
"Michael ayam bakar enak nich, aku lapar" ucap Sean Arthur sambil tersenyum lebar.
"Nga punya adanya rusa bakar bentar lagi matang, ayo ikut aku ke belakang" ucap Michael sambil berdiri dan melangkah menuju halaman belakang rumahnya.
Di halaman belakang mereka melihat jika ada dua orang sedang membakar satu ekor rusa utuh lengkap dengan kepalanya namun sudah tidak memiliki tanduk.
"Mantap" ucap Sean Arthur.
"Bos Sean, kau kenapa memiliki banyak tikus" ucap Michael dengan ramah sambil memberikan bungkus rokok dan koreknya ke Sean Arthur.
"Mungkin terlalu banyak kue yang aku bagikan" ucap Sean Arthur sambil menerima bungkus rokok tersebut lalu mengambil sebatang dan langsung di nyalakan olehnya lalu memberikan bungkus rokok itu ke Alex.
"Dari dulu tidak pernah berubah, selalu saja membagi kue seenaknya, ingat yang kau beri makan itu tikus apa ikan atau jangan jangan kau beri makan buaya siluman" ucap Michael sambil tertawa terbahak bahak.
"Kenapa kau masih memilih tempat ini" ucap Sean Arthur.
"Karena ini pemberian mu yang pertama kepadaku, jadi ya aku tempati saja" ucap Michael dengan ramah.
"Bos Sean kau sudah jadi Bos selayaknya kau berperilaku seperti Bos beneran" ucap Michael.
"Kau tau aku bukan, aku tidak mau pusing dengan masalah kecil" ucap Sean Arthur
"Eh kau dari pada jadi patung buatkan kami kopi hitam tanpa gula empat" ucap Michael berteriak ke anak buahnya yang berdiri dekat pintu sedangkan mereka sedang duduk di kursi taman melingkari sebuah meja bulat.
"Siap Bos" ucap anak buah Michael dengan sangat sigap.
"Kenapa aku merasa seperti di camp militer ini" ucap Alex sambil melihat sekelilingnya.
"Alex mungkin aku kurang detail kepadamu, Michael ini adalah kelompok pembunuh bayaran internasional peringkat nomor satu dari semua kelompok yang ada selama sepuluh tahun terakhir ini" ucap Gunawan menjelaskan.
"Hantu Hitam" ucap Alex secara spontan.
"Eh Alex tawaran ku untukmu masih berlaku, jika kau sudah bosan dengan Bos mu ini ikutlah dengan ku" ucap Michael sambil tertawa ringan.
"Maaf Bos Michael saya terpaksa menolaknya, Bos Sean Arthur sudah seperti adik saya sendiri jadi saya akan selalu menjaganya" ucap Alex dengan sangat hormat.
"Kau itu, jika Sean kau anggap adik kenapa kau memanggilku Bos, harusnya kau panggil aku adik juga" ucap Michael dengan tegas.
"Sudah jangan dengarkan dia" ucap Gunawan dengan ramah.
"Alex, aku tahu kau ingin mencoba senjata itu maka cobalah" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Eh kalian kemarikan senjata kalian" ucap Michael berteriak ke lima orang anak buahnya yang berjaga di tengah halaman itu.
Kelima anak buah Michael langsung berlari dan meletakan senjata mereka di atas meja.
"Alex, tembak itu saja" ucap Michael sambil menunjuk pohon pinus yang berjarak dua ratus meter dari lokasi mereka dan di atas pohon pinus itu ada lima lampu led kecil yang berkedip kedip sehingga nampak seperti kunang kunang.
"Lakukan saja" ucap Sean Arthur dengan ramah.
Alex langsung mengambil satu senjata Laras panjang itu dan langsung menembak lampu lampu led itu.
Dor
Dor
Dor
Dor
Dor
"Benar benar ahli senjata." Ucap Michael sambil melihat Alex menyimpan kembali senjata api Laras panjang itu di atas meja dan Alex menembak tanpa bergeser sama sekali dari tempat duduknya.
