Sean Arthur | Bandung Mafia

Sean Arthur | Bandung Mafia
Membeli Villa baru



"Siap Bos, kami menurunkan angka saham saham itu dengan normal tidak akan ada kecurigaan dari manapun, dan juga penarikan dana juga aman karena dana di tulis menghilang oleh perbankkan." Ucap Gunawan kemudian.


"Gunawan perlahan rendahkan saham saham perusahaan delapan serigala, ingat hanya di rendahkan bukan di bangkrutkan, kita berikan waktu untuk pihak pemegang saham lainnya di perusahaan mereka itu untuk menjual saham saham mereka meski mengalami kerugian tentunya" ucap Sean Arthur sambil kembali menyalakan sebatang rokoknya.


"Bos, saya sebenarnya sudah berpikiran seperti itu namun belum terucap, saya dan anak buah saya sudah mendata semua perusahaan delapan serigala dan kami juga sudah memeriksa semua alur saham mereka jadi untuk membuat saham mereka menjadi rendah itu sangat mudah buat saya" ucap Gunawan.


"Baguslah jika demikian apakah ada hal lain yang ingin kau sampaikan kepadaku" ucap Sean Arthur karena melihat Gunawan seperti menahan sesuatu dalam pembicaraannya.


"Bos, ini sebenarnya hal kecil namun cukup merepotkan sebenarnya untuk saya" ucap Gunawan dengan hormat dan tampak enggan untuk berbicara.


"Gunawan kita sudah kenal sangat lama, jadi jangan sungkan kepadaku" ucap Sean Arthur dengan ramah.


"Bos, jika kami pindah ke tempat anda untuk sementara apakah boleh, tempat ini memang aman namun ternyata tidak bisa menampung semua peralatan saya" ucap Gunawan dengan sangat hormat.


"Tentu saja bisa, ruang bawah tanah ku cukup luas untuk kalian dan ada berapa anak buah yang akan kau ajak" ucap Sean Arthur dengan ramah.


"Bos, terima kasih, semuanya ada seratus orang dan selama beberapa hari ini mereka bekerja di rumah mereka jadi sedikit merepotkan untuk saya dan yang lainnya berkoordinasi" ucap Gunawan dengan tetap menjaga ucapannya.


"Baiklah jika demikian Rico, anak buahmu biarkan disini membantu kepindahan Gunawan dan anak buahnya ke rumah kita" ucap Sean Arthur sedikit kencang agar Rico dan empat orang anak buahnya mendengar perkataannya itu.


"Beres Bos" ucap Rico sambil tersenyum lebar.


"Di rumahku masih banyak tanah kosong biar nanti di bangun untuk menjadi tempat tinggal kalian saja, aku rasa dengan pembangunan itu juga tidak lama, sementara kalian semua menginap di hotel ku saja jaraknya juga tidak jauh" ucap Sean Arthur kembali ke Gunawan.


"Bos, terima kasih banyak, saya benar benar meminta maaf kepada Bos akan hal ini" ucap Gunawan.


"Kau itu bicara apa, kalian kan bekerja untuk ku juga jadi sudah sepantasnya aku menyiapkan semua kebutuhan kalian, baiklah aku masih ada urusan jadi kalian berbenahlah dan nanti biar mereka berempat yang membantu kalian sekaligus membawa kalian ke rumahku" ucap Sean Arthur dengan ramah sambil berdiri.


"Baik Bos, sekali lagi terima kasih " ucap Gunawan sambil ikut berdiri demikian juga dengan Rico dan anak buahnya.


Sean Arthur dan Rico kemudian keluar dari dalam kafe itu dan langsung meninggalkan parkiran kafe menuju ke kantornya.


Mobil SUV itu melesat dengan cepat karena jalanan yang sudah mulai lancar.


"Rico jumlah mereka semua ada seratus orang menurutmu kita buatkan rumah atau bagaimana" ucap Sean Arthur sambil kembali menyalakan sebatang rokoknya.


