
"Kenapa kau, apa perut kau hamil? Sampai memegangi perut buncit mu itu" ucap Rico ke anak buahnya yang sibuk mengelus ngelus perut buncitnya.
"Bos, saya baru pertama kali makan makanan eropa se enak ini, dan sekarang kekenyangan" ucap Anak buahnya Rico itu sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang sudah copot satu pas bagian tengah.
"Sebaiknya kau tidak memperlihatkan gigi ompong mu itu lagi kepada ku atau bos besar karena jika masih maka aku akan mencopot yang bawahnya" ucap Rico sambil kemudian menyalakan sebatang rokoknya.
"Kalian berdua ini benar benar ya, eh kau keluar dari sini dan panggil manager restoran suruh kesini bawakan kopi pahit untukku, suruh managernya yang membawakan" ucap Sean Arthur ke salah seorang anak buah Rico yang sibuk dengan ponselnya.
"Aku juga mau jadi suruh bawa dia gelas kopi hitam kesini" ucap Rico sambil tersenyum hangat ke Sean Arthur.
"Pergilah dan temui langsung manager restoran ini suruh dia membawa dua gelas kopi hitam lalu ambilkan rokokku di mobil, Rico kasihkan remotenya" ucap Sean Arthur karena anak buahnya Rico itu terlihat menunggu keputusan apakah memang harus meminta dua gelas kopi hitam.
Rico langsung mengeluarkan remote Bentley dan memberikannya ke anak buahnya itu.
"Siap Bos besar" ucap Anak buah Rico sambil langsung meninggalkan ruangan itu dan menutup kembali pintu ruangan itu.
"Apakah kalian masih mau menambah makanan kalian lagi" ucap Sean Arthur dengan ramah ke anak buah Rico.
"Tidak bos besar kami sudah kenyang lagi pula kami takut jika dia akan melahirkan nanti di mobil" ucap salah seorang anak buah rico sambil menunjuk kawannya yang paling buncit yang sebelumnya di candai oleh Rico.
Semuanya langsung tertawa terbahak bahak termasuk dengan Sean Arthur atas candaan itu tapi tidak dengan pria buncit itu yang hanya menundukkan kepalanya saja.
Lima menit berlalu dan anak buah Rico datang kembali bersama dengan seorang wanita muda yang merupakan manajer restoran itu, sang manajer tampak membawa sebuah nampan yang berisi dua gelas kopi hitam lalu meletakkannya di atas meja persis di depan sean Arthur dan Rico.
"Bos besar apakah ada yang bisa saya bantu" ucap wanita muda itu dengan sangat hormat.
"Aku mau bertanya sedikit kepadamu duduklah dulu" ucap Sean Arthur dengan ramah sambil meminta anak buah Rico berdiri memberikan kursinya untuk di duduki oleh manager restoran itu
Anak buah Rico langsung berdiri dan manager restoran itu langsung duduk di kursi itu.
"Bagaimana bisnis restoran ini apakah lancar" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Lancar Bos, tamu juga banyak yang sudah menjadi langganan" ucap wanita muda itu dengan sangat hormat.
"Baguslah, aku ingin meminta sedikit bantuanmu untuk melaporkan langsung kepadaku jika delapan serigala datang kesini" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Baik Bos, lalu apakah saya harus menyadap ruangan yang biasa mereka gunakan" ucap wanita muda itu dengan sangat hormat.
"Jika bisa lakukan saja namun berhati hatilah aku tidak ingin mereka curiga jika ini adalah salah satu aset milikku" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Oke itu saja yang ingin aku bicarakan dengan mu, terima kasih dan tagihannya nanti berikan saja ke Ardhi jgn di gratiskan karena ini bisnis bukan rumah duafa" ucap Sean Arthur dengan ramah ke wanita muda yang merupakan manager restoran eropa miliknya itu.
