Sean Arthur | Bandung Mafia

Sean Arthur | Bandung Mafia
Pembersihan Kasino



“Siap Bos, maaf jika sebelumnya saya melakukan kesalahan, saya sudah berjanji ke diri saya sendiri untuk selalu menjaga anda dengan kemampuan saya” ucap Gunawan.


“Ya, Terima kasih untuk kesetiaan mu yang memang aku butuhkan itu dari mu” ucap Sean Arthur sambil memutuskan panggilan telepon itu dan menyimpan kembali ponselnya.


“Doni apakah sudah kau selesaikan semua pembayarannya?” Tanya Sean Arthur.


“Siap sudah bos namun lima belas menit lagi pesanan untuk mereka yang di rumah selesai, karena saya memborong semua sate biawak yang ada di sini dan juga saya memborong sate lainnya” ucap Doni.


“Ya semoga saja mereka habiskan semuanya, jadi saat kau pulang kau tidak kebagian” ucap Sean Arthur.


“Haissssss Bos ini, jika mereka menghabiskannya maka saya akan memerintahkan mereka menangkap banyak biawak untuk kita sate, kebetulan di rawa bawah banyak sekali biawak yang besar besar” ucap Doni.


“Dasar tukang makan, porsi makan mu itu tidak pernah berubah ya selalu saja melebihi ku dan yang lainnya” Ucap Sean Arthur.


“Bos tahu sendiri, perut ku seperti ini jadi bisa menampung lebih banyak dari siapapun” Ucap Doni sambil memperlihatkan perut buncitnya.


“Aku jadi ada ide yang bagus untuk di Villa Naga” Ucap Sean Arthur.


“Ide apa Bos?” Tanya Roni.


“Aku ingin memelihara Panda buat teman nya Doni, biar dia ada temannya yang memiliki perut seperti itu” Ucap Sean Arthur sambil kembali menghisap rokoknya dengan santai.


“Ha ha ha ha ha ha ha” Roni dan semua pengawal pribadi Sean Arthur tertawa terbahak bahak mendengar hal ini.


“Bos tega sekali menyamakan dengan Panda yang tukang tidur itu.”  ucap Doni.


“Bos kenapa tidak memelihara kerbau saja kan badan mereka juga mirip” ucap Roni yang di sambut gelak tawa oleh semuanya termasuk Sean Arthur.


“Haissss kau ini juga sama saja dengan Bos jika sudah berkumpul bersama” ucap Doni.


“Karena kita ini adalah keluarga” Ucap Sean Arthur dan semuanya mengangguk pertanda setuju.


“Iya Bos” ucap Doni.


“Ya sudah ayo kita melanjutkan perjalanan kita, sudah waktunya, nanti biar orang rumah mengambil sendiri kesini kan bisa tidak perlu kita menunggu kedatangannya” Ucap Sean Arthur sambil berdiri di ikuti oleh semuanya.


Sean Arthur langsung melangkah menuju mobil dan kembali duduk di kursi penumpang belakang dengan Roni sebagai pengemudi dan Doni duduk di kursi penumpang depan menemani Roni.


Mereka kemudian berhenti di depan sebuah bangunan besar dan terlihat ratusan mobil terparkir di dalam area parkir bangunan yang lebih menyerupai perkantoran itu namun sebenarnya merupakan sebuah kasino bawah tanah terbesar di kota subang.


“Roni Doni ingat aku tidak ingin ada kesalahan apapun jadi lakukan dengan cepat dan benar” Ucap Sean Arthur mengingatkan.


“Siap Bos” Ucap Doni dan Roni sambil turun dari dalam mobil demikian juga dengan semua pengawal pribadi Sean Arthur dan dua puluh lima orang pengawal pribadi Sean  Arthur kemudian mengikuti Doni dan Roni memasuki bangunan itu sedangkan sisanya tetap berjaga di sekitar mobil Sean Arthur.


