
"Baiklah jika demikian, saya juga belum pernah naik mobil mewah seperti punya anda, biarlah ini menjadi pengalaman saya selama saya jadi anggota kepolisian" ucap Pak Freddy dengan ramah sambil mengeluarkan satu buah kunci motor listrik.
"Sini pak Kuncinya biar saya saja yang bawa motor Bapak" ucap salah seorang pengawal pribadi Sean Arthur dengan ramah menawarkan diri.
"Motor saya yang itu, meski motor tua namun masih bisa di gunakan" ucap Pak Freddy sambil menunjuk sebuah motor listrik yang memang sudah berusia di atas sepuluh tahun yang terparkir sedikit terpisah di depan kantin itu dan ada sebuah helm di motor listrik tersebut.
"Baik Pak, saya akan menjaganya dengan baik sampai di rumah sakit nanti" ucap pengawal pribadi Sean Arthur itu dengan ramah.
Mereka kemudian berjalan ke mobil Sean Arthur dan Pak Freddy duduk di kursi penumpang belakang sebelah kanan karena Sean Arthur duduk di kursi penumpang sebelah kiri dan pengawal pribadi yang tadi di periksa pihak kepolisian kini menjadi pengemudi karena Rico duduk di kursi penumpang depan dan ini semua keinginan Sean Arthur.
Mobil Bentley itu langsung keluar dari dalam parkiran kantor polisi tersebut di ikuti oleh mobil pengawal pribadi Sean Arthur.
"Pak Freddy tinggal dimana pak" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Saya di Sukajadi pak, jika bapak nonton berita waktu itu ada penangkapan mafia jip hitam disana yang memiliki banyak senjata api" ucap Pak Freddy dengan ramah.
"Iya pak saya tahu daerah sana, itukan perumahan mewah pak" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Bukan di situ nya pak Sean rumah saya, namun di belakang perumahan itu pak di kampung nya" ucap Pak Freddy dengan sangat sopan.
"Kampung belakang perumahan itu bukannya tidak masuk mobil dan sangat padat Pak" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Benar pak, saya bisanya membeli rumah di situ, dan sudah tiga puluh tahun saya tinggal di sana itu saja saya membelinya dengan mencicil Pak Sean namun Alhamdulillah sudah lunas lima tahun lalu" ucap Pak Freddy dengan ramah.
"Jika pak Dani tinggal dimana pak" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Dia tetangga saya Pak Sean, dan kebetulan dia mengambil rumahnya juga karena saya namun belum lunas dia masih enam tahun lagi" ucap Pak Freddy dengan sangat sopan.
"Pak, waktu itu jika bukan karena anda datang tepat waktu mungkin saat ini saya tidak di sini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada bapak" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Pak Sean itu memang tugas saya sebagai petugas kepolisian jadi jangan sungkan" ucap Pak Freddy dengan ramah.
"Jadi begini Pak, saya ada rumah di dekat bapak, dan rumah itu kosong hanya di isi oleh beberapa orang anak buah saya untuk menjaganya, dari pada saya tidak mengisinya maka saya akan berikan saja kepada bapak, saya pinjam kartu identitas bapak saja untuk mengurus surat surat kepemilikan nya agar menjadi atas nama bapak" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Pak Freddy maaf, namun jangan menolak keinginan tulus Bos saya, Bos sangat tulus ingin memberi anda hadiah itu" ucap Rico ikut berbicara.
"Pak Sean, saya tidak bisa menerimanya, saya menolong anda karena memang kewajiban saya" ucap Pak Freddy dengan ramah.
"Pak Freddy, apakah bapak memiliki istri dan anak" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Benar Pak, namun bukankah lebih baik jika rumahnya lebih besar dan lebih nyaman untuk di tempati oleh anak dan istri bapak, untuk rumah lama bukankah bisa bapak sewakan, jadi bisa untuk menambah biaya hidup bapak di masa pensiun nanti, saya tidak meminta apapun dari bapak saya hanya meminjam kartu identitas bapak saja, dan nanti setelah dari rumah sakit kita lihat rumahnya" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Pak Sean saya harus membicarakan hal ini dengan istri saya terlebih dahulu" ucap Pak Freddy dengan ramah.
"Nanti anda suruh saja anak anda mengantar istri anda ke rumah baru ya pak, kita sudah sampai pak mari kita tengok Istri Pak Dani, Rico kamu ikut kami" ucap Sean Arthur dengan ramah sambil membuka pintu mobilnya karena mobil sudah berhenti di depan lobi rumah sakit tujuan mereka.
Rico langsung turun dan membukakan pintu Sean Arthur lebih lebar dan pengawal pribadi Sean Arthur juga turun membukakan pintu Pak Freddy.
Mereka langsung naik ke lantai tiga rumah sakit itu dan menemui pak Dani rekan kerja Pak Freddy yang malam itu juga menolong Sean Arthur.
"Dani, ini Pak Sean yang waktu itu kita bantu di jalan Soekarno Hatta" ucap Pak Freddy ke Pak Dani.
"Oh iya Pak Sean lama tidak berjumpa dengan anda" ucap Pak Dani dengan sangat sopan.
"Pak Dani bagaimana dengan istri anda" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Istri saya sudah membaik Pak, dan besok pagi mau tidak mau harus operasi Caesar tadinya mau hari ini namun dokter menyarankan besok pagi saja untuk operasinya" ucap Pak Dani dengan sangat sopan.
"Anda rawat saja dulu istri anda, saya tidak lama disini dan mengenai biaya rumah sakit anda jangan khawatir karena anak buah saya sudah menyelesaikannya" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Pak Sean maaf jika saya merepotkan anda, saya akan menggantikannya segera, memang saya belum membayar biaya rumah sakit ini dan masih menunggu anak pertama saya datang untuk bergantian menjaga istri saya di dalam" ucap Pak Dani dengan sangat sopan dan memang mereka berbincang di depan kamar dan Rico memang ke kasir untuk menyelesaikan semua pembiayaan rumah sakit itu bahkan Sean Arthur meminta kamar terbaik dan pelayanan medis terbaik untuk istri Pak Dani.
"Anda jangan khawatir jika boleh saya meminjam kartu identitas anda saja Pak" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Pak Sean ini, dan saya janji saya akan segera mengembalikan uang anda" ucap Pak Dani yang berpikir bahwa Sean Arthur meminta jaminan dengan kartu identitasnya.
"Iya pak, nanti saya akan mengabari bapak, baiklah anak buah saya sudah kembali jadi kami pamit, mari pak Freddy" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Dani, semoga semuanya lancar ya, aku pergi dulu karena Pak Sean mau mengantarkan ku pulang" ucap Pak Freddy berpamitan dengan pak Dani dan mereka bertiga langsung kembali ke mobil Bentley lalu menuju ke rumah Sean Arthur yang ada di Sukajadi.
"Ardhi segera ke rumah Sukajadi aku tunggu tidak pakai alasan" ucap Sean Arthur menghubungi Ardhi melalui ponselnya.
"Kebenaran sekali Bos saya sudah disini sedang masang plang dijual" ucap Ardhi melalui ponselnya.
"Bagus sekarang copot lagi dan buang saja, tunggu aku datang dan sambil menunggu belikan aku rokok, ini aku punya anak buah satu kelupaan lagi menyiapkan rokokku" ucap Sean Arthur sambil kemudian mematikan panggilan telepon itu sebelum Ardhi menjawabnya.