
Terdengar suara berisik dari arah panggung tempat live musik tersebut dan Sean Arthur dengan yang lainnya melihat jika pengawalnya itu sedang beradu argumen dengan seorang pemuda yang tadi sedang bernyanyi.
"Rico bawa dia kesini jangan memancing perhatian pengunjung seperti ini" ucap Sean Arthur ke Rico.
"Baik Bos" ucap Rico sambil berdiri dan melangkah menuju panggung live musik.
"Kalian berdua temani Rico" ucap Sean Arthur ke pengawalnya yang duduk di dekatnya.
Keduanya langsung berdiri dan bergegas mengejar Rico.
Sean Arthur terus memperhatikan panggung live musik tersebut dan melihat jika ketiga pengawalnya tersebut sudah berjalan kembali mengikuti Rico kembali ke meja mereka lalu duduk di kursi yang sebelumnya mereka duduki.
"Ada apa?" Ucap Sean Arthur dengan ramah ke pengawalnya yang tadi ribut dengan pemuda yang bernyanyi.
"Bos besar, tadi saya menanyakan ke kasir apakah bisa speaker di tempat kita di kecilkan dan kasir menyampaikan jika pengaturan di panggung saya diminta oleh kasir untuk menyampaikannya langsung ke yang sedang bermain piano namun saat saya menyampaikan ke pemain piano ternyata pemuda itu memaki maki saya katanya apa hak saya sampai harus meminta pemain piano untuk mengecilkan speaker di sini, demikian Bos Besar ceritanya" ucap sang pengawal tersebut dengan sangat hormat.
"Lalu kopinya sudah kau pesan" ucap Sean Arthur kembali.
"Maaf belum Bos, saya mendahulukan suara berisik ini agar Bos Besar tidak keberisikan" ucap pengawalnya tersebut sambil menundukkan kepalanya sebagai permohonan maafnya.
"Ya sudah, ayo kita minum kopi di tempat lain saja, Rico bereskan tagihannya" ucap Sean Arthur sambil berdiri di ikuti oleh semua pengawalnya dan juga Rico.
"Baik Bos" ucap Rico sambil bergegas ke kasir.
Sean Arthur dan delapan orang pengawal pribadinya itu langsung berjalan keluar dari rumah makan itu namun mereka melihat jika pemuda itu sudah berdiri di dekat mobil mereka bersama empat orang kawannya.
"Eh bajingan tengik kau pikir kau siapa berani beraninya mencari ribut dengan ku" ucap pemuda itu sambil menunjuk ke pengawalnya Sean Arthur.
"Maaf Bos Besar jadi sedikit panjang sepertinya" ucap pengawalnya itu dengan hormat.
"Eh bajingan kau aku yang berbicara dengan mu, kau tahu siapa aku, aku anggota geng serigala dan hari ini aku tidak akan membiarkan mu pergi dengan utuh kecuali kau merangkak di kolong ku dan mencium kakiku" ucap pemuda itu sambil di iringi tawa ke empat kawannya.
"Aku belum pernah melihat mu berkelahi apa kau sanggup mengalahkan empat sampah ini" ucap Sean Arthur pelan namun terdengar oleh pengawalnya itu.
"Siap Bos Besar" ucap pengawalnya itu dengan hormat.
"Lakukan cepat, Rico kita tunggu dalam mobil saja dan kalian juga sama tunggu dalam mobil saja" ucap Sean Arthur sambil membuka pintu mobilnya demikian juga yang lainnya.
"Lihatlah kawan kawan mu yang pengecut ini malah sembunyi dalam mobil, jadi cepat kau merangkak kesini" ucap pemuda tersebut berteriak sehingga memancing semua pengunjung rumah makan melihat mereka.
Kejadian itu hanya beberapa detik saja tidak sampai lima menit dan pengawal pribadi Sean Arthur kini berjalan menuju kaca mobil Sean Arthur yang sudah di buka oleh Sean Arthur.
"Bagus aku suka, hampir satu menit namun aku suka, sekarang urus dengan pihak keamanan rumah makan dulu" ucap Sean Arthur sambil melihat dua orang keamanan rumah makan mendatangi mereka.
"Baik Bos Besar" ucap Pengawalnya itu dengan hormat lalu berbalik badan dan menemui dua keamanan rumah makan itu yang bingung hendak berbuat apa karena kelima orang yang berbadan seperti kingkong itu kini tergeletak tak berdaya dan menjerit kesakitan.
"Bos mereka semua anggota geng serigala apa tidak sebaiknya kita habisi saya mereka sekarang" ucap Rico sambil tersenyum hangat dan tampak bersemangat.
"Ngawur kau" ucap Sean Arthur sambil turun dari dalam mobilnya dan melangkah mendekati kelima orang yang masih menjerit kesakitan lalu mendekati pemuda yang mencari masalah dengan pengawalnya itu.
"Kau anggota geng serigala ya, siapa Bos mu" ucap sean Arthur sambil berjongkok di dekat pemuda itu.
Dan memang wataknya yang jelek pemuda itu berhenti menjerit kesakitan dan melihat ke arah Sean Arthur dengan penuh amarah.
"Bos ku bernama Andika dan jika dia sudah mendengar ini maka siap siaplah kalian akan mati hari ini juga" Ucap pemuda itu dengan penuh amanah sambil tangan kirinya terlihat hendak mengambil sesuatu dan Sean Arthur melihat hal ini.
Pemuda itu meraih senjata api miliknya dan langsung menodongkan senjata api tersebut ke Sean Arthur yang berjongkok itu.
Rico dan yang lainnya langsung turun dari mobilnya dan mendekati Sean Arthur namun Sean Arthur mengangkat tangan kanannya meminta anak buahnya untuk diam di tempat.
Pihak keamanan rumah makan juga sama hendak menolong Sean Arthur namun terhenti karena permintaan Sean Arthur itu.
"Jadi Bos mu bernama Andika, terus sekarang kau mau membunuh ku dan semua bawahanku, ya udah mau bagaimana mana pun kau yang memegang senjata api bukan" ucap Sean Arthur dengan sangat santai.
"Kau telepon sekarang Bos Andika biar dia tahu siapa yang menyerang kita" ucap pemuda itu ke temannya yang masih menahan sakit akibat tempurung lututnya di hancurkan oleh pengawal pribadi Sean Arthur.
Pemuda yang di suruh menghubungi Andika langsung mengambil ponselnya dan langsung melakukan video call dengan Andika.
"Aku sedang sibuk ada apa kau menghubungi ku dan kenapa kau seperti kesakitan" ucap Andika melalui panggilan video itu dan terdengar oleh Sean Arthur.
"Bos ada yang menghajar kami namun kakak pertama sudah mengamankannya saat ini mohon anda kesini kami ada di rumah makan yang dekat rumah anda" ucap pemuda yang melakukan telepon video itu.
"Aku akan kesana kalian tunggu dan jangan biarkan ada dari mereka yang pergi apapun yang terjadi" ucap Andika melalui telepon video itu dan langsung mematikan panggilan telepon video itu.
Sang pemuda itu langsung menyimpan kembali ponselnya dan mengambil senjata api miliknya lalu menodongkannya ke Sean Arthur demikian juga yang lainnya.
"Kau tunggu saja kematianmu, saat bosku datang kau akan menangis" ucap pemuda yang pertama kali mencari masalah itu dengan penuh amarah ke Sean Arthur.