
"Aman Bos" jawab Rico sambil terus mengendalikan kecepatan mobil.
"Alex datang ke villa ku yang ada di Ciwidey, aku dalam perjalanan ke sana" tulis Sean Arthur melalui ponselnya dan langsung dikirimkan ke anak buahnya itu.
"Rico kau sudah ikut ayah angkat berapa lama" ucap Sean Arthur sambil menyimpan ponselnya meskipun ada pesan masuk pada saat bersamaan tapi dia tidak membacanya karena dia tahu siapa pengirimnya.
Bos, sebelum anda di jadikan anak oleh bos besar saya sudah ikut bos besar, namun sampai saat ini saya masih merasa bersalah karena tidak ada di saat bos besar meninggal dunia" ucap Rico yang terdengar sedikit bersedih.
"Ayah angkat menderita leukimia namun dia tidak memberitahu siapapun dan aku yang sangat merasa bersalah karena menjadikan teman temanku di panti asuhan sebagai saudara angkat bahkan sampai memberikan mereka sedikit harta peninggalan ayah angkat, apakah kau tahu siapa saja anak buah ayah angkat di kota kota lain" ucap Sean Arthur sambil menutup matanya dan bersandar santai di kursinya.
"Bos besar pernah mengumpulkan semuanya bawahannya dan saya mengenal mereka semua yang ada di grup naga baik yang ada di kota Bandung maupun kota kota lainnya, Bos besar dulu mulai berbisnis sejak mengangkat anda menjadi anak angkatnya karena dia tidak ingin anda mengetahui jika bos besar adalah bos mafia terbesar di asia ini, namun ternyata anda sangat pintar dan mengetahui kebenarannya sendiri" ucap Rico sambil terus mengendalikan kecepatan mobil jip itu.
"Ayah angkat pernah menyampaikan padaku sebelum dia meninggal dunia jika aku harus merubah semua bawahannya untuk menjadi pengusaha sukses bukan lagi menjadi mafia seperti sekarang namun aku tidak bisa semudah itu melakukannya ku harap kau mengerti maksud ku" ucap Sean Arthur lagi yang masih menutup matanya.
"Bos, kami nyaman seperti ini, dulu bos besar ingin mendirikan sebuah perusahaan untuk kami namun kami tolak karena bukan bidang kami, kami semua berhutang nyawa kepada Bos besar dan melayani anda adalah cara membalas semua kebaikan bos besar" jawab Rico yang terdengar sangat tulus.
"Terima kasih atas kesetiaan kalian semua kepada ku dan almarhum ayah angkat" ucap Sean Arthur sambil membuka matanya dan melihat jika mobilnya sudah keluar dari dalam jalan tol dan dia melihat ada lima belas jip berwarna putih yang merupakan miliknya terparkir di pinggir jalan.
"Iya bos, lihatlah mereka yang akan menahan mereka semua juga mengalihkan mereka" ucap Rico sambil terus melajukan mobil dengan pelan melewati lima belas mobil jip berwarna putih itu.
Lima belas mobil jip berwarna putih itu langsung mengikuti rombongan mobil Sean Arthur namun mereka sedikit menjaga jarak dan membagi per tiga mobil yang akan mengalihkan rombongan yang mengejar mereka.
Rombongan Sean Arthur terus melaju dengan kecepatan rendah karena memang jalanan masih sangat ramai.
Tiga jam berlalu dan kini ketiga mobil jip berwarna putih itu sudah memasuki sebuah jalan berbatu yang di kiri dan kanannya terlihat perkebunan teh yang sangat luas.
Beberapa drone terlihat terbang di atas mobil mereka dan terlihat mengawasi sekitarnya.
Ponsel Rico berbunyi pertanda ada pesan singkat masuk ke ponsel nya dan langsung di lihat oleh Rico.
"Bos ada sepuluh mobil mengikuti kita dan jauh di belakang ada lima puluh mobil lagi" ucap Rico sambil menyimpan ponselnya kembali.
"Biarkan saja mereka, kita sambut saja mereka di villa jangan sampai ada penduduk sekitar sini yang melihat jika kita menghabisi mereka" ucap Sean Arthur dengan tenang.
"Baik Bos" ucap Rico sambil mengambil ponselnya kembali dan langsung menghubungi bawahannya.
Dua orang pria yang berpakaian layaknya petani langsung membuka portal jalan saat melihat mobil yang kendarai Rico berbelok ke sebelah kanan itu dan langsung di tutup kembali sehingga kedua mobil anak buahnya dan semua penguntit akan berbelok kiri.
Rico kemudian mengambil radio komunikasi.
"Habisi mereka di villa bawah dan jangan sampai ada bukti yang mengarah kepada kita" ucap Rico melalui radio komunikasi itu.
"Baik Bos, maaf kami akan mengaktifkan pengacak sinyal jadi sementara bos dan bos besar tidak akan bisa menggunakan ponsel" jawab lawan bicara Rico melalui radio komunikasi dan Sean Arthur melihat jika sinyal ponselnya sudah hilang.
Drone drone yang terbang di atas mereka juga tidak ada lagi.
"Rico, sejak kapan kau memasang pengacak sinyal di sini" ucap Sean Arthur dengan ramah sambil menyimpan ponselnya karena tidak bisa lagi memiliki sinyal.
"Dua Minggu yang lalu bos, sekalian saya membangun helipad di villa atas agar bos bisa gunakan helikopter jika hendak ke villa Dago" ucap Rico sambil terus mengendalikan mobil karena jalanan disana merupakan jalanan berbatu yang sengaja dibuat hanya bisa di lalui oleh kendaraan jip saja atau motor cross.
Mobil jip berwarna putih itu memasuki sebuah villa yang sangat besar di puncak gunung itu dan langsung berhenti di depan pintu Villa.
"Bos kita sudah sampai dan dan Alex juga sudah datang sepertinya" ucap Rico yang melihat sebuah motor trail terparkir di depan mobil mereka.
"Ayo kita temui dia" ucap Sean Arthur sambil membuka pintu mobil dan turun mobilnya.
Mereka berdua masuk ke dalam villa itu dan disambut oleh seorang pria paruh baya seumuran Rico.
"Alex bagaimana situasinya" ucap Sean Arthur dengan ramah sambil duduk di sofa yang ada disana.
"Bos, total ada dua ratus mobil yang saat ini menuju villa bawah namun bos jangan khawatir karena mereka hanya bisa datang dan tidak akan bisa pulang" ucap Alex sambil menyalakan televisi besar yang ada di depan mereka dan terlihat ratusan cctv yang terpantau dari sana.
Alex pun langsung duduk di dekat Sean Arthur berbarengan dengan Rico yang duduk di sebelahnya.
"Baguslah dan bagaimana dengan mobil mobil yang kalian alihkan apa mereka ke arah sini juga" ucap Sean Arthur kembali sambil terus melihat layar televisi itu yang memperlihatkan ratusan cctv di sekitar gunung itu.
"Tidak bos, mereka masih mengikuti anak buah saya berputar putar di kota Bandung" ucap Alex dengan ramah.
"Aku tidak menyangka jika delapan serigala itu memiliki banyak sekali anak buah seperti ini, sungguh mereka pintar menyembunyikannya selama ini, Alex apa kau sudah tahu dimana markas mereka" ucap Sean Arthur sambil bersandar di sofa nya dengan santai.