Michael langsung mengambil senjata yang sudah dipakai Alex dan memberikannya kembali ke anak buahnya.
"Alex pohon yang kedua" ucap Michael sambil menunjuk ke pohon pinus yang lebih jauh dengan jarak tiga ratus meter dari tempat mereka dan nampak ada satu lampu led yang berkedip.
Alex kembali mengambil satu senjata api laras panjang di atas meja itu yang memang dari lima senjata api itu semuanya berbeda jenis.
Dor
Senjata itu meletus sesaat setelah Alex memegangnya bahkan masih posisi di atas meja dan semuanya melihat jika lampu led kecil itu menghilang lagi.
Michael kembali mengambil senjata yang sudah di pakai oleh Alex yang hanya di geser sedikit saja dari atas meja itu.
"Alex pohon selanjutnya" ucap Michael sambil menunjuk pohon yang berjarak lima ratus meter dengan memiliki satu lampu led.
"Bos" ucap Alex ke Sean Arthur.
"Michael, simpan laras panjang ini dan berikan saja pistol mu" ucap Sean Arthur dengan ramah dan kembali menikmati rokoknya.
Michael langsung berdiri dan mengambil ketiga senjata api Laras panjang tersebut lalu mengembalikannya ke anak buahnya.
Dia kemudian meletakkan pistol jenis colt 38 di atas meja.
"Lima ratus meter dari sini ke pohon itu jadi enam ratus meter ke lampu led itu" ucap Alex dengan ramah sambil mengambil pistol colt itu dan
Dooor
Satu kali letusan terdengar dan terlihat jika led kecil itu menghilang.
Alex langsung menyimpan kembali pistol colt 38 itu di atas meja.
"Alex kau benar benar hebat jarak enam ratus meter dengan colt 38 dalam sekali tembak lalu bagaimana dengan yang ke empat" ucap Michael dengan sangat hormat.
"Bos" ucap Alex kembali sambil melihat Sean Arthur.
"Michael jarak ke sana kurang lebih tujuh ratus meter ke pohon itu dan ke atas berarti delapan ratus meter apa kau tidak memiliki kaliber 22 agar lebih menantang" ucap Sean Arthur dengan ramah.
Michael mengambil kembali colt 38 miliknya dan mengeluarkan sebuah senjata api jenis pistol kecil berperedam yang berkaliber 22 lalu meletakkannya di atas meja.
Dor
Dengan cepat Alex menembak dan semuanya melihat jika lampu led ke empat itu juta menghilang.
"Michael lampu terkahir apa kau mau memakai Laras panjang" ucap Michael dengan sangat hormat jauh berbeda dari Michael yang sebelumnya.
"Bos jarak satu kilometer ke pohon itu dan ke atasnya kurang lebih seribu dua ratus meter" ucap Alex.
Sean Arthur kemudian meletakan pistolnya yang merupakan pistol berkaliber 45 dan menggunakan peredam juga.
Dor
Alex dengan cepat menembak dan meletakkan kembali pistol itu di atas meja.
Semuanya melihat ke arah pohon pinus terakhir dan mereka melihat jika lampu led kecil itu kini menghilang pertanda jika tembakan Alex tepat mengenai sasaran dan Sean Arthur langsung menyimpan kembali pistolnya itu ke balik baju belakangnya.
"Ayolah satu lagi, pohon ke enam itu" ucap Michael sambil menunjuk ke arah sebuah pohon yang berjarak sekitar satu setengah kilometer dan terlihat sebuah lampu di puncak pohon pinus terjauh itu.
"Bos saya menyerah jika sejauh itu apalagi di puncak pohon, anginnya terlalu kencang, jika menggunakan senapan panjang mungkin bisa" ucap Alex dengan sangat hormat sambil melihat Sean Arthur.