
Memerlukan waktu hampir dua jam untuk Sean Arthur menuju kantornya karena jalanan kota Bandung yang siang itu sangat padat dan saat ini sudah berada di ruangannya sendirian karena Rico memilih untuk bersantai di kafe yang ada di lantai lobby bersama dengan anak anak buahnya.
Sean Arthur memeriksa semua pembukuan keuangan yang selama ini di lakukan oleh Ardhi, sampai seorang wanita muda berusia dua puluh dua tahun memasuki ruangan itu dan menemui Sean Arthur.
"Sore Bos Besar maaf tiga puluh menit lagi akan ada rapat direksi apakah Bos yang menghadiri atau akan diwakilkan saja" ucap wanita muda itu yang merupakan sekretaris Ardhi dengan sangat hormat.
"Aku tidak memiliki bahannya jadi kau saja yang ikut, perkara apa yang akan di bahas" ucap Sean Arthur dengan ramah.
"Jadi begini Bos, mengingat sudah tiga anak perusahaan kita yang dinyatakan bangkrut maka pihak direksi akan membuat perusahaan perusahaan baru untuk menampung para karyawan yang saat ini di rumahkan" ucap wanita muda itu dengan hormat sambil memberikan beberapa lembar kertas dalam sebuah map.
Sean Arthur kemudian membaca beberapa lembar kertas itu dan mempelajarinya dengan teliti sedangkan wanita muda itu tetap berdiri dengan sopan di depannya.
"Jadi soal ini, oke aku saja yang memimpin rapat direksi" ucap Sean Arthur dengan ramah sambil menutup kembali map tersebut.
"Baik Bos jika demikian saya pamit dulu untuk menyiapkan semuanya" ucap wanita muda itu dengan hormat sambil kemudian meninggalkan Sean Arthur sendirian kembali di ruangan kerjanya.
"Ternyata tiga perusahaan kecil itu memiliki hampir seribu karyawan dan sudah sepantasnya mereka bekerja kembali tidak sampai kehilangan pekerjaan begitu saja hanya karena urusan pribadiku" ucap Sean Arthur sambil kemudian menyalakan sebatang rokoknya.
Ponselnya berdering dan langsung dia lihat ternyata Ardhi yang menghubunginya.
"Bos maaf saya masih di kota Garut semua urusan disini sudah selesai dan saya malam nanti berencana untuk kembali bersama dengan Intan" ucap Ardhi melalui panggilan telepon itu.
"Ardhi santai saja, saya sekarang di kantor kok dan sebentar lagi akan memimpin rapat direksi untuk membahas pembangunan perusahaan perusahaan baru sebagai ganti anak perusahaan yang aku bangkrutkan" ucap Sean Arthur dengan ramah melalui panggilan telepon itu.
"Iya Bos maaf saya lupa dengan adanya Rapat direksi itu, maaf merepotkan Bos" jawab Ardhi.
"Sudah tidak apa apa, lalu apakah kau sudah bertemu dengan keluarga Intan lainnya" ucap Sean Arthur Kembali.
"Sudah Bos, saya sudah mengenal mereka semua" jawab Ardhi.
"Lalu apakah kalian berdua sudah saling terikat" ucap Sean Arthur mencandai Ardhi.
"Sudah Bos meskipun kami baru saling mengenal namun kami saling suka satu sama lain dan mohon doa nya bos semoga saya dan Intan bisa sampai ke pernikahan" ucap Ardhi yang terdengar sangat berbahagia.
"Siap Bos pesan anda akan saya ingat dan barusan saya mendapatkan pesan singkat dari Alex meminta seratus miliar katanya untuk pembangunan rumah rumah di belakang vila kanan dan kiri, apakah dia sudah bilang ke Bos" ucap Ardhi kembali.
"Benar, jadi berikan saja lagi dan kirimkan seratus satu mobil dan seratus satu motor ke villa kanan, di villa kanan itu tim cyber ku dan sudah waktunya mereka memiliki kendaraan operasional untuk mereka atau keluarga mereka" ucap Sean Arthur.
"Baik Bos jika demikian saya akan berkoordinasi dengan Alex agar nanti dia saya yang menerima kendaraan kendaraan itu" Ucap Ardhi.
