Sean Arthur | Bandung Mafia

Sean Arthur | Bandung Mafia
Gambar di Mobil



"Baik Bos." Ucap Roni.


"Kita berhenti minum bandrek di warung depan." Ucap Doni melalui radio komunikasi.


"Siap, berhenti di depan." Ucap pengawal pribadi Sean Arthur yang berada di depan rombongan.


Mobil pengawal pribadi Sean Arthur yang berada di depan kemudian berhenti namun tidak di depan warung itu melainkan melewatinya sedikit sedangkan Roni langsung memarkir mobil persis di depan warung dan para pengawal pribadi Sean Arthur yang lainnya pun ikut parkir dengan menutup mobil yang digunakan oleh Sean Arthur.


Semuanya tanpa terkecuali langsung turun dari dalam mobil mereka namun karena warung itu kecil jadi hanya Sean Arthur, Doni dan Roni saja yang masuk ke dalam, sedangkan sisanya berdiri di luar.


"Pak, tolong buatkan bandrek untuk kami semua." Ucap Doni melakukan pesanan ke pria sepuh yang merupakan pedagang warung itu.


"Baik Pak." Ucap Pria sepuh itu sambil kemudian mulai membuatkan bandrek untuk semuanya.


"Bos, apa yang anda pikirkan, sepertinya anda sedang memiliki hal berat yang anda pikirkan." Ucap Roni yang melihat dari tadi Sean Arthur mengerutkan keningnya.


"Aku hanya memikirkan kapan kita menyelesaikan masalah masalah ini saja, geng serigala sudah punah namun datang lagi masalah baru." Ucap Sean Arthur sambil kemudian menyalakan sebatang rokoknya dengan santai.


"Bos tenang saja, masalah ini pasti selesai seiring berjalannya waktu." Ucap Doni.


"Bos, apa perlu jika saya mengerahkan semua anak buah kita untuk mencari informasi tentang kejadian tadi." Ucap Roni.


"Roni kita memiliki lima juta orang bukan?." Ucap Sean Arthur.


"Lima juta orang lebih bos di seluruh indonesia, belum termasuk dengan karyawan perusahaan perusahaan anda." Ucap Roni.


"Perintahkan mereka semua untuk menyelidiki penyerangan tadi, siapa tahu mereka mendapatkan informasi yang berharga untuk kita, namun perintahkan sebagian untuk mengamankan aset aset ku." Ucap Sean Arthur.


"Baik Bos, maaf ponsel anda bergetar bos." Ucap Roni yang melihat jika ponsel Sean Arthur yang diletakkan di atas meja bergetar.


Sean Arthur kemudian mengambil ponselnya itu dan ternyata panggilan telepon dari Ardhi.


"Ardhi ada apa?." Ucap Sean Arthur memulai percakapan telepon itu.


"Bos maaf ada kabar buruk." Ucap Ardhi.


"Kabar buruk apa, kalau bicara yang jelas." Ucap Sean Arthur.


"Bos, salah satu truk pengangkut barang dari pabrik kita yang ada di jawa tengah di rampok dan pengemudinya di bunuh, kejadiannya satu jam lalu dan truk itu membawa barang untuk eksport." Ucap Ardhi.


"Pengemudinya meninggal bagaimana apa kau tahu? Dan apakah mau sudah melaporkan ini ke pihak kepolisian." Ucap Sean Arthur.


"Sudah Bos saya juga tahunya gara gara barusan di hubungi oleh pihak kepolisian, katanya satu luka tembak di kening." Ucap Ardhi.


"Ardhi, mulai sekarang semua truk agar dikawal, minta ke pihak kepolisian untuk terus mengusut ini, sampaikan ke semua karyawan agar lebih hati hati, aku tidak tahu siapa musuh kita jadi masalah ini lebih rumit dari pada masalah geng serigala." Ucap Sean Arthur.


"Baik Bos, saya akan menyampaikan semua arahan anda, maaf sebentar Bos, ini ada panggilan masuk ke ponsel saya, nanti saya hubungi bos lagi." Ucap Ardhi.


"Oke." Ucap Sean Arthur sambil mengakhiri panggilan telepon itu.


"Bapak bapak silahkan, ini bandrek nya." Ucap pria pedagang warung itu sambil meletakan tiga gelas di atas meja.


