
Kedua mobil Bentley itu kemudian berhenti di sebuah kafe dan mereka langsung turun lalu memasuki kafe itu, terlihat jika tidak ada pengunjung di kafe itu selain mereka dan para pelayan di kafe itu terlihat sedang menonton siaran berita langsung di Televisi yang merupakan berita pengejaran terhadap pelaku tabrak lari itu.
Sean Arthur dan semuanya langsung duduk dan semuanya memesan kopi hitam tanpa gula lalu memandangi televisi itu yang saat ini sedang proses penangkapan pelaku tabrak lari itu dan polisi ternyata terpaksa menembak mati satu orang karena berusaha menembak petugas kepolisian itu.
Tidak ada yang berkomentar apapun melihat proses penangkapan yang berlangsung dramatis itu semuanya terlihat sangat bersantai sambil menunggu rombongan Dono bergabung dengan mereka lagi.
"Bos Dono sudah dalam perjalanan kesini" ucap Alex dengan sangat hormat ke Sean Arthur yang di balas senyuman saja oleh Sean Arthur.
"Belikan aku dua bungkus rokok, ternyata rokokku habis" ucap Sean Arthur sambil meremas bungkus rokoknya dan menyalakan rokok terakhirnya.
Rico langsung berdiri dan melangkah keluar dari kafe kopi itu untuk membelikan rokok namun bukan dua bungkus melainkan dua slop dan sisanya dia simpan di dalam mobil untuk persediaan Sean Arthur nantinya lalu kembali ke dalam Kafe kopi itu dengan membawa dua bungkus rokok saja yang langsung di berikan oleh nya ke Sean Arthur.
Semuanya juga menyalakan rokok mereka sambil menikmati kopi yang sudah tersaji dan ada sebagian yang nampak memakan pisang bakardemikian juga dengan Sean Arthur bahkan sudah tiga piring pisang bakar yang di habiskan oleh Sean Arthur sendirian.
"Sudahlah berhenti melihat ku seperti itu, aku ini seharian belum makan apapun, gara gara masalah mu itu" ucap Sean Arthur yang melihat Rico terus menerus melihatnya.
"Maaf Bos, gara gara saya anda jadi lupa makan" ucap Rico sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Rico, ini semua adalah proses pembelajaran jadi jangan merasa bersalah seperti itu dan kedepan kita harus lebih kompak, ingat Rico aku tidak suka jika kau sampai lengah seperti tadi" ucap Sean Arthur sambil melihat televisi yang ada disana karena polisi menayangkan apa yang ada di dalam Jip hitam itu dan terlihat ada puluhan senjata api ilegal di dalam Jip hitam itu namun bukan itu yang menarik minat Sean Arthur melainkan melihat tampang salah satu dari tiga orang yang di tangkap polisi dan dia sangat mengenalinya yaitu tangan kanannya Tomi sang serigala ke tiga di geng serigala.
"Lihatlah yang di tengah itu, itu adalah tangan kanannya serigala ke tiga dan dia jarang sekali gagal dalam melakukan pembunuhan sebelumnya jadi paham jika kita tadi lengah dan membiarkan dia melakukan tugasnya itu maka salah satu dari kita mungkin sudah bertemu dengan sang pencipta saat ini" ucap Sean Arthur sambil melihat jam yang saat ini sudah jam 23.58 wib dua menit lagi untuk rencana yang dibuat tadi pagi akan dilaksanakan oleh Gunawan.
Semua anak buahnya itu menganggukkan kepalanya sebagai tanda mereka menyadari kesalahan mereka semua dan juga berterima kasih kepada Sean Arthur karena berkat kejelian mata Sean Arthur mereka bisa terlepas dari tangan pembunuh nomor satu di geng serigala.
Sean Arthur kemudian kembali menyantap pisang bakarnya dan ini sudah piring kelima yang akan dia habiskan.
Sebuah pesan dan sebuah email masuk ke ponselnya tepat jam 00.01 wib.
Sean Arthur langsung melihat pesan masuk yang ternyata gunawan memberitahunya jika rencana mereka sudah berhasil dan kemudian Sean Arthur melihat emailnya.
Emailnya itu ternyata berisi pemberitahuan uang masuk ke rekening luar negerinya dengan jumlah yang sangat fantastis.
Alex langsung berdiri dan mendekati seorang pelayan meminta agar di putarkan siaran langsung bursa di channel bisnis.
Sean Arthur melihat ke televisi itu dan membaca berita berjalan di televisi itu yang memberitakan tentang satu anak perusahaannya yang telah bangkrut.
"Bos, berita itu, bukankah itu anak perusahaan anda" ucap Alex saat kembali ke meja Mereka.
"Benar dan tidak masalah bukan jika satu bangkrut kan masih ada yang lainnya" ucap Sean Arthur sambil melihat ke arah pintu dimana ada empat orang yang masuk ke dalam kafe itu yang tidak lain adalah Dono dan tiga rekannya.
"Maaf membuat bos besar menunggu lama" ucap Dono dengan hormat sambil berdiri di depan mereka semua.
"Sudah tidak masalah, kau pesanlah dan bersantai saja dulu, jam setengah dua kita lanjutkan perjalanan kita" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Terima kasih Bos" ucap mereka berempat kompak dan langsung duduk di kursi yang kosong di dekat mereka lalu memanggil pelayan kafe itu.
"Aku tidak melihat kalian meminum alkohol dalam dua hari ini apa kalian sudah berhenti minum alkohol" ucap Sean Arthur ke Alex dan Rico.
"Benar bos kami semuanya sejak bos menghilang satu bulan lalu berhenti minum alkohol" ucap Alex dengan hormat dan semuanya menganggukkan kepalanya pertanda mereka semua mengiyakan ucapan Alex itu.
"Baguslah, dunia kita ini memang dunia yang kotor namun masa iya kita mengisi tubuh kita dengan hal yang merusak juga, cukup rokok ini saja yang menjadi racun untuk tubuh kita jangan ditambah dengan yang lainnya apalagi alkohol atau obat obatan terlarang itu" ucap Sean Arthur sambil tersenyum hangat ke semuanya dan semuanya langsung menganggukkan kepalanya dengan kompak.
"Oh iya bos aku lupa mengabari ada, di garasi anda saat ini tidak ada motor Ducati yang ada merk KTM saja" ucap Rico sambil melihat ke Sean Arthur.
"Ardhi ini kadang kadang lupa hal kecil, ya sudahlah siapa tahu KTM enak dipakai" ucap Sean Arthur sambil menggelengkan kepalanya dan mengirim pesan singkat ke Ardhi agar mengirim motor Ducati terbaru ke rumahnya besok pagi.
"Bos, apakah anda tidak ingin makan yang lain, di sebelah kafe ini ada restoran yang masih buka tadi saya lihat pas beli rokok" ucap Rico dengan hormat sambil melihat Sean Arthur mulai memakan pisang bakar lagi dan terlihat di depannya sudah banyak sekali piring kosong.
"Kau itu, ini juga makanan, apa kau lupa almarhum ayahku semasa hidupnya jika mengajak kita keluar yang dimakannya hanya ini saja dan pisang bakar ini salah satu cara ku mengingat beliau" ucap Sean Arthur dengan ramah namun semuanya bisa melihat kesedihan dimatanya.
"Maafkan saya Bos, saya tidak bermaksud untuk membuat anda bersedih" ucap Rico pelan namun tetap terdengar oleh Sean Arthur.