Sean Arthur | Bandung Mafia

Sean Arthur | Bandung Mafia
Masih ada Pengkhianat



Tepat pukul 21.00 wib Sean Arthur keluar dari kamarnya dan langsung menuju teras rumahnya dengan disambut oleh Rico yang sedang bersama dengan Ardhi.


"Malam Bos" ucap Rico dan Ardhi kompak.


"Rico siapkan mobil golf sebentar lagi kita ke tempat Gunawan, Ardhi apa berkas rumah sudah kau ambil di meja kerjaku?" Ucap Sean Arthur sambil duduk di kursi ruang tamu.


"Siap Bos, sudah di depan Bos mobil golfnya" ucap Rico sambil mematikan rokoknya dan menyalakan sebatang lagi rokoknya.


"Beres Bos, berkas kepemilikan rumah dan juga berkas keinginan orang orang juga sudah saya simpan di mobil bos dan uang tunai yang anda minta sudah saya simpan di atas meja kerja anda" ucap Ardhi dengan sangat hormat sambil kemudian menyalakan sebatang rokoknya.


"Rico, dana operasional apakah masih ada?" Ucap Sean Arthur dengan ramah sambil melihat ke Rico.


"Masih banyak Bos ada kurang lebih delapan miliar disana jadi untuk beberapa bulan keperluan anda masih tercukupi" jawab Rico.


"Lalu kenapa kau menghisap rokokku" ucap Sean Arthur dengan santai yang bermaksud untuk mencandai Rico.


"Bos, aku samakan saja rokok kita biar kalau beli satu brand saja, sekarang se rumah ini rokoknya nya sama merk nya" ucap Rico sambil tersenyum lebar.


"Oooh aku kira karena rokokmu habis jadi kau mengambil punyaku" ucap Sean Arthur sambil tertawa ringan.


Rico hanya menggaruk kepalanya saja yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.


"Ardhi bagaimana Intan, ingat pacaran jangan lama lama" ucap Sean Arthur.


"Intan sehat bos, mulai besok juga sudah mulai kuliah malam dan saya sudah menyiapkan sopir untuknya nanti saya akan ajarkan dia mengemudi jadi dia bisa menyetir mobil sendiri tanpa sopir lagi" ucap Ardhi dengan hormat sambil tersenyum hangat ke mereka berdua.


"Ya, ingat pesanku aku berhutang nyawa kepada ayahnya jadi jangan sampai kau mengecewakannya karena jika kau sampai mengecewakannya sama saja kau mengecewakan aku" ucap Sean Arthur dengan sangat tegas.


"Siap Bos, beres itu, saya akan selalu membahagiakan Intan" ucap Ardhi dengan sangat hormat dan tampak sangat serius.


"Lalu bagaimana dengan pembukaan kafe dan restoran baru kita" ucap Sean Arthur lagi.


"Bangunan diskotik memerlukan waktu cukup lama untuk renovasi jadi saya tadi membeli beberapa bangunan baru di beberapa tempat di kota Bandung ini total ada lima puluh tempat baru yang saya beli, dan semuanya sedang di persiapkan untuk menjadi restoran dan kafe, selain itu saya juga berencana membangun sentra restoran jadi dalam satu kawasan nanti semuanya restoran kita akan ada di sana, ini tentunya belum ada dimana semua jenis masakan dari semua negara ada di sana" ucap Ardhi menjelaskan dengan sopan dan hormat meskipun tidak putus dengan hisapan rokoknya.


"Aku lebih suka jadi pemilik banyak kafe dan restoran dari pada jadi pemilik tempat hiburan" ucap Sean Arthur.


"Oh ya Bos, mengenai orang orang yang menuliskan keinginannya saya tetap akan melakukan interview kepada mereka untuk melihat bakat mereka, jika kurang berbakat maka saya akan melakukan pelatihan dulu untuk mereka dengan standarisasi restoran kita yang rata rata sudah bintang lima" ucap Ardhi lagi.