"Terima kasih pak, apakah anak buah saya yg di luar sudah di buatkan." Ucap Sean Arthur.


"Sedang saya buat pak, tapi sebagian memakai gelas plastik pak, soalnya gelas kaca saya terbatas." Ucap pria pedagang di warung itu.


"Sama sama Pak, saya permisi dulu hendak membuat untuk yang lainnya." Ucap Pria itu sambil kembali ke bagian dalam warungnya.


Drrrrt Drrrrt Drrrrt Drrrrt Drrrrt ponsel Sean Arthur kembali bergetar pertanda ada panggilan masuk ke ponselnya itu.


"Ya Ardhi bagaimana." Ucap Sean Arthur menjawab panggilan telepon itu dan memulai percakapan.


"Bos, info dari pihak kepolisian total ada sepuluh truk yang di rampok dalam waktu bersamaan dan semua pengemudinya mengalami luka tembak di kening mereka." Ucap Ardhi.


"Terus apa tindakan mu?." Tanya Sean Arthur.


"Maaf Bos, semua truk saya tarik kembali ke pabrik dan saya sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian nanti per sepuluh truk akan berangkat kembali dengan pengawalan dari pihak kepolisian." Ucap Ardhi.


"Jangan lupa berikan santunan untuk semua korban yang meninggal, ingat berhati hatilah, lalu apakah ada lagi yang ingin kau bicarakan." Ucap Sean Arthur.


"Siap Bos, hanya itu saja yang ingin saya laporkan." Ucap Ardhi.


"Oke." Ucap Sean Arthur sambil mengakhiri panggilan telepon itu dan menyimpan kembali ponselnya di saku celananya.


"Bos, apakah ada masalah lagi." Ucap Doni.


"Sepuluh truk pengangkut sparepart ponsel di rampok dan para pengemudi truk truk itu meninggal dunia dengan satu luka tembak di kening mereka." Ucap Sean Arthur.


"Ini pekerjaan profesional dan selama ini belum ada kasus perampokan seperti ini." Ucap Roni.


"Benar, karena biasanya tidak langsung membunuh pengemudi truk." Ucap Doni.


"Ini karena untuk memberikan peringatan bagi kita semua, mereka ingin kita tidak lagi menyentuh bisnis mereka." Ucap Sean Arthur.


"Bapak bapak, mobilnya bagus bagus seperti mobil tamu yang sejam lalu kesini." Ucap Pria yang merupakan pedagang warung itu sambil duduk di kursi dekat Sean Arthur.


"Makasih Pak, tadi pembelinya berapa mobil Pak." Ucap Sean Arthur.


"Tadi cuma lima mobil pak, tapi mereka hanya membungkus saja bandreknya, yang turun juga cuma satu orang saja sisanya pada di luar nerbangin apa gitu mirip helikopter mainan." Ucap pria pedagang warung itu.


"Bapak apa yang seperti ini yang mereka terbangkan." Ucap Sean Arthur sambil memperlihatkan gambar drone yang tadi dia lumpuhkan.


"Iya Pak, sama persis sama punya mereka, mainan orang kaya memang bagus bagus." Ucap pria pedagang warung itu.


"Tadi mereka ke arah mana pak, apa bapak masih ingat mobil mereka?." Tanya Sean Arthur.


"Mobil apa ya?, saya nggak tahu merk nya, tapi warnanya hitam, dan semuanya sama sama ada gambar pistolnya pak di kaca belakangnya." Ucap Pria pedagang warung itu.


"Gambar Pistol ya pak, bisa bapak perjelas pak gambar pistol seperti apa yang bapak lihat." Ucap Sean Arthur.


"Pistol apa ya, yang jelas warna stiker pistolnya berwarna emas pak, kecil tapi kelihatan jelas pak." Ucap Pria pedagang warung itu.


Sean Arthur kemudian mencari beberapa gambar pistol di internet dan memperlihatkan ke pria pedagang warung.


"Nah yang ini pak." Ucap pria pedagang warung menunjuk gambar glock 19 yang ada di layar ponsel Sean Arthur.


"Terima kasih ya pak, jadi mereka ke arah mana tadi pak?." Tanya Sean Arthur lagi.


"Mereka sepertinya dari jakarta pak, dan kembali lagi ke arah sana, plat nomornya semuanya plat jakarta pak, ujungnya sama semua pak." Ucap Pria pedagang warung itu.