubungi mereka dulu" ucap Rico sambil mengambil ponselnya lalu menghubungi Alex.


"Bos Alex, anda dimana anda dan Bos Gunawan di tunggu oleh Bos Besar" ucap Rico melalui panggilan telepon.


"Aku di bawah bersama Gunawan, oke kami akan naik" ucap Alex melalui ponselnya dan Rico langsung memutuskan panggilan telepon itu.


"Bos mereka berdua di bawah dan akan segera kesini" ucap Rico dengan sangat sopan.


"Panggil Ardhi juga kesini" ucap Sean Arthur.


"Sudah bos tadi sebelum bos bangun dan Bos Ardhi sudah dalam perjalanan kesini dari kantor" ucap Rico.


"Sekarang kau temui Doni dan Roni dan kelima pengawal pribadi ku, tanya mereka kali saja ada yang mereka inginkan atau butuhkan" ucap Sean Arthur.


"Baik Bos, saya permisi dulu dan maaf Bos di luar ada dua orang petugas kepolisian yang mengamankan kamar anda ini" ucap Rico.


"Baik Bos saya pamit ya Bos" ucap Rico yang dibalas anggukan kepala oleh Sean Arthur.


Rico langsung meninggalkan kamar itu dan saat ini Sean Arthur di rawat di kamar vvip nomor satu.


Sepuluh menit berlalu dan kini ketiga anak buah Sean Arthur sudah datang semuanya.


"Ardhi apa pembayaran tagihan sudah beres" ucap Sean Arthur.


"Sudah Bos, saya memasukan semuanya di ruang VVIP sama seperti Bos, dan saya juga memberikan uang santunan senilai sepuluh juta ke pihak keluarga korban ledakan bom lainnya" ucap Ardhi dengan sangat hormat.


"Oke bagus, sekarang kau lihatlah kondisi Doni dan Roni aku ingin berbicara dengan mereka berdua" ucap Sean Arthur.


"Baik Bos, saya permisi" ucap Ardhi dengan sangat hormat dan Sean Arthur hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Gunawan dan Alex apakah kalian berdua sudah membersihkan masalah ini" ucap Sean Arthur pelan namun terdengar oleh Alex dan juga Gunawan.


"Dalam proses bos, baru lima tikus saja yang berhasil di basmi" ucap Alex bersuara pelan.


"Orang saya sudah membasmi enam tikus got bos, insyaallah dalam dua hari beres bos" ucap gunawan bersuara pelan juga.


"Ya tikus biang masalah harus di bersihkan dan dua hari terlalu lama, coba usahakan dalam satu hari ini jika bisa malam ini" ucap Sean Arthur yang masih bersuara pelan.


"Baik Bos" ucap keduanya kompak dan pelan juga.


"Alex tolong panggil tujuh anak buah mu untuk siaga di kamar Doni dan Roni serta kelima pengawal pribadi ku" ucap Sean Arthur yang masih berbicara pelan.


"Baik Bos, saya akan menugaskan anak buah saya" ucap Alex sambil mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan singkat ke anak buahnya yang bertugas di sekitar rumah sakit supreme itu.


"Gunawan panggil semua pengawalku, dan suruh mereka untuk siaga di villa dago saja biar dekat dan Alex siapkan akomodasi untuk mereka" ucap Sean Arthur lagi.


"Baik Bos, nanti saya telepon mereka agar  ke Villa Dago" jawab Gunawan dengan sangat hormat dan masih berbicara pelan seperti Sean Arthur.


"Siap Bos, nanti saya siapkan semua kebutuhan mereka" ucap Alex dengan sangat hormat dan berbicara pelan juga.


"Ini sudah sangat keterlaluan, dan aku minta kalian bereskan secepatnya, lakukan dengan sempurna, sekarang kalian kembalilah dan laksanakan tugas kalian" ucap Sean Arthur.


"Baik Bos saya pamit" ucap Gunawan.


"Saya juga pamit bos" ucap Alex.


Sean Arthur hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja.


Alex dan Gunawan langsung meninggalkan kamar VVIP nomor satu itu dan mereka menyempatkan diri untuk menjenguk Doni dan Roni serta kelima pengawal pribadi Sean Arthur karena sekarang Gunawan adalah pemimpin mereka semua.


Keduanya pun langsung turun dan menuju keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju parkiran mobil.