
Sean Arthur langsung menghubungi Rico melalui ponselnya tersebut.
"Bos saya kira anda sudah beristirahat" ucap Rico yang baru saja turun dari mobilnya.
"Aku sedang sarapan bersama Alex kau kemarilah isi dulu perutmu baru tidur" ucap Sean Arthur melalui ponselnya itu.
"Siap Bos saya di parkiran rumah saya dan akan segera kesana" ucap Rico sambil menyimpan kembali ponselnya karena sudah dimatikan oleh Sean Arthur.
Rico langsung mengunci mobilnya dan berjalan dengan cepat ke rumah Sean Arthur lalu memasuki ruang makan.
"Rico sarapan saja dulu aku akan menunggu mu di ruang tamu" ucap Sean Arthur saat melihat kedatangan Rico sambil berdiri dan meninggalkan ruang makan diikuti oleh Alex karena keduanya sudah selesai dengan sarapan mereka.
"Baik Bos, nanti saya akan ke depan" ucap Rico sambil duduk di kursi terdekatnya dan langsung menikmati hidangan enak yang ada di meja makan tersebut.
"Alex apa pendapat mu tentang kejadian semalam" ucap Sean Arthur sambil menyalakan sebatang rokoknya dan bersandar di sofa ruang tamunya.
"Bos, jika menurut saya ini memperlihatkan jika geng serigala sudah kehabisan ide dan sudah sangat panik jadi membuat kekacauan seperti ini" ucap Alex dengan hormat sambil menyalakan sebatang rokoknya juga.
"Kau benar jadi mulai hari ini aku minta satu tim terdiri dari empat orang untuk mengawasi semua aset ku, gunakan satu mobil dan satu motor saja jadi masing masing bisa saling backup jika ada permasalahan, dan tugas mereka bukan menghentikan serangan melainkan menjadi pengawas dan mengikuti si penyerang agar tidak kehilangan seperti semalam dan pastikan mereka selalu menghubungi mu jika ada permasalahan apapun juga" ucap Sean Arthur dengan santai.
"Baik Bos, saya pamit dulu untuk mengatur hal ini karena semua aset yang anda miliki jumlah nya sangat banyak" ucap Alex dengan sangat hormat sambil berdiri.
"Pergilah dan atur dengan baik serta jangan lupakan masalah kesetiaan mereka juga termasuk point yang paling penting" ucap Sean Arthur dengan santai sambil memandang ke Alex.
"Siap Bos" ucap Alex sambil kemudian meninggalkan rumah Sean Arthur melupakan rasa kantuk yang sebelumnya datang karena memang mereka belum beristirahat sama sekali dari semalam.
Sean Arthur kemudian mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Ardhi.
"Pagi Bos, ada yang bisa saya bantu untuk anda" ucap Ardhi saat panggilan telepon itu tersambung.
"Satu tempat spa yang terdaftar milik Rico di serang apa kau sudah tahu hal ini" ucap Sean Arthur melalui ponselnya itu.
"Sudah Bos, saya sudah mengetahui hal ini dari media dan beberapa orang anak buah saya juga sudah mengabari saya tadi, apa ada yang bisa saya bantu untuk masalah ini Bos" ucap Ardhi kembali melalui ponselnya.
"Yang harus kau kerjakan adalah memastikan aset asetku aman ke depannya dan bagaimana dengan pembangunan kafe dan restoran jika bisa kau percepat saja dan jadikan itu atas nama mu saja ya" ucap Sean Arthur melalui ponselnya kembali.
"Bos sebaiknya jangan nama saya, tahun ini sudah seribu usaha pakai nama saya bagaimana jika gunakan nama Alex atau Rico saja, kan masih sedikit yang menggunakan nama mereka ini untuk menghindari pertanyaan banyak pihak Bos" ucap Ardhi melalui ponselnya.
"Apa tidak terbalik Bos, kan yang tukang makan itu Rico sedangkan Alex paling banter minum kopi saja" ucap Ardhi yang terdengar sambil tertawa ringan.
"Karena itu makanya seperti itu jika tidak bukannya untuk malah buntung semua restoran dimasuki oleh dia dan berdalih test makanan" ucap Sean Arthur sambil tertawa ringan juga.
"Oke siap Bos jika demikian, oh iya Bos itu tempat spa kenapa nga di tutup saja dulu dan pekerjaannya kita pindahkan ke tempat usaha lain terlebih dulu" ucap Ardhi lagi
"Ide yang bagus, itu juga keinginan ku, tutup saja semuanya, jadi seolah olah memang kita takut dengan mereka tapi jangan juga kau buat tempat spa lagi" ucap Sean Arthur.
"Siap Bos, tidaklah saya juga sudah tidak mau saya lebih memilih mereka jadi pekerja butik pakaian saja, nanti saya akan siapkan semuanya dam akan saya suruh semua manager tempat spa menutup dulu usaha mereka" ucap Ardhi melalui ponselnya.
"Oke lanjutkanlah tugasmu dengan baik ingat kerjaan mu menumpuk jadi kurangi pacaran mu" ucap Sean Arthur sambil mematikan panggilan telepon tersebut sebelum Ardhi sempat menjawabnya.
"Rico kau sudah selesai dengan sarapan mu"ucap Sean Arthur yang melihat jika Rico sudah datang dan terlihat kekenyangan.
"Sudah habis tak tersisa bos, semua makanan yang ada di atas meja makan sudah masuk perut saya" ucap Rico sambil duduk di depan Sean Arthur dan langsung menyalakan sebatang rokoknya.
"Rico pemakaman jam berapa?" Ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Rencananya di TPU jambudipa Cisarua bos jam 16.00 wib" jawab Rico dengan sopan namun santai.
"Masih cukup waktu untuk mu beristirahat jika demikian nanti aku akan ikut kesana, biar bagaimana juga dia karyawan ku, sekarang kau pulang dan tidur jam 14.30 wib kesini kita pakai Bentley saja" ucap Sean Arthur sambil mematikan rokoknya yang belum habis.
"Baik Bos, saya pamit dulu untuk tiduran sebentar" ucap Rico sambil berdiri dan melangkah keluar dari rumah Sean Arthur lalu menuju ke rumahnya.
Sean Arthur juga sama dia langsung berdiri dan melangkah menuju kamarnya.
Tepat jam 14.30 wib Sean Arthur keluar dari dalam kamarnya dengan menggunakan pakaian serba hitam dan langsung menuju ke teras rumahnya lalu masuk ke dalam mobil Bentley miliknya yang sudah disiapkan oleh Rico.
Satu mobil Bentley dan satu SUV Mazda dan sayy SUV Toyota keluar dari area villa itu dengan cepat, Rico sengaja membedakan mobil anak buahnya agar tidak mencolok perhatian orang lain.
"Rico, apakah dana santunan sudah kau berikan untuk semua korban luka dan keluarga korban yang meninggal dunia" ucap Sean Arthur sambil bersandar santai di kursi penumpang belakang Bentley yang sangat nyaman itu.
"Sudah Bos, dan saya mengambil satu kebijaksanaan untuk menyekolahkan adik dari korban yang meninggal dunia kebetulan saat ini masih Sekolah dasar dan selama ini biaya sekolah ditanggung oleh kakaknya namun kini kakaknya sudah wafat" ucap Rico menjelaskan dengan sopan.
"Itu tidak masalah, lalu apa yang sedang kau pikirkan apa masih soal kafe di rumah lagi" ucap Sean Arthur yang melihat jika Rico ingin mengatakan sesuatu kepadanya namun mencari waktu yang tepat.