"Lakukan saya apa yang menurut mu baik, aku akan ke tempat Gunawan apa kau mau ikut atau kau mau pulang" ucap Sean Arthur sambil berdiri dengan membawa ponsel dan tidak lupa sebungkus rokoknya diikuti oleh keduanya yanh ikut berdiri.


"Oke, sampaikan salam ku kepada Intan" ucap Sean Arthur sambil berjalan ke teras dan langsung menaiki mobil golf dengan Rico sebagai pengemudinya.


Mereka langsung menuju tempat Gunawan yang meskipun masih satu kawasan namun jarak ke sana lebih dari lima ratus meter sehingga dengan mobil golf mereka lebih nyaman.


"Bos, kenapa tidak membuat jalan lurus saja dari pada mengikuti tembok seperti ini" ucap Rico sambil mengemudikan mobil golf itu.


"Kenapa kau tidak bilang ke Alex bukankah sekarang ini dia yang menjadi kontraktornya" ucap Sean Arthur.


"Tadi saya sudah bilang katanya belum ada instruksi dari Bos" ucap Rico.


"Ya kau bilang saja ke dia itu perintah ku, selesaikanlah urusan seperti sendiri, tapi soal kafe di dalam sini ingat aku belum acc" ucap Sean Arthur yang tahu arah pembicaraan selanjutnya dari Rico.


"Ayolah Bos mumpung ada Gunawan jadi dia bisa mengelolanya dengan baik" ucap Rico sedikit memohon ke Sean Arthur.


"Ya sudah tapi ingat jangan berhutang di kafe jika aku sudah membangunnya" ucap Sean Arthur mencandai Rico.


"Tidak Bos paling saya masukan ke tagihan bos saja" ucap Rico sambil tertawa ringan.


"Benar benar tidak benar kau" ucap Sean Arthur sambil menyalakan sebatang rokoknya dan melihat sekeliling rumahnya yang masih berantakan karena banyaknya pembangunan disana.


"Ternyata banyak sekali pembangunan yang di lakukan disini, semoga saja segera selesai karena aku kurang nyaman dengan kondisi berdebu seperti ini apalagi disini sekarang banyak anak kecil" ucap Sean Arthur sambil melihat sekelilingnya dan mereka sudah hampir sampai di villa tempat Gunawan.


"Iya Bos, tapi sekarang area rumah Bos jadi semakin hidup dengan adanya anak anak kecil" ucap Rico sambil menghentikan mobil golf persis di depan teras.


Sean Arthur langsung turun dan masuk meninggalkan Rico yang masih di atas mobil golf itu, sehingga Rico langsung turun dan menyusul Sean Arthur.


"Gunawan apa ada hasil dari sepuluh ponsel yang tadi" ucap Sean Arthur sambil memasuki ruang kerja Gunawan dan duduk di sofa.


"Bos ternyata mereka orang bayaran Anton yang sengaja disusupkan dengan tujuan memecah anak buah Alex dan Rico" ucap Gunawan sambil memberikan beberapa transkrip percakapan hasil pemeriksaan terhadap sepuluh ponsel yang amankan dari Villa Ciwidey.


Sean Arthur langsung memeriksa transkrip percakapan ponsel tersebut dan dia menghela nafas panjang lalu menyerahkannya ke Rico yang sudah duduk di depannya.


"Mudah sekali ya anak buahmu disusupi seperti ini, lagi lagi anak buahmu yang lebih banyak berkhianat kepadaku, aku tidak mau tahu bagaimana caranya segera kau bersihkan anak anak buahmu" ucap Sean Arthur dengan sangat tegas karena dia merasa jika pengawasan Rico kurang terhadap anak buahnya padahal semuanya mendapatkan fasilitas yang sama.


"Siap Bos, saya akan memastikan tidak ada lagi anak buah saya yang berkhianat kepada Bos jika sampai ada maka saya sendiri yang akan menghabisi mereka" Jawab Rico sambil meremas transkrip percakapan ponsel tersebut karena dia benar benar kecewa dengan anak buahnya yang ternyata ada beberapa yang masih berkhianat kepadanya.