"Oke lanjutkanlah liburan mu, aku akan ke ruang rapat dulu" ucap Sean Arthur sambil mematikan panggilan telepon itu dan langsung menyalakan sebatang rokoknya lagi sambil bersandar di kursi kerjanya yang sangat empuk dan nyaman.
"Sepertinya rumah ku akan sangat ramai dan dengan seperti ini aku akan merasakan kehangatan keluarga yang selalu aku inginkan, semoga saja kedamaian selalu bisa ku jaga" ucap Sean Arthur berbicara sendiri sambil menikmati rokoknya itu.
Lima menit lagi sebelum rapat direksi itu di mulai dan Sean Arthur kemudian mematikan rokoknya lalu membawa ponselnya dan menuju ke ruang rapat direksi yang ada di bawah lantai ruang kerjanya.
Sean Arthur memasuki lift khususnya dan keluar langsung di depan ruang rapat khusus direksi lalu memasukinya.
Dua puluh orang menyambut kedatangannya dengan membungkukkan badan mereka sebagai penghormatan kepada Sean Arthur dan Sean Arthur langsung duduk di kursinya dan memulai rapat direksi itu.
"Oke kita mulai, ceritakan kepadamu masalahnya" ucap Sean Arthur setelah duduk di kursinya di ikuti oleh dua puluh orang yang merupakan para pimpinan perusahaan Sean Arthur.
"Lapor Bos besar seperti yang anda ketahui jika tiga perusahaan kita yang bergerak di bidang periklanan semuanya di nyatakan bangkrut dan ada hampir seribu orang yang saat ini di rumahkan, jadi kami menggelar rapat direksi ini untuk memutuskan nasib para karyawan disana" ucap salah seorang pria sepuh yang duduk di depan samping kanan Sean Arthur dengan sangat hormat.
"Kami berencana membangun perusahaan baru sebagai ganti perusahaan kecil itu namun semua gedung kita sudah penuh kemungkinan kita masih akan menggunakan bangunan lama ketiga perusahaan kecil itu saja dengan memakai nama perusahaan yang baru." Ucap pria sepuh lainnya.
"Ketiga perusahaan kecil kita itu hanya sedikit saja memberikan kontribusi kepada kita dan memang kurang berkembang apakah tetap kita mereka di bidang periklanan?" Ucap yang lainnya.
"Jika menurut saya masih di bidang periklanan namun keputusan ada sama bos besar" ucap pria sepuh yang pertama berbicara dan semuanya kini menunggu keputusan Sean Arthur.
"Aku sudah membaca kinerja ketiga perusahaan itu dan aku memutuskan untuk mereka tetap bekerja di bidang yang sama di gedung lama mereka namun berikan nama baru saja untuk mereka segera urus surat surat dan perizinannya, berikan mereka job Job baru agar mereka bisa segera efektif, ingat aku tidak suka pemutusan hubungan kerja dengan karyawan yang setia kepadaku jadi aku harap kalian bisa segera mengaktifkan kembali ketiga perusahaan itu. Namun jangan sampai ketiga perusahaan itu menjual saham mereka lagi, cukup kita saja sebagai pemilik tunggal ketiga perusahaan itu aku ras keuangan perusahaan kita sudah cukup bukan" ucap Sean Arthur sambil tersenyum hangat ke mereka semua.
"Baik Bos Besar jadi di putuskan jika ketiga perusahaan itu akan berdiri kembali dengan kita sebagai pemilik tunggal untuk ketiga perusahaan itu" ucap Pria sepuh itu dengan sangat hormat.
"Aku minta hentikan penjualan saham saham perusahaan kita selama satu tahun dan fokuskan untuk mulai membersihkan diri dari para pemegang saham perusahaan yang merupakan anggota geng serigala, satu grup serigala memiliki sepuluh persen saham anak perusahaan kita yang bangkrut itu dan delapan puluh saham berarti di miliki oleh geng serigala dan hal ini sungguh di luar dugaan kita bukan, aku tidak ingin hal ini terjadi lagi jadi beli lagi saham saham perusahaan kita yang dimiliki oleh mereka apakah kalian mengerti maksud ku" ucap Sean Arthur dengan ramah namun terdengar sangat tegas.