Seratus orang anak buah Roni juga terlihat memasuki bangunan itu dan ada ratusan anak buah Roni juga yang berjaga di luar bersama dengan para pengawal pribadi Sean Arthur.


Doni dan Roni bersama dengan yang lainnya langsung melumpuhkan para penjaga gedung kasino itu lalu masuk ke dalam kasino, mereka kemudian melucuti senjata semua yang ada disana dan meminta semuanya untuk tiarap, Doni dan Roni pun masuk ke ruang brankas karena memang Sean Arthur sudah memberikan denah kasino itu sebelumnya.


Tidak membutuhkan waktu lama mereka untuk bisa menguras habis kasino itu dan anak buah Roni juga menghancurkan semua ponsel milik pengunjung dan pekerja kasino serta menguras habis harta mereka.


Sepuluh menit tepat dan kini rombongan Sean Arthur sudah kembali melanjutkan perjalanan mereka dengan tujuan ke kota purwakarta karena ada kasino kecil di sana yang menjadi tujuan Sean Arthur berikutnya sebelum kasino besar di Kota Cikampek.


“Bos apakah mereka tidak akan lapor polisi” ucap Roni sambil terus mengendalikan laju mobil di delapan puluh kilometer per jam


“Lapor, aku rasa bodoh jika mereka melaporkan perbuatan kita, bukankah itu tempat ilegal dan perbuatan mereka juga ilegal yang ada malah mereka juga masuk penjara bukan, sudah tidak perlu terlalu takut, kita jalani saja, ini untuk memancing ikan besar, sekarang kau berhenti dulu dan hubungi semua anak buah mu untuk melakukan tugas ini bersamaan tepat jam satu pagi jadi masih ada satu setengah jam untuk mereka bersiap, terus tentukan titik untuk bertemu mereka dan mengambil uang uang itu” ucap Sean Arthur dengan santai.


“Siap Bos” Ucap Roni sambil memelankan perlahan mobil dan kemudian berhenti lalu melakukan beberapa panggilan telepon ke anak buahnya di lokasi lokasi kasino itu.


“Bos, sudah semuanya, dan titik nya saya minta di daerah wanayasa saja, jadi kita bertemu dekat danau saja” Ucap Roni.


“Oke, kita ke wanayasa, dan pelan pelan saja jadi kita tidak terlalu lama menunggu mereka di sana bukan” ucap Sean Arthur sambil kembali membuka jendela mobil lalu menyalakan sebatang rokoknya.


“Siap Bos” Ucap Roni sambil kembali menjalankan mobil itu dan dia kemudian membuat kecepatan mobil itu hanya tiga puluh kilometer per jam saja.


“Bos, maaf apakah ikan besar itu akan menunjukan diri setelah semua kasino kita kuras dan kita hancurkan” ucap Doni.


“Itu sudah pasti, mereka kini hanya mengandalkan dari kasino kasino yang masih beroperasi saat ini dan mereka juga sudah menghabisi ayah angkat Rico dan Ardhi, ini berarti ikan besar ini berusaha menyelamatkan nama mereka sendiri dan mengambil semuanya sendiri, jadi saat apa yang hendak mereka ambil sudah kita ambil lebih dulu, pastinya mereka akan sangat marah dan menampakkan diri” ucap Sean Arthur.


“Bos, mereka hebatnya bisa menyusun rencana seperti ini selama bertahun tahun” ucap Roni.


“Iya itu benar mereka memang hebat namun terlalu rakus, jika saja mereka tidak memulai perang terbuka mungkin mereka masih bisa hidup nyaman saat ini, tapi jika mereka memilih perang terbuka ya kita ladeni saja, kenapa harus mundur bukan.” ucap Sean Arthur.


“Iya bos, pantang untuk kami mundur, maju terus atau cukup diam seperti macan yang akan menyerang saat melihat kesempatan, hanya itu yang kami ketahui” ucap Doni sambil melihat ke arah Sean Arthur yang sedang kembali menyalakan sebatang rokoknya.