"Bos membangun rumah untuk mereka bisa memakan waktu lumayan lama, kenapa bos tidak membeli vila vila yang berdampingan saja bukankah villa villa itu kosong dan terpasang plang dijual" ucap Rico sambil tersenyum lebar.


"Sanggup Bos, namun saya dan Alex pernah melihat villa villa itu tapi hanya villa biasa saja, tidak ada ruang bawah tanah nya, dan menurut saya memang mereka bekerja di rumah Bos saja jadi lebih mudah untuk Bos mengontrol mereka" ucap Rico dengan sangat hormat.


Sean Arthur kemudian mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Alex.


"Alex, nanti ada seratus orang yang akan bekerja di ruang bawah tanah, mereka semua adalah tenaga ahli bidang cyber jadi kau suruh anak buahmu untuk menyiapkan ruangan bawah tanah itu ya" ucap Sean Arthur melalui ponselnya.


"Baik Bos, jika demikian namun dimana mereka akan tinggal, semua bangunan disini sudah penuh oleh anak buah saya dan juga anak buah Rico" ucap Alex melalui ponsel.


"Informasi dari Rico villa kiri dan kanan kita katanya di jual jadi kau urus pembeliannya untuk uangnya langsung saja minta ke Ardhi, nanti setelah menjadi milikku maka lebarkan tembok kita agar tetap satu pagar dan satu pintu seperti sekarang, aku juga minta di selesaikan dengan segera" ucap Sean Arthur melalui ponselnya.


"Beres bos, kebetulan pemilik villa sebelah dua duanya saya kenal baik, dan jika demikian maka anak buah saya akan mengisi villa di kiri dan anak buah Rico di kanan, jadi tenaga ahli cyber bisa di bangunan belakang saja, sehingga waktu mereka tidak terbuang oleh perjalanan pulang pergi" ucap Alex melalui ponsel.


"Kau atur saja semuanya agar berjalan dengan maksimal dan segera selesaikan aku tunggu kabar baikmu, lalu bagaimana dengan empat orang itu" ucap Sean Arthur melalui ponselnya.


"Beres bos, mereka sudah terbang ke Kanada, dan orang ku mengikuti mereka, jika mereka berkhianat maka kanada akan menjadi akhir hidup mereka" ucap Alex kembali.


"Baguslah jika begitu, ingat lakukan dengan segera" ucap Sean Arthur sambil mematikan panggilan telepon itu dan menyimpan kembali ponselnya lalu kembali menyalakan sebatang rokoknya.


"Hanya rokok ini yang bisa membuatku tenang" ucap Sean Arthur sambil menengok kebelakang dan melihat satu sedan Maybach dan satu SUV Mitsubishi mengikutinya sejak keluar dari parkiran kafe kopi Gunawan.


"Mereka anak buah saya Bos, sengaja beda beda mobil agar tidak mencolok perhatian orang lain" ucap Rico sambil melihat ke Sean Arthur.


"Baguslah sepertinya kau sudah benar benar belajar untuk menjadi lebih baik" ucap Sean Arthur sambil kembali bersandar dan menikmati rokoknya itu.


"Saya hanya ingin menebus kesalahan saya kepada Bos dan tidak ingin kehilangan kepercayaan Bos kepada saya" ucap Rico dengan sangat sopan.


"Rico lewat jalan pintas saja, aku ingin cepat sampai kantor" ucap Sean Arthur dengan ramah.


"Siap Bos" ucap Rico sambil membelokan mobil ke kanan dan langsung masuk ke jalanan yang hanya muat dua mobil kecil saja.


"Aku tadinya ingin melihat anak buahmu berolah raga namun sepertinya aku harus menundanya sampai waktu yang tepat" ucap Sean Arthur sambil mengambil ponselnya yang berbunyi dan melihat jika ternyata ada sebuah pesan singkat yang dikirim oleh Gunawan kepadanya.


Pesan singkat dari Gunawan itu bukan berisi informasi tentang Gunawan akan berangkat bersama anak buahnya ke rumahnya namun berisi informasi yang sangat dia tunggu tunggu.