"Siap Bos besar, masih ada deposit dari Bos Ardhi disini senilai seratus juta rupiah untuk anda gunakan" ucap wanita muda itu dengan sangat hormat sambil berdiri.
"Kalian semua mau kopi atau apa, minta sekalian biar nanti diantarkan oleh pelayan restoran" ucap Sean Arthur ke para bawahan Rico sambil menerima sebungkus rokoknya yang tadi diambilkan oleh bawahan Rico.
Semua bawahan Rico tampak sangat gembira dan langsung meminta kopi yang sama seperti yang di minum oleh Sean Arthur dan Rico.
Wanita muda itu langsung keluar dari dalam ruangan itu setelah membungkukkan badannya untuk menghormati Sean Arthur.
"Kalian ini tahu ngak ini kopi terbaik dari amerika dan pergelasnya senilai satu juta rupiah disini" ucap Rico sambil melihat ke semua anak buahnya itu.
"Bos sekali kali bolehlah kami meminum kopi mahal, masa kopi sachet terus" ucap salah seorang anak buah Rico sambil tertawa ringan.
"Sudah sudah tidak perlu dibahas hal kecil seperti ini, oh ya Rico suruh anak buah mu yang semalam untuk menghancurkan diskotik Komori nanti malam" ucap Sean Arthur dengan santai sambil menyalakan sebatang rokoknya.
"Siap Bos" ucap Rico sambil mengambil ponselnya dan melakukan panggilan telepon ke anak buahnya spesialis pembuat keributan itu.
"Diskotik Komori nanti malam" ucap Rico melalui panggilan telepon itu meskipun singkat namun di mengerti oleh anak buahnya dan Rico langsung mematikan panggilan telepon itu dan menyimpan kembali ponselnya di samping gelas kopinya.
"Bos besar maafkan saya namun bukankah disamping diskotik Komori ada tempat spa milik anda apakah tidak akan merembet ke tempat spa anda" ucap salah seorang anak buah Rico berusaha mengingatkan Sean Arthur.
"Tidak masalah bukankah tempat spa kita tutup pas tengah malam bukan, jika hanya tempat saja yang rusak bisa kita perbaiki kok, terima kasih kau sudah peduli dengan asetku" ucap Sean Arthur dengan ramah.
Rico langsung mengambil kembali ponselnya dan melakukan panggilan telepon lagi ke anak buahnya yang barusan dia hubungi.
"Ingat lakukan di atas jam dua pagi saat pengunjung sudah pada mabuk" ucap Rico melalui panggilan telepon itu dan langsung mematikannya lalu menyimpan kembali ponselnya.
Tidak lama kemudian pintu ruangan mereka di ketuk dan masuk tiga orang pelayan restoran yang membawakan kopi dan juga snack untuk mereka lalu meninggalkan ruangan itu lagi.
"Bos, apa semua diskotik mereka akan kita hancurkan" ucap Rico dengan sangat hormat.
"Jika perlu kenapa tidak namun tidak dalam waktu bersamaan tentunya Minggu ini cukup dua saja, apalagi sekarang hari Jumat diskotik mereka akan sangat ramai bukan tentunya ini akan menjadi topik hangat media massa sehingga menurunkan kepercayaan rekan rekan bisnis geng serigala tentunya" ucap Sean Arthur dengan ramah dan santai.
"Siap Bos saya paham dengan maksud anda, jadi target sebenarnya adalah memutuskan kontrak kerjasama mereka dengan rekanan mereka" ucap Rico dengan sangat hormat dan semakin kagum dengan Sean Arthur demikian juga para bawahannya itu.
"Mereka semua itu hanya memiliki sedikit uang jadi menggunakan uang orang lain untuk bisnis hiburan mereka nah jika dua diskotik terbesar dan paling ramai sampai hancur tentunya ini akan sangat merugikan mereka karena rekanan bisnis mereka akan menekan mereka baik dari segi keuangan maupun segi lainnya" ucap Sean Arthur dengan ramah sambil kembali menghisap rokoknya itu.