
"Mereka sekarang satu langkah di depan, tapi setidaknya mereka belum tahu jika aku ada di villa ini, semoga saja Gunawan bisa segera mengetahui beberapa tindakan kriminal mereka sehingga aku bisa menghabisi mereka semua dengan sempurna" ucap Sean Arthur sambil melihat monitor cctv dan memeriksa semua cctv rumahnya.
Tiga puluh menit berlalu dan ratusan motor berbagai jenis nampak memenuhi jalanan depan pintu gerbang masuk rumah Sean Arthur dan hal ini diketahui oleh Sean Arthur.
"Kalian semua langsung masuk saja kesini, saat ini tidak ada yang menjaga pintu jadi biarkan dia anak buahmu untuk menjaga pintu di luar dan dua menjaga di bagian dalam pintu gerbang" ucap Sean Arthur melalui ponselnya ke Alex.
"Baik Bos, kami akan segera masuk" jawab Alex melalui ponsel dan hal ini di lihat oleh Sean Arthur melalui cctv.
Ratusan motor itu terlihat melewati pintu gerbang namun ada empat yang langsung parkir di bangunan kecil yang biasa di gunakan sebelumnya oleh anak buah Rico untuk berjaga pintu gerbang itu.
Sean Arthur kemudian memeriksa cctv kembali dan memeriksa bagian luar rumahnya.
Sean Arthur melihat jelas ada sebuah Jip Hitam di samping kanan rumahnya dan kaca mobil jip hitam itu sangat gelap sehingga cctv disana tidak bisa melihat bagian dalam mobil.
Sean Arthur kemudian berdiri dan langsung menemui alex yang sedang memarkirkan motornya di areal parkir samping kiri rumahnya.
"Alex ikut dengan ku" ucap Sean Arthur ke Alex dan langsung melangkah menuju ruang bawah tanah tempat Rico mengumpulkan semua anak buahnya.
Alex berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun karena dia belum mengetahui jika ternyata semua anak buah Rico yang ada di kediaman itu termasuk dengan bawahan lainnya berkhianat kepada Rico dan juga Sean Arthur.
Mereka berdua sampai di ruang bawah tanah dan terlihat jika Rico saat ini sedang duduk di kursi dengan ada dua senjata api jenis pistol tergeletak di atas meja yang ada di depannya dan di depan Rico terlihat ratusan orang yang sedang duduk di lantai.
Di atas meja itu juga terlihat ratusan ponsel menumpuk yang merupakan semua ponsel milik para bawahannya itu.
"Bos semuanya sudah di sini" ucap Rico dengan sangat hormat sambil menyimpan kembali pistolnya ke pinggangnya.
"Bos ada apa ini kenapa semua anak buah Rico ada di sini?" Ucap Alex dengan sangat hormat dan terlihat sangat penasaran.
"Mereka semua sudah berkhianat kepada ku dan Rico, mereka bekerja sama dengan Tomi" ucap Sean Arthur dengan santai sambil duduk di kursi yang ada di depan Rico.
"Tomi serigala ke tiga?' ucap Alex lagi dengan tetap hormat.
"Benar, dan aku minta kau mengambil alih pengamanan rumah ku ini" ucap Sean Arthur sambil mengulurkan tangannya ke arah Rico.
Rico mengambil satu pistolnya dan memasangkan peredam suara nya lalu menyerahkan pistol itu ke Sean Arthur.
Sean Arthur menerima pistol yang sudah menggunakan peredam suara itu lalu mengarahkannya ke salah seorang bawahan Rico lalu menembaknya tepat di keningnya dan orang itu langsung meninggal dunia seketika.
Darah mengucur dari kening anak buah Rico yang keningnya di tembus oleh peluru itu dan Sean Arthur kemudian memberikan pistol itu ke Rico dan Rico menyimpan kembali pistolnya ke pinggangnya setelah melepas peredam suaranya.
"Aku tidak pernah peduli saat kalian ada salah atau sedang lalai namun aku tidak bisa memaafkan pengkhianatan sedikit pun, siapa di antara kalian yang murni bekerja untuk Tomi dan memang di tugaskan untuk menjadi mata dan telinga Tomi di sini selain dia" ucap Sean Arthur dengan sangat lantang namun wajahnya tetap tanpa emosi sama sekali.
Dua orang pria langsung berdiri dan tetap menundukan kepalanya tidak berani melihat ke arah Sean Arthur.
"Bicaralah dan jelaskan kepadaku" ucap Sean Arthur kembali dengan sangat lantang.
"Bos besar maafkan saya, saya memang bekerja untuk Bos Tomi namun saya tidak pernah melaporkan kehadiran Bos disini dan saya juga sangat jarang sekali melaporkan apa yang terjadi di sini" ucap Pria usia empat puluh tahunan sambil tetap menunduk.
"Bos besar saya terpaksa melakukan pekerjaan ini karena Bos Tomi menjanjikan akan menghapus semua hutang keluarga saya kepadanya" ucap pria satunya yang berusia tiga puluh tahunan.
"Jadi kalian berdua yang mengatur agar semua yang bekerja di kediaman ini menjadi anak buah Tomi, apakah ada lagi selain kalian semua" ucap Sean Arthur dengan sangat lantang dan melihat mereka semua.
"Tidak Bos Besar tidak ada lagi hanya mereka saja yang kami berdua rekomendasikan ke Bos Tomi" ucap pria usia empat puluh tahunan itu.
"Alex silahkan kau saja yang menghapus keberadaan mereka, lakukan dengan sempurna dan aku tidak ingin ada satu hal yang memberatkan ku kedepannya" ucap Sean Arthur sambil berdiri dan melangkah meninggalkan ruang bawah tanah itu.
Alex langsung mengambil radio komunikasi miliknya dan meminta anak buahnya untuk turun ke ruang bawah tanah itu.
"Rico kau kembalilah ke atas dan biarkan anak buah ku saja yang menangani mereka" ucap Alex yang melihat ratusan anak buahnya sudah sampai di ruang bawah tanah itu.
"Alex baiklah aku serahkan mereka kepadamu, maaf jika aku merepotkan mu" ucap Rico dengan ramah sambil memasukkan semua ponsel yang ada di atas meja ke sebuah kardus yang ada di bawah meja.
Rico meninggalkan ruangan bawah tanah itu dan membawa sebuah kardus yang berisi semua ponsel milik anak buahnya untuk dia serahkan ke Sean Arthur.
Sean Arthur sendiri sudah duduk di ruang tamu rumahnya menunggu kehadiran Ardhi yang membawa mobil barunya dan juga uang tunai untuk Gunawan.
Namun bukannya Ardhi yang datang melainkan Rico dengan membawa sebuah kardus yang berisi ratusan ponsel.
"Yang mengusir mu siapa sampai kau membawa kardus untuk barang barang mu" ucap Sean Arthur mencandai Rico.
"Maaf Bos, ini saya membawa semua ponsel mereka takutnya bos ingin memeriksa ponsel ponsel mereka." Ucap Rico dengan sangat hormat sambil meletakkan dus yang dibawanya di atas meja yang ada di depan Sean Arthur tanpa memperdulikan candaan Sean Arthur kepadanya.
"Rico, sudahlah sebaiknya kau mulai mencari bawahan baru saja yang benar, benar bisa setia dengan mu namun ingat bukan Kuantitas melainkan kualitas, buat apa punya banyak anak buah tapi sampah semua, lebih baik punya sedikit anak buah namun semuanya seperti saudara" ucap Sean Arthur sambil melihat ke arah Rico.