Sean Arthur | Bandung Mafia

Sean Arthur | Bandung Mafia
Mengintrogasi Pengkhianat 1



"Gunawan, apa semua pembicaraan ini terekam" ucap Sean Arthur dengan ramah.


"Bos jangan khawatir dengan hal ini, semua rekaman video dan suara terekam, saya sudah menyimpannya di cloud saya, nanti saya kirimkan linknya jadi bos bisa ambil kapan pun bos perlukan untuk yang saat ini nanti saya kirimkan langsung saja." Ucap Gunawan sambil tetap memainkan mouse dan keyboard laptopnya.


"Anak buahku sudah mengetahui perkara ini tadi, dan aku minta kau untuk fokus dengan percakapan dan rekaman ponsel mereka ini saja, aku memerlukan bukti bukti kejahatan mereka namun ingat ini bukan permainan dan ini sangat rahasia, jangan sampai mereka melacak mu kesini" ucap Sean Arthur dengan sangat serius.


"Baik Bos, saya akan sangat hati hati dan jika demikian saya akan mengerahkan anak buah saya saja untuk memantau pergerakan mereka semua, saya akan kabari ke bos jika ada hal yang penting untuk bos ketahui nantinya" ucap Gunawan dengan hormat dan tangannya tetap memainkan mouse dan keyboard laptopnya.


"Baiklah aku akan pergi dulu, dan kirimkan nomor rekening mu jadi aku bisa transferkan biaya operasional mu" ucap Sean Arthur sambil kembali melihat layar monitor.


"Bos maaf jangan ada transaksi perbankan ke saya, karena saya tidak ingin ada yang melacaknya sebaiknya bos juga untuk sementara menggunakan uang cash saja" ucap Gunawan dengan sangat hormat.


"Baiklah, nanti aku akan minta bawahanku menghubungi mu untuk mengantarkan uang cash sebagai biaya operasional mu" ucap Sean Arthur dengan ramah.


"Baik Bos, sebenarnya saya sedang mengunci sinyal handphone mereka dahulu akan link yang saya berikan ke bos selalu bisa bos akses" ucap Gunawan dengan hormat.


Sepuluh menit berlalu dan kini terlihat jika Sean Arthur sedang keluar dari ruang kerja Gunawan diantar oleh Gunawan sampai parkiran kafe.


Sean Arthur kembali memacu motor Ducati Monster nya dan kembali ke kediamannya karena hari sudah larut malam.


Tidak ada gangguan apapun yang terjadi selama perjalanan pulang itu dan Sean Arthur setibanya di rumah nya langsung memilih beristirahat karena hari pertama dia keluar dari rumah sakit ini adalah hari yang cukup melelahkan untuknya.


Matahari pagi bersinar terang menyinari kota Bandung dan nampak jika Sean Arthur saat ini sedang berenang di kolam renangnya sampai pada saat Rico mendatangi nya.


"Apa ada sesuatu sampai kau datang kesini" ucap Sean Arthur sambil berjalan keluar dari dalam kolam renang dan mengambil handuk yang diberikan oleh Rico.


"Bos maaf mengganggu anda, ternyata ada lima puluh orang yang berkhianat kepada saya dan mereka sudah saya tangkap semuanya" ucap Rico dengan sangat hormat.


"Lalu dimana mereka saat ini?" Ucap Sean Arthur sambil tetap mengeringkan tubuhnya.


"Saya membawa mereka ke ruangan bawah tanah karena saya pikir bos akan berolahraga dengan mereka" ucap Rici dengan sangat hormat ke Sean Arthur.


"Rico, kau kesana saja lebih dulu, nanti aku akan menyusul mu setelah aku membersihkan diri, dan siapkan mobil untuk membawa mereka semua ke villa Ciwidey, biar anak buah Alex saja yang menghabisi mereka" ucap Sean Arthur sambil kemudian melangkah memasuki rumahnya.


"Baik Bos" ucap Rico dengan sangat hormat sambil melihat Sean Arthur yang meninggalkannya sendirian di kolam renang itu.


"Baik Bos, saya akan menyiapkan mobilnya terlebih dahulu jika demikian" ucap Rico dengan sangat hormat.


Sean Arthur langsung menuju kamar mandi yang ada di kamarnya dan dia langsung membersihkan dirinya lalu menggunakan pakaian yang serba hitam baik celana jeannya maupun kaos polo nya, dan dia memang senang berpakaian seperti ini karena lebih santai.


Sean Arthur keluar dari dalam kamarnya dan langsung menuju ruang kerjanya lalu duduk di kursi kerjanya, sambil melihat Rico membawa satu orang yang sedang terikat tangannya lalu menyuruh orang itu duduk di lantai di depan meja kerja Sean Arthur dan Rico langsung duduk di sebelah orang itu.


"Berapa geng serigala membayarmu" ucap Sean Arthur dengan sangat santai.


"Maafkan saya Bos besar, mereka membayar daya dua puluh juta rupiah untuk menjadi mata mata mereka" ucap orang itu dengan nada suara yang seperti orang yang lagi ketakutan.


"Dengan dua puluh juta rupiah kau mengkhianati ku, lalu sudah berapa informasi yang kau berikan kepada mereka" ucap Sean Arthur kembali.


"Bos, saya hanya menerima uang mereka dan pesan terakhir yang saya kirimkan kepada mereka itu tiga bulan lalu saat bos hendak ke Australia untuk berlibur" ucap orang itu dengan sangat hormat dan terus menundukkan kepalanya.


"Apa kau tahu hukuman apa yang akan ku berikan untuk yang berkhianat kepadaku" ucap Sean Arthur sambil bersandar di kursinya.


"Saya tahu bos, saya benar benar khilaf dan maafkan saya atas kesalahan fatal saya, mohon anda mengampuni nyawa anak dan istri saya" ucap orang itu dengan sangat hormat namun tetap menundukkan kepalanya tidak berani melihat Sean Arthur sama sekali.


Sean Arthur tidak menjawabnya melainkan hanya menggerakkan tangannya meminta Rico membawa orang itu dan menghadirkan lainnya.


Rico langsung berdiri dan menyeret bekas anak buahnya itu untuk keluar dari ruang kerja Sean Arthur dan tidak lama dia masuk kembali dengan membawa seorang pria botak berumur empat puluh tahunan.


Pria botak itu juga sama di suruh duduk dilantai oleh Rico.


"Kau salah satu pengikut Rico yang sudah cukup lama, namun aku ingin tahu apa alasanmu sampai berani mengkhianati ku" ucap Sean Arthur dengan santai dan tetap bersandar di kursinya.


"Bos, empat bulan yang lalu saya kalah judi di kasino bawah tanah dan di sana juga saya bertemu dengan Bos Tomi dan dia memberikan saya seratus juta dengan syarat saya mau melaporkan kepadanya jika ada pergerakan di rumah ini" ucap pria botak itu dengan sangat hormat sambil menundukkan kepalanya.


"Apa semua anak buahmu juga terlibat" ucap Sean Arthur sambil mengambil ponselnya yang berbunyi pertanda ada pesan masuk namun tidak langsung dibaca olehnya.


"Benar bos, dua ratus anak buah saya juga terlibat karena saya mendapatkan extra sepuluh juta dari Bos Tomi jika saya berhasil mengajak anak buah bos Rico lainnya" ucap pria botak itu dengan sangat hormat dan terlihat wajah penuh amarah dari wajah Rico namun Rico tetap diam tidak melakukan apapun karena ada Sean Arthur di